
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika saat berpuasa bolehkah bekam dan donor darah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan (rukhsoh) bagi orang yang berpuasa untuk mencium istrinya dan berbekam.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukhari membawakan Bab ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Bekam dan Muntah bagi Orang yang Berpuasa</span></i><span style="font-weight: 400;">’. Beliau membawakan beberapa riwayat, di antaranya :</span></p>
<p><b>[Riwayat pertama]</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَيُرْوَى عَنِ الْحَسَنِ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مَرْفُوعًا فَقَالَ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Al Hasan dari beberapa sahabat secara marfu’ (sampai pada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">). Beliau berkata, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Orang yang melakukan bekam dan yang dibekam batal puasanya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” [Hadits ini juga dikeluarkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Irwa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 931 mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">]</span></p>
<p><b>[Riwayat kedua]</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتَجَمَ ، وَهْوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهْوَ صَائِمٌ .</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berbekam dalam keadaan berihrom dan berpuasa.</span></p>
<p><b>[Riwayat ketiga]</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>يُسْأَلُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ – رضى الله عنه – أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الْحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ قَالَ لاَ . إِلاَّ مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anas bin Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiga riwayat di atas adalah riwayat yang shohih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut jumhur (mayoritas ulama) yaitu Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, </span><b>berbekam tidaklah membatalkan puasa</b><span style="font-weight: 400;">. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, Abu Sa’id Al Khudri dan sebagian ulama salaf.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara alasan bahwa bekam tidaklah membatalkan puasa :</span></p>
<p><b>[Alasan pertama]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Boleh jadi hadits yang menjelaskan batalnya orang yang melakukan bekam dan dibekam adalah hadits yang telah dimansukh (dihapus) dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>رَخَّصَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ وَالْحِجَامَةِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan (rukhsoh) bagi orang yang berpuasa untuk mencium istrinya dan berbekam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ad Daruquthni, An Nasa’i dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Kubro</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan Ibnu Khuzaimah)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ad Daruqutni mengatakan bahwa semua periwayat dalam hadits ini tsiqoh/terpercaya kecuali Mu’tamar yang meriwayatkan secara </span><i><span style="font-weight: 400;">mauquf –</span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu hanya sampai pada sahabat-. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Irwa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (4/74) mengatakan bahwa semua periwayat hadits ini tsiqoh/terpercaya, akan tetapi dipersilihkan apakah riwayatnya </span><i><span style="font-weight: 400;">marfu’</span></i><span style="font-weight: 400;"> –sampai pada Nabi- atau </span><i><span style="font-weight: 400;">mawquf</span></i><span style="font-weight: 400;"> –sampai sahabat-.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hazm mengatakan, “Hadits yang menyatakan bahwa batalnya puasa orang yang melakukan bekam dan orang yang dibekam adalah hadits yang shohih –tanpa ada keraguan sama sekali-. Akan tetapi, kami menemukan sebuah hadits dari Abu Sa’id : “</span><i><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan (rukhsoh) bagi orang yang berpuasa untuk berbekam</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Sanad hadits ini shohih. Maka wajib bagi kita untuk menerimanya. Yang namanya </span><i><span style="font-weight: 400;">rukhsoh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (keringanan) pasti ada setelah adanya </span><i><span style="font-weight: 400;">‘azimah </span></i><span style="font-weight: 400;">(pelarangan) sebelumnya. Hadits ini menunjukkan bahwa hadits yang menyatakan batalnya puasa dengan berbekam (baik orang yang melakukan bekam atau orang yang dibekam) adalah hadits yang telah dinaskh (dihapus).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah membawakan pernyataan Ibnu Hazm di atas, Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Irwa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (4/75) mengatakan, “Hadits semacam ini dari berbagai jalur adalah hadits yang shohih –tanpa ada keraguan sedikitpun-. Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa hadits yang menyatakan batalnya puasa karena bekam adalah hadits yang telah dihapus (dinaskh). Oleh karena itu, wajib bagi kita mengambil pendapat ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hazm </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> di atas.”</span></p>
<p><b>[Alasan Kedua]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pelarangan berbekam ketika puasa yang dimaksudkan dalam hadits adalah bukan pengharaman. Maka hadits: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Orang yang melakukan bekam dan yang dibekam batal puasanya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah kalimat majas. Maksudnya adalah bahwa orang yang membekam dan dibekam bisa terjerumus dalam perkara yang bisa membatalkan puasa. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdur Rahman bin Abi Layla dari salah seorang sahabat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحِجَامَةِ وَالْمُوَاصَلَةِ وَلَمْ يُحَرِّمْهُمَا إِبْقَاءً عَلَى أَصْحَابِهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berbekam dan puasa wishol –namun tidak sampai mengharamkan-, ini masih berlaku bagi sahabatnya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Abu Daud no 2374. Hadits ini tidaklah cacat, walaupun nama sahabat tidak disebutkan. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">.)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits di atas menunjukkan bahwa bekam dimakruhkan bagi orang yang lemah jika dibekam. Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dalam shohih Bukhari dari Anas bin Malik sebagaimana telah disebutkan di atas.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الْحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ قَالَ لاَ . إِلاَّ مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Anas mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari no. 1940)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan dua alasan di atas, maka pendapat mayoritas ulama dinilai lebih kuat yaitu bekam tidaklah membatalkan puasa. Akan tetapi, bekam dimakruhkan bagi orang yang bisa jadi lemas karena berbekam. Dan boleh jadi juga diharamkan jika hal itu menjadi sebab batalnya puasa orang yang dibekam. Hukum ini berlaku juga untuk donor darah. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/232-hukum-memberi-upah-pada-tukang-bekam.html"><strong>Hukum Memberi Upah pada Tukang Bekam</strong></a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/751-upah-bekam-itu-khobits-jelek.html"><strong>Upah Bekam itu Khobits (Jelek)</strong></a></span></li>
</ul>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><strong>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><strong>Artikel https://rumaysho.com</strong></p>
 