
<p>Anas bin Malik <em>radhiallahu ’anhu</em> menceritakan bahwa suatu  ketika -dia bersama Nabi sedang keluar dari Masjid- ada seorang Arab  Badui -di depan pintu masjid- yang berkata kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Kapankah hari kiamat terjadi?” Maka, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya, “<em>[Celaka kamu] Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapinya?</em>” Ia menjawab, “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Nabi bersabda, “<em>Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.</em>” Anas berkata, “<em>Tidaklah  kami merasa sangat bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan  yang lebih besar selain tatkala mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,  ‘Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.’ Maka aku mencintai  Allah, cinta Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar. Aku pun berharap akan  bersama mereka -di akherat- meskipun aku tidak bisa beramal seperti  amal-amal mereka.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/234-235], kata-kata dalam tanda kurung diambil dari riwayat Bukhari)</p>
<p> Hadits yang agung ini menyimpan berbagai pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<p> 1. Hadits ini menunjukkan keutamaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (<em>lihat Syarh Muslim</em> [8/234]).</p>
<p> 2. Bolehnya memberikan jawaban tidak sebagaimana yang diinginkan oleh  penanya, apabila jawaban yang diinginkan itu kurang bermanfaat/tidak  penting bagi si penanya.</p>
<p> 3. Keutamaan beriman kepada hari akhir, bahwa hal itu akan mendorong  manusia untuk mempersiapkan diri sebelum menghadapinya. Allah ta’ala  berfirman (yang artinya), “<em>Wahai orang-orang yang beriman  bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memperhatikan apa  yang sudah dipersiapkannya untuk menyambut hari esok.</em>” (QS.  Al-Hasyr: 18). Di antara buah keimanan kepada hari akhir adalah:  menumbuhkan semangat berbuat taat karena mengharapkan pahala di akhirat  serta memunculkan rasa takut berbuat maksiat karena khawatir tertimpa  siksaan di akherat (lihat <em>Nubdzatun fil ‘Aqidah</em>, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>, hal. 46).</p>
<p> 4. Hadits ini menunjukkan besarnya semangat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk menunjukkan kebaikan kepada umatnya, sehingga hal itu mendorong  beliau untuk mengalihkan jawaban pertanyaan itu kepada sesuatu yang jauh  lebih bermanfaat bagi si penanya.</p>
<p> 5. Hadits ini juga menunjukkan bahwa terkadang seseorang memandang  bahwa sesuatu itu penting baginya padahal sebenarnya bila dilihat dengan  kacamata syari’at maka tidak seperti yang dia sangka.</p>
<p> 6. Seorang yang memberikan jawaban atas pertanyaan hendaknya  mempertimbangkan maslahat dari jawaban yang diberikan olehnya bagi si  penanya.</p>
<p> 7. Bekal untuk menghadapi hari kiamat adalah keimanan, bukan dengan  semata-mata banyaknya harta, ketinggian pangkat, dan banyaknya  keturunan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), “<em>Pada hari itu tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.</em>” (QS. asy-Syu’ara’: 88-89).</p>
<p> 8. Kegembiraan yang dirasakan para sahabat dengan mendengar Sunnah Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p> 9. Kebahagiaan yang hakiki itu akan diperoleh bersama dengan Islam dan Sunnah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.</em>” (QS. Thaha: 123).</p>
<p> 10. Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami kalau kemuliaan  derajat manusia tidak diukur dengan materi atau parameter duniawi yang  lainnya, namun dengan iman dan amalnya. Oleh sebab itu Anas bin Malik  radhiyallahu’anhu menjadikan Abu Bakar dan Umar -dua orang terbaik  setelah Nabi- <em>radhiallahu’anhuma</em> sebagai sosok yang lebih dicintainya daripada yang selainnya.</p>
<p> 11. Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat mencintai sahabat yang lainnya karena keimanan dan amal soleh mereka.</p>
