
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</p>
<p>“<em>Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk</em>.” (QS. An-Nahl: 98).</p>
<p>Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya pujian, pujian yang  sebaik-baiknya lagi diberkahi. Segala pujian bagi Allah, Zat yang  menyeru hamba-Nya menuju pintu-pintu rahmat-Nya, yang memberi kenikmatan  dengan menurunkan al-Quran, di dalamnya terdapat petunjuk tatanan  kehidupan yang damai dan sejahtera di dunia, dan menjanjikan sebuah  kepastian kenikmatan yang sempurna di alam akhirat. Kita memuji-Nya atas  kenikmatan-Nya yang banyak, juga atas petunjuk dan kemudahan jalan  meraihnya dengan kitab-Nya, semoga kita termasuk orang-orang yang  dijanjikan akan meraih kesempurnaan kenikmatan-Nya. Sesungguhnya,  membaca al-Quran adalah amalan yang memiliki keutamaan sangat besar.  Mereka para pembaca al-Quran adalah kaum yang terpuji, di mana Allah  memuji mereka dengan firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ  الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا  مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن  تَبُورَ<br> لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan  mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami  anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka  itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah  menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka  dari karunia-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha  Mensyukuri.</em>” (QS. Fathir: 29-30).</p>
<p>Ada beberapa adab membaca al-Quran, namun tidak akan kita bahas  semuanya, hanya terfokus pada firman Allah dalam Surat an-Nahl ayat 98  di atas saja, yaitu perintah ber-<em>isti’adzah</em>, berlindung kepada Allah  dari godaan setan saat hendak membacanya. Sekelumit tentang berlindung  kepada Allah dari setan serta hal-hal terkait dengannya akan kita  sajikan di sini pada edisi kali ini, semoga Allah memudahkannya dan  memberkahinya. <em>Amin</em>.</p>
<p>Penjelasan Kata-kata</p>
<p>اَلْقُرْآنَ : ialah <em>kalam</em> (firman) Allah, yang diturunkan  dari sisi-Nya ke dalam dada Rasul-Nya, penutup para nabi dan rasul,  Muhammad, yang diawali dengan Surat al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat  an-Nas (<em>Ushulun fit Tafsir,</em> Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).</p>
<p>فَاسْتَعِذْ : ber-<em>isti’adza</em>h-lah kepada Allah, yaitu membaca “<em>at-ta’awwudz</em>”, kalimat berlindung kepada Allah dari godaan setan.</p>
<p>اَللَّهِ : ialah <em>lafzhul jalalah</em>, yaitu sebuah nama khusus  bagi Zat yang berhak dipertuhankan oleh segala sesuatu dan yang berhak  diibadahi oleh seluruh makhluk-Nya (<em>Taisirul Karimir Rahman</em>, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dan <em>Tafsir ath-Thabari</em>, 1/67), di antaranya sebab Ia adalah Zat yang bersifat melindungi hamba-Nya.</p>
<p>مِنَ الشَّيْطَانِ : dari setan, yaitu dari Iblis dan anak  keturunannya serta pengikut-pengikutnya baik dari golongan jin, manusia  maupun golongan binatang (<em>Tafsir ath-Thaba</em>ri, 1/57).</p>
<p>اَلرَّجِيْمِ : yang dilaknat, berarti yang dihalangi dan dijauhkan dari rahmat Allah.</p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Makna umum ayat</strong></span></p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan agar siapa saja yang hendak  membaca al-Quran, di mana ia merupakan semulia-mulianya dan  seagung-agungnya kitab, di dalamnya terdapat kebaikan hati, ilmu  pengetahuan agama yang sangat banyak, hendaknya berlindung kepada Allah  dari godaan setan dengan ber-<em>isti’adzah</em>. Sebab setan itu sangat  kuat kemauannya untuk berusaha sekuat daya upayanya memalingkan hamba  dari maksud-maksud dan tujuan-tujuan baiknya ketika ia hendak memulai  melakukan amalan-amalan yang utama.</p>
