
<p><b>Soal:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah saya boleh membaca (cerita seks) atau melihat gambar porno sebelum melakukan hubungan intim suami istri, dengan tujuan untuk membangkitkan syahwat, karena saya tidak mendapatkan kelezatan dalam hubungan intim suami istri kecuali dengan cara itu.</span></p>
<p><b>Jawab:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak boleh melihat gambar porno dan aktifitas seks tersebut, (meskipun) dengan alasan agar bisa merangsang dan  membangkitkan syahwat untuk melakukan hubungan intim (suami istri). Dalam perbuatan tersebut terdapat perbuatan menyaksikan dosa (tanpa mengingkarinya, pent.), melihat aurat orang lain, serta melihat zina yang Allah dan Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sangat) benci. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi (dalam kasus di atas), melihat adegan-adegan seks tersebut tidak boleh sama sekali. Adapun masalah membaca cerita seks, maka ini (adalah suatu keburukan juga, namun) lebih ringan keburukannya dibandingkan dengan melihat foto porno tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi meskipun demikian, membaca cerita seks merupakan bagian dari langkah-langkah setan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan cerita-cerita seks itu tidaklah kosong dari (dua kemungkinan),</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Bisa jadi menceritakan tentang (seks) para pezina laki-laki ataupun perempuan, dan ini adalah perkara yang diharamkan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Bisa jadi pula, menceritakan tentang pasangan suami istri (pasutri) tertentu yang mengabarkan tentang aktifitas seks mereka, maka inipun termasuk dalam sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">,<br>
</span>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إن من أشر الناس عند الله منزلة يوم <span style="font-weight: 400;">القيامة</span></span><span style="font-weight: 400;"><span style="font-size: 21pt;">، الرجل يفضي إلى امرأته وتفضي إليه، ثم ينشر سرها” (رواه مسلم (1437) عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه)</span> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang lelaki yang berhubungan dengan istrinya (jima` dan muqodimahnya) dan istrinyapun berhubungan dengannya, kemudian laki-laki tersebut menyebarkan rahasia (