
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em>, Ustadz. Pada saat khotbah jumat, khatib membaca,</p>
<p><em>“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ….”</em></p>
<ol>
<li>Apakah jamaah Jumat wajib membalas bacaan shalawat khatib karena setelah khatib naik mimbar jamaah diperintahkan untuk diam dan mendengarkan?</li>
<li>Bolehkah membalas bacaan shalawat dengan “<em>Allahumma shalli ‘alaih</em>” atau “<em>Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyina Muhammad</em>“?</li>
<li>Shalawat minimal 10 kali pada pagi hari dan 10 kali pada petang dengan bacaan “A<em>llahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyina Muhammad</em>” (saya lupa yang meriwayatkannya) apakah sudah mencukupi?</li>
</ol>
<p><em>Jazakumullahu khairan katsira</em> (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan yang banyak).</p>
<p>Herbono Utomo.</p>
<p><strong><!--more-->Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini: ada yang melarang dan ada yang memperbolehkan dengan suara pelan.</p>
<p>Pendapat kedua (boleh membaca shalawat dengan pelan) merupakan pendapat yang dipilih Mazhab Hambali dan dianggap kuat oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Inilah pendapat yang lebih kuat, dengan alasan:</p>
<ol>
<li>Membaca shalawat dengan pelan tidak mengganggu kegiatan mendengarkan khotbah, sehingga dengan bershalawat akan mendapatkan dua amal sekaligus, yaitu bershalawat dan mendengar khotbah.</li>
<li>Membaca shalawat termasuk bentuk pengamalan perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Mengamalkan perintah, selagi tidak mengganggu perintah yang lain, mungkin saja untuk dilaksanakan secara bersamaan.</li>
</ol>
<p><em>wallahu a’lam.</em></p>
<p>Dijawab oleh Dewan Pembina Konsultasi Syariah.<br>
Artikel www.KonsultasiSyariah.com</p>
 