<p>Dan sebagaimana diketahui bahwa membaca al-Quran merupakan amalan  yang utama, sehingga jalan keselamatan terhindar dari godaan setan dan  kejahatannya adalah dengan bersandar kepada Allah, serta ber-<em>isti’adzah </em>meminta  perlindungan kepada Allah dari kejahatannya. Sehingga Allah pun  mensyariatkan agar seorang pembaca al-Qur’an hendaknya meminta  perlindungan dengan melafazhkan <em>isti’adza</em>h, disertai <em>tadabbur </em>maknanya,  tulus hati bersandar kepada Allah agar tidak dipalingkan hatiya oleh  setan dari amalan utamanya tersebut. Disertai kesungguhan dalam usaha  menolak was-was serta pikirannya yang hina, bersungguh-sungguh  mengerahkan sarana apa saja yang paling kuat sehingga memungkinkan untuk  menepis godaannya, dan sarana tersebut adalah dengan berhias diri  dengan perhiasan iman dan<em> tawakkal</em> kepada Allah semata (<em>Taisirul Karimir Rahman</em>, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di).</p>
<p><strong>Lafazh-lafazh<em> isti’adzah</em></strong></p>
<p>Lafazh <em>isti’adzah</em> disebut juga <em>at-ta’awwudz</em>, dan di masyarakat kita istilah “ber-<em>ta’awwudz</em>” lebih dikenal dari pada “ber-<em>isti’adzah</em>”, namun keduanya sama saja dan tidak berbeda maksudnya, yaitu sama-sama bermaksud ber-<em>isti’adzah</em>. Di antara lafazh<em> isti’adzah</em> atau <em>at-ta’awwudz</em> adalah ucapan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ</p>
<p>“<em>Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.</em>“</p>
<p>Lafazh <em>isti’adzah</em> atau <em>at-ta’awwudz </em>seperti itu merupakan lafazh <em>isti’adzah</em> yang dipegangi dan dikuatkan oleh jumhur (mayoritas) ulama, mereka  beralasan lafazh tersebut merupakan lafazh Kitabullah, al-Qur’an,  seperti yang jelas terdapat dalam Surat an-Nahl ayat 98 tersebut  (sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Qurthubi dalam <em>Tafsir</em>-nya 1/62, dan juga oleh ulama ahli tafsir lainnya).</p>
<p>Ada lafazh <em>isti’adzah</em> yang lain, ialah ucapan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ</p>
<p>“<em>Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya</em>.”</p>
<p>Atau lafazh lain yang semisal dengan lafazh tadi hanya ditambah nama di antara nama-nama Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ</p>
<p>“<em>Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaan dan  kesombongannya, serta dari syair-syairnya.</em>” (Tentang lafazh <em>isti’adzah</em> ini lihatlah <em>al-Jami’ li Ahkamil Qur’an</em> oleh Imam al-Qurthubi 1/62, <em>Tafsirul Qur’an al-Azhim</em> oleh Ibnu Katsir 1/111-113, <em>Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam</em> hal. 68 dan <em>Irwaul Ghalil</em>, 1/341 keduanya oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani.)</p>
<p><strong>Makna ber-<em>isti’adzah</em></strong></p>
<p>Ber-<em>isti’adzah</em> artinya adalah membaca salah satu dari lafazh-lafazh <em>isti’adzah</em> atau <em>at-ta’awwudz</em> di atas tatkala hendak membaca al-Quran atau dalam keadaan tertentu  yang seseorang berhajat kepada perlindungan Allah dari godaan setan.</p>
