
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah hukum permainan/olahraga catur?<br>
<!--more--><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Catur bukan termasuk olahraga, tetapi termasuk permainan yang melalaikan pelakunya, mengakibatkan kecanduan, menghalangi pelakunya dari perkara yang wajib, menyia-nyiakan waktu, serta melalaikan diri dari keluarga.</p>
<p>Madharat permainan catur lebih besar daripada permainan dadu. Padahal, permainan dadu telah diharamkan, sebagaimana dalam satu hadits,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَكَأَنَّمَا غَمَسَ يَدَهُ فِيْ لَحْمِ خِنْزِيْرٍ وَدَمِهِ</p>
<p><em>“Barangsiapa bermain dadu, maka dia seperti memasukkan tangannya ke daging babi dan darahnya.”</em><br>
(HR. Abu Daud no. 4939, dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani)</p>
<p>Dalam hadits yang lain Nabi bersabda (yang artinya),</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ</p>
<p><em>“Barangsiapa bermain dadu, maka dia telah berbuat maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.” </em>(HR. Abu Daud no. 4938, dan dihasankan oleh Syekh al-Albani)</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa madharat bermain catur lebih besar daripada bermain dadu, sehingga (permainan) catur adalah permainan yang haram sebagaimana (permainan) dadu juga permainan yang haram.</p>
<p>Ibnu Umar mengatakan, “(Permainan) catur lebih jahat dari permainan dadu.” Demikian juga, keharaman permainan catur telah disampaikan oleh mayoritas sahabat, seperti Abu Musa al-As’ari, Ali bin Abi Thalib, Abu Sa’id al-Khudri, dan lainnya. (lihat a<em>l-Mubdi’ fi Syarh al-Muqmi’</em>: 10/233)</p>
<p>Keharaman (permainan) catur dan dadu juga difatwakan oleh para ulama masa kini, seperti Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dan al-Albani. (lihat<em> Hukmu as-Syar’ fi La’bil Waraq</em>, hlm. 43)</p>
<p>Majalah Al-Furqon, edisi 11, tahun ke-6, 1428 H/2007 M.<br>
(Dengan pengubahan aksara dan tata bahasa seperlunya oleh www.konsultasisyariah.com)</p>
 