<p> 12. Hadits ini menunjukkan bahwa lafaz ‘<em>man</em>’ (<em>isim maushul</em>/kata sambung yang berarti ‘orang yang’) menunjukkan makna umum, mencakup siapa saja yang tercakup di dalamnya (lihat <em>al-Qawa’id al-Fiqhiyah</em> karya Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em>, hal. 46, <em>Syarh Ushul min Ilmi Ushul</em>, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>,  hal. 196-197). Demikianlah yang dipahami oleh para sahabat sebagai  orang Arab. Hal itu sudah bisa mereka pahami sebelum adanya bidang ilmu  khusus yang disebut dengan ilmu <em>ushul</em> atau <em>qawa’id fiqhiyah.</em> Dan ini merupakan salah satu pedoman berharga dalam madzhab salaf (lihat <em>Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah</em>, Muhammad Husain al-Jizani, hal. 422). Oleh sebab itu Anas bin Malik menanggapi sabda Nabi “<em>Kamu bersama dengan orang yang kamu cintai”</em> dengan ungkapan, “Maka aku mencintai Allah, cinta Rasul-Nya, Abu Bakar,  dan Umar.” Beliau tidak membatasinya kepada Allah dan Rasul saja.</p>
<p> 13. Hadits ini menunjukkan bahwa cinta yang sejati adalah kecintaan yang dilandasi kecintaan karena Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p> 14. Hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan yang bermanfaat itu  meliputi: [1] cinta kepada Allah -yang benar, bukan sekedar klaim-, [2]  mencintai apa yang Allah cintai, [3] cinta karena Allah (<em>hubb lillah wa fillah</em>) artinya mencintai orang karena ketaatannya (lihat <em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 97 dan <em>ad-Daa’ wa ad-Dawaa’,</em> hal. 214). Ibnul Qayyim berkata, “<em>Cinta  yang terpuji adalah cinta yang bermanfaat, yaitu kecintaan yang  mendatangkan manfaat bagi pemiliknya di dunia dan di akheratnya. Cinta  semacam inilah yang menjadi sinyal kebahagiaan. Adapun cinta yang  berbahaya adalah yang mendatangkan bahaya baginya di dunia dan di  akheratnya, dan itu merupakan sinyal kebinasaan dirinya.</em>” (<em>ad-Daa’ wa ad-Dawaa’</em>, hal. 229).</p>
<p> 15. Bolehnya mengatakan ‘Celaka kamu’ sebagai bentuk teguran (lihat Kitab <em>al-Adab dalam Shahih Bukhari</em> ,hal. 1263-1264)</p>
<p> 16. Keutamaan Umar bin Khattab<em> radhiallahu ’anhu</em> (lihat Kitab <em>Manaqib Umar bin Khattab</em> dalam <em>Shahih Bukhari</em> hal. 768-769). Hadits ini demikian juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiallahu ’anhu</em>.</p>
<p> 17. Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Bakar dan Umar –<em>radhiallahu ’anhuma</em>–  adalah orang-orang yang wajib dicintai, bukan dibenci atau bahkan  dicaci maki! Sehingga hadits ini merupakan salah satu bantahan bagi kaum  Syi’ah yang mencela para sahabat Nabi -terutama Abu Bakar dan Umar-  bahkan sampai mengkafirkan mereka… Maha Suci Allah dari kotornya akidah  mereka…</p>
<p> 18. Orang yang bijak adalah yang bisa mengakui keutamaan orang lain  atas dirinya. Sebagaimana Anas bin Malik mengakui keutamaan Abu Bakar  dan Umar, semoga Allah meridhai mereka semua.</p>
<p> 19. Hadits ini menunjukkan tidak adanya rasa <em>hasad</em>/dengki pada diri para sahabat satu dengan yang lainnya, bahkan mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah.</p>
<p> 20. Bukti kecintaan kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (yang artinya), “<em>Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku.</em>” (QS. Ali Imran: 31) (lihat <em>Kitab al-Adab</em> dalam <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1265).</p>
<p> 21. Bolehnya memberikan keputusan hukum atau fatwa ketika sedang berada  di tengah jalan (lihat Kitab al-Ahkam dalam Shahih Bukhari hal. 1428).</p>
<p> 22. Kehidupan di alam dunia ini adalah perjalanan menuju kematian, maka  semestinya setiap orang mempersiapkan bekalnya untuk menghadapi  kehidupan setelah kematian. Dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Oleh  sebab itu Allah siapkan surga bagi hamba yang bertakwa.</p>
<p> Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Ustadz Ari Wahyudi, S.Si</a><br> Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 