<p>Dan orang yang membaca <em>isti’adzah</em> atau ber-<em>ta’awwudz</em> berarti ia telah mengucapkan dengan lisannya, bahwa ia tengah memohon perlindungan kepada Allah, <em>Rabb</em>-nya dan <em>Rabb</em> segala sesuatu, Zat Yang Mahakuasa berbuat segala yang dikehendakinya,  Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, sesembahannya makhluk yang  dahulu maupun yang kemudian, dari kejahatan Iblis yang dijauhkan dan  tidak dirahmati oleh Allah, juga dari kejahatan bala tentaranya, baik  dari golongan jin maupun manusia (<em>Aisarut Tafasir</em>, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, 1/10-11).</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullahu ta’ala</em> dalam tafsirnya mengatakan, “Makna ber-<em>isti’adzah</em> adalah aku sandarkan diriku dengan berlindung kepada Allah supaya  dijauhkan dari setan yang terlaknat agar tidak berlaku jahat kepadaku  dalam agamaku maupun duniaku, dan agar ia tidak menghalangiku dari  melaksanakan apa yang aku diperintahkan, dan agar ia tidak mendorongku  untuk melakukan sesuatu yang aku dilarang atasnya, sebab setan itu tidak  ada yang kuasa menahannya selain Allah…” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 1/114).</p>
<p><strong>Ber-<em>isti’adzah</em> itu sebelum atau sesudah membaca al-Quran?</strong></p>
<p>Berkaitan dengan masalah membaca <em>ta’awwudz</em> saat membaca al-Quran, mungkin perlu dipertegas lagi kapankah seseorang itu ber-<em>isti’adzah</em>? Apakah sebelum ataukah sesudah membaca al-Quran?</p>
<p>Ayat nomor 98 dari Surat an-Nahl tersebut zhahirnya jelas sekali  menggunakan kata kerja masa lampau, coba kita cermati firman Allah  tersebut,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</p>
<p>Kita dapati pada ayat di atas kata kerja «قَرَأْتَ» yang menunjukkan  kata kerja bentuk lampau, yang artinya pekerjaannya telah usai. Sehingga  ayat di atas berarti “<em>apabila kamu telah usai membaca al-Qur’an…</em>” bukan “apabila kamu hendak membaca al-Qur’an…” bukan pula “apabila kamu sedang membaca al-Qur’an…”</p>
<p>Dari pemahaman zhahir ayat seperti inilah sebagian sahabat dan sebagian ulama berpendapat bahwa ber-<em>isti’adzah</em> itu dilakukan setelah membaca al-Quran, sebab <em>isti’adzah</em> itu untuk menyingkirkan<em> ‘ujub</em> setelah usai beribadah (<em>Tafsir al-Qur’an al-Azhim</em>, Ibnu Katsir 1/110-111 dan <em>Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an</em>,  Imam al-Qurthubi 1/63). Namun, pendapat ini lemah. Sebab, ini  berseberangan dengan hadits-hadits yang menerangkan praktik Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam ber-<em>isti’adzah</em>. Adapun yang<em> rajih </em>(kuat) adalah apa yang dipegangi oleh <em>jumhur</em> (mayoritas) ulama, yaitu bahwa ber-<em>ta’awwudz</em> itu sebelum membaca al-Quran.</p>
<p><em>Jumhur</em> ulama mengatakan bahwa <em>isti’adzah</em> itu guna untuk menyingkirkan was-was setan tatkala seseorang tengah beribadah, dan untuk itulah ber-<em>isti’adzah</em> adalah sebelum ia membaca al-Quran. Adapun makna ayat di atas kalimat «إِذَا قَرَأْتَ» itu bermakna “<em>apabila kamu telah berkehendak membaca</em>” sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala </em>dalam Surat al-Maidah ayat 6,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">… إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ …</p>
<p>Yang artinya secara zhahir: “<em>Apabila kamu telah tegak untuk mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu</em>”, itu bermakna “<em>apabila kalian sudah berkehendak untuk tegak menuju shalat</em>”. Ayat ini dimaknai demikian berdasarkan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang berjumlah cukup banyak, sehingga kuatlah pendapat jumhur ulama ini bahwa <em>isti’adzah</em> itu dibaca sebelum membaca al-Quran (sumber yang sama di atas).</p>
<p>Di antara hadits yang menerangkan bahwa <em>isti’adzah</em> itu sebelum membaca al-Quran adalah haditsnya Abu Said al-Khudri <em>radhiallahu anhu</em> yang ia mengatakan, “Adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, apabila shalat malam, beliau pun membaca <em>istiftah</em> (<em>iftitah</em>) dan bertakbir dengan membaca,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَاليَ جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ</p>
