
<p>Bersedekah tidak mesti banyak, yang penting adalah ikhlas dan halal.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ</p>
<p>“<em>Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu</em>.” (HR. Muslim, no. 1014).</p>
<p>Akibat jelek dari makanan dan pekerjaan yang haram adalah <a href="https://rumaysho.com/2256-tidak-terkabulnya-doa-bisa-jadi-sebagai-hukuman.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong><span style="color: #000000;">doa sulit terkabul</span></strong></a>. Dalam hadits disebutkan tentang seorang musafir yang sudah dalam keadaan benar-benar memohon kepada Allah sambil mengangkat tangannya, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</p>
<p>“<em>Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?</em>” (HR. Muslim, no. 1014)</p>
<p><strong>Mengenai sedekah dengan harta haram, maka bisa ditinjau dari tiga macam harta haram berikut:</strong></p>
<p>1- Harta yang haram secara zatnya. Contoh: khamar, babi, benda najis. Harta seperti ini tidak diterima sedekahnya dan wajib mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya atau dimusnahkan.</p>
<p>2- Harta yang haram karena berkaitan dengan hak orang lain. Contoh: HP curian, mobil curian. Sedekah harta semacam ini tidak diterima dan harta tersebut wajib dikembalikan kepada pemilik sebenarnya.</p>
<p>3- Harta yang haram karena pekerjaannya. Contoh: <a href="https://rumaysho.com/2964-bagaimana-penyaluran-harta-riba.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">harta riba</a>, harta dari hasil dagangan barang haram. Sedekah dari harta jenis ketiga ini juga tidak diterima dan wajib membersihkan harta haram semacam itu. Namun apakah pencucian harta seperti ini disebut sedekah? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Intinya, jika dinamakan sedekah, tetap tidak diterima karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ</p>
<p>“<em>Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)</em>.” (HR. Muslim, no. 224). Ghulul yang dimaksud di sini adalah harta yang berkaitan dengan hak orang lain seperti harta curian. (HR. Muslim no. 1014). Lihat <em>Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar</em>, hlm. 92-93.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca Juga:</span></strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/21165-zainal-abidin-cicit-nabi-dengan-sedekah-rahasianya.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="font-size: 12pt;">Zainal Abidin (Cicit Nabi) dengan Sedekah Rahasianya</span></strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/21812-hadits-arbain-26-tiap-hari-mesti-bersedekah.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="font-size: 12pt;">Hadits Arbain #26: Tiap Hari Mesti Bersedekah</span></strong></span></a></li>
</ul>
<h4 style="text-align: center;"><strong>Referensi:</strong></h4>
<p><em>Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir</em>. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramadhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm.</p>
<p><em>Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar.</em>Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.</p>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
 