
<p><b>Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz </b><b><i>rahimahullahu Ta’ala</i></b></p>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Apakah obat bagi orang yang berbuat maksiat, kemudian bertaubat, namun kembali lagi berbuat maksiat?</p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p>Menjadi sebuah keharusan untuk bersungguh-sungguh (melawan) diri sendiri (hawa nafsu atau syahwat) untuk konsisten di atas kebenaran dan istiqamah dalam bertaubat. Karena sesungguhnya jiwa manusia membutuhkan kesungguhan (jihad). Allah<i> Ta’ala</i> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><b>وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ</b></p>
<p><i>“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri.” </i><b>(QS. Al-‘Ankabuut [29]: 6)</b></p>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> juga berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><b>وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</b></p>
<p><i>“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” </i><b>(QS. Al-‘Ankabuut [29]: 69)</b></p>
<p>Makna firman Allah <i>Ta’ala</i>, <i>“berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami” </i>adalah berjihad melawan dirinya sendiri, orang-orang kafir, munafik atau berjihad melawan pelaku kemaksiatan dan setan. Ayat tersebut mencakup seluruh makna jihad, termasuk di dalamnya jihad melawan dirinya sendiri (hawa nafsu). Karena dalam ayat tersebut Allah <i>Ta’ala</i> tidak menegaskan siapa atau apa objek jihad yang dimaksud, sehingga mencakup seluruh makna jihad.</p>
<p>Oleh karena itu, jiwa (hawa nafsu) manusia membutuhkan tarbiyah (pendidikan dan latihan), perhatian, kesabaran, dan jihad. Hal ini sebagaimana ungkapan penyair,</p>
<p style="text-align: right;"><b>وما النفس إلا حيث يجعلها الفتى فإن أطمعت تاقت وإلا تسلت</b></p>
<p><i>Nafsu itu bergantung pada perlakuan sang pemuda. Jika diberi nutrisi, dia akan menjadi baik. Jika tidak, dia akan menjadi liar.</i></p>
<p style="text-align: right;"><b>والنفس راغبة إذا رغبتها وإذا ترد إلى قليل تقنع</b></p>
<p><i>Nafsu semakin menjadi, jika engkau melayaninya. Jika engkau menghasungnya, niscaya dia akan terbiasa.</i></p>
<p style="text-align: right;"><b>والنفس كالطفل إن تهمله شب على حب الرضاع وإن تفطمه ينفطم</b></p>
<p><i>Nafsu layaknya bayi. Jika engkau membiarkannya, niscaya dia akan tetap menyusu sampai besar. Namun, jika disapih, niscaya dia berhenti menyusu.</i></p>
<p>Tiga bait ini sangatlah indah dan sesuai dengan keadaan jiwa manusia. Seorang mukmin yang kuat adalah mereka yang berjihad melawan dirinya sendiri karena Allah <i>Ta’ala</i>, sehingga mereka istiqamah di atas jalan kebenaran dan senantiasa memperhatikan batasan-batasan (syariat). Dengannya, Allah <i>Ta’ala </i>akan memberikan hidayah kepada jalan-Nya yang teguh dan lurus. Sehingga pada akhirnya, orang-orang beriman tersebut akan dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat ihsan (muhsin), sebagaimana firman Allah <i>Ta’ala</i>,</p>
<p style="text-align: right;"><b>وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</b></p>
<p><i>“Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” </i><b>(QS. Al-‘Ankabuut [29]: 69)</b></p>
<p>Dan juga firman Allah <i>Ta’ala</i>,</p>
<p style="text-align: right;"><b>إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ</b></p>
<p><i>“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” </i><b>(QS. An-Nahl [16]: 128)</b></p>
<p>Dan Allah Maha pemberi taufik.</p>
<p>***</p>
<p>Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL 10 Muharram 1439 H/1 Oktober 2017</p>
<p>Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,</p>
<p>Penerjemah: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">Muhammad Saifudin Hakim</a><br>
Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p>Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatawa/285</p>
 