<p>“<em>Mahasuci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu, dan begitu melimpah  keberkahan nama-Mu, dan Maha Tinggi keagungan dan kebesaran-Mu, dan  tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain-Mu</em>.”</p>
<p>Lalu beliau mengucapkan (( لا إله إلا اللَّه )) tiga kali, kemudian beliau membaca,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ</p>
<p>“<em>Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan  kesombongannya, serta dari syair-syairnya.</em>”</p>
<p>Kemudian beliau membaca (( اللَّه أكبر )) tiga kali, kemudian membaca,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ</p>
<p>“<em>Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan  kesombongannya, serta dari syair-syairnya</em>.” (Sumber yang sama di atas, lihat juga catatan kaki no. 5, dan <em>Al-Fathur Rabbani</em>, Ahmad Abdurrahman al-Banna ,3/11/504)</p>
<p>Hadits tersebut dan hadits lain yang semakna dengannya, jelas menerangkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>itu ber-<em>isti’adzah</em> sebelum membaca Surat al-Fatihah, sebab doa <em>istiftah </em>itu dibaca oleh beliau sebelum membaca <em>isti’adzah</em>, dan tidak mungkin beliau membaca al-Fatihah sebelum membaca<em> istiftah</em>, artinya pastilah beliau membaca <em>isti’adzah</em> sebelum membaca al-Fatihah.</p>
<p>Keharusan berlindung kepada Allah dari godaan dan tipu daya setan (<em>Tafsir al-Qur’an al-Azhim</em>, Ibnu Katsir, 1/110).</p>
<p>Tidak jarang didapati adanya permusuhan antara satu orang dengan  orang lain. Dan ternyata permusuhan manusia itu tidak hanya terbatas  pada permusuhan antarmanusia itu sendiri, bahkan permusuhan mereka  dengan makhluk jenis lain yaitu setan. Setan jenis manusia lebih ringan  daripada setan jenis jin. Sehingga Allah-pun memerintahkan agar bersikap  pemaaf dan berlemah lembut dahulu menghadapi musuh dari jenis manusia.  Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ</p>
<p>“<em>Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh</em>.” (QS. Al-A’raf: 199).</p>
<p>Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menjadi  pemaaf, sebab dengan hal itu akan bisa diharapkan kembalinya seseorang  pada asal tabiatnya yang baik lagi menyayangi dan lapang dada.  Perhatikan juga firman Allah yang lain, misalnya yang tersebut dalam  al-Quran surat al-Mu’minun ayat 96, juga surat Fushshilat ayat 34-35,  maka akan semakin jelas bahwa Allah memerintahkan agar saling memaafkan  dan saling berbuat baik agar tercipta persaudaraan yang saling kasih dan  saling sayang.</p>
<p>Namun tidak demikian halnya perintah Allah dalam menghadapi setan  dari jenis jin, kita diperintah harus berlindung darinya kepada-Nya  semata, hanya itu perintah-Nya tidak ada yang lain. Sebab setan itu  tidak akan menerima perlakuan baik sekalipun, sedangkan ia tidak  menghendaki dari diri manusia selain kebinasaan semata. Hal ini sebab  besarnya permusuhan dan pertentangan antara dia dengan bapak manusia,  yaitu Adam alaihis salam, sejak di zaman dahulu kala. Sehingga Allah pun  memberi peringatan akan bahaya setan bagi manusia dengan firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا  بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم  مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا  سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ  تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ  يُؤْمِنُونَ</p>
<p>“<em>Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh  setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia  menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada  keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu  dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami  telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang  yang tidak beriman.</em>” (QS. Al-A’raf: 27).</p>
<p>Dalam ayat yang lain Allah juga memperingatkan kita, bahwa setan itu  adalah musuh bagi kita, maka kita diperintah harus menganggap sebagai  musuh. Di antara sebabnya adalah setan itu hanya mengajak golongannya  supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. Fathir: 6  dan al-Kahfi: 50).</p>
<p>Ayat-ayat di atas menegaskan tentang siapa itu setan bagi manusia,  maka Allah pun mewajibkan agar manusia berlindung kepada-Nya dari tipu  dayanya. Tidak lagi Allah perintahkan ramah-tamah atau yang lainnya  sebab hal itu tidak akan ada gunanya bagi setan. Memang sejak semula  setan hanya berkehendak jahat bagi manusia semuanya, ia berpura-pura  tampil sebagai seorang pemberi nasehat, namun ia pun dusta, sebab ia  hanya akan mencelakaan semata. Allah sebutkan dalam al-Quran dengan  firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ</p>
<p>Iblis menjawab, “<em>Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya</em>.” (QS. Shad: 82).</p>
<p><strong>Allah mengusir amarah dan setan dari orang yang ber-<em>isti’adzah</em></strong></p>
<p><em>Isti’adzah</em> memiliki keutamaan yang sangat besar. Cukuplah bagi kita dua hadits di bawah ini untuk mengetahui kebesaran dan kehebatan <em>isti’adzah</em> tersebut, yaitu untuk mengusir amarah, juga mengusir setan.</p>
<p>Imam al-Qurthubi <em>rahimahullahu ta’ala</em> dalam tafsirnya menyebutkan sebuah hadits (HR. Muslim, 2610 dan Bukhari, 6115, lihat <em>Tafsir al-Qurthub</em>i, 1/63 dalam <em>muqaddimah</em> dan <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>,  1/112-113), sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari  Sulaiman bin Shurad, ia mengatakan, “Ada dua laki-laki yang sedang  saling mencaci di sisi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka salah satu di antara keduanya pun marah, mukanya memerah, dan padamlah raut wajahnya, maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun memandanginya lalu beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ</p>
<p>“<em>Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ</p>
<p>‘<em>Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.’</em>”</p>
<p>Kemudian, ada seseorang yang mendengar sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tadi mendatangi salah seorang dari keduanya (yang saling mencaci,—red.)  lalu berkata, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tadi? Sungguh, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “<em>Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ</p>
<p>Maka, laki-laki tersebut pun mengatakan kepadanya, “Apakah menurutmu aku ini gila?”</p>
<p>Dalam hadits yang lain disebutkan oleh Imam Muslim dari sahabat Utsman bin Abil ‘Ash ats-Tsaqafi <em>rahimahullahu ta’ala</em>, bahwa dia mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan  mengadu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah datang dan  menggangguku dalam shalatku juga menggangguku dengan mengacaukan  bacaanku.” Maka, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلاَثًا</p>
<p>“<em>Itu adalah seorang setan yang disebut Khanzab, maka apabila kamu  merasakan kedatangannya berlindunglah kepada Allaoh (ber-ta’awwudz-lah)  darinya dan meludahlah ke kiri tiga kali</em>.”</p>
<p>Utsman pun mengatakan, “<em>Aku pun melakukannya, maka Allah pun mengusirnya dariku</em>.” (HR. Muslim, 2203).</p>
<p><em>Allahu Akbar, Wallahul Musta’an.</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://alghoyami.wordpress.com/">Ustadz Abu Ammar Al-Ghoyami</a><br> Artikel <a href="preview/1045/berlindung-dari-godaan-setan" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 