
<h1><b>Bolehkah Ayah Mencium Anak Perempuannya yang Sudah Dewasa? </b></h1>
<p><em><b>Pertanyaan:</b></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Apakah dibolehkan bagi seorang ayah mencium anak perempuannya yang sudah dewasa?</span></em></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hukum asalnya boleh saja. Karena anak dan ayah termasuk mahram, sehingga boleh saja bersentuhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ini pernah dilakukan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> terhadap Fatimah putri beliau, </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dalam hadis dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ما رأَيْتُ أحدًا كان أشبهَ سمتًا وهَدْيًا ودَلًّا . والهدى والدال ، برسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم من فاطمةَ كرَّمَ اللهُ وجَهْهَا ؛ كانت إذا دخَلَتْ عليه قام إليها ، فأخَذَ بيدِها وقبَّلَها وأَجْلَسَها في مجلسِه ، وكان إذا دخَلَ عليها قامت إليه ، فأَخَذَتْ بيدِه فقَبَّلَتْه وأَجَلَسَتْه في مجلسِها</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Aku tidak pernah melihat seseorang yang mirip dengan Rasulullah dalam masalah akhlak, dalam memberi petunjuk, dan dalam berdalil, melebihi Fatimah -semoga Allah memuliakan wajahnya-. Jika Fatimah datang menemui Rasulullah, maka Rasulullah pun berdiri, meraih tangannya, menciumnya dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika Rasulullah datang menemuinya, maka Fatimah pun meraih tangan beliau, menciumnya dan mendudukkannya di tempat duduknya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Abu Daud no. 5217, dishahihkan Al-Albani dalam</span><i><span style="font-weight: 400;"> Shahih Abu Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga pernah dilakukan Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap putri beliau, Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anha.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dari Al-Barra’ bin ‘Adzib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">فَدَخَلْتُ مع أبِي بَكْرٍ علَى أهْلِهِ، فإذا عائِشَةُ ابْنَتُهُ مُضْطَجِعَةٌ قدْ أصابَتْها حُمَّى، فَرَأَيْتُ أباها فَقَبَّلَ خَدَّها وقالَ: كيفَ أنْتِ يا بُنَيَّةُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Aku masuk ke rumahnya Abu Bakar bersama beliau. Ketika itu, ada putri beliau, Aisyah, sedang berbaring di tempat tidur karena sakit demam. Maka aku melihat Abu Bakar mencium pipinya Aisyah dan Abu Bakar berkata: bagaimana kabarmu wahai putriku?” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Al Bukhari no. 3917).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini semua menunjukkan bolehnya ayah mencium pipi anak putrinya yang sudah dewasa atau sebaliknya, anak wanita mencium pipi ayahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan kebolehan mencium anak perempuan jika aman dari fitnah, ada pengecualiannya. Yaitu tidak boleh mencium di bibirnya, karena ini khusus untuk suami atau istri saja. Ibnu Muflih </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ولكن لا يفعله على الفم أبدا , الجبهة أو الرأس</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Namun tidak boleh sama sekali mencium (para wanita yang merupakan mahram) di bibir mereka. Hendaknya mencium kening atau kepala mereka” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Adabus Syar’iyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/256).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika ada potensi timbulnya fitnah (godaan syahwat), maka mencium anak perempuan yang sudah dewasa hukumnya menjadi haram bagi sang ayah, demikian juga sebaliknya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Hijawi</span><i><span style="font-weight: 400;"> rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ولا بأس للقادم من سفر بتقبيل ذوات المحارم إذا لم يخف على نفسه </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak mengapa orang yang datang dari safar mencium para wanita yang merupakan mahramnya, jika tidak khawatir pada dirinya (terkena fitnah)” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Iqna</span></i><span style="font-weight: 400;">‘, 3/156).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Musthafa Al-Adawi menjelaskan, “Dibolehkan anak perempuan mencium ayahnya atau ayah mencium anak perempuannya, jika aman dari fitnah (godaan syahwat). Adapun jika berpotensi menimbulkan fitnah (godaan syahwat) maka Allah tidak menyukai semua bentuk kerusakan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fiqhu at-Ta’amul ma’al Walidayn</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 113).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang beliau maksud adalah ayat:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan Allah tidak menyukai semua bentuk kerusakan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. al-Baqarah: 205).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian, </span><i><span style="font-weight: 400;">wallahu a’lam.</span></i></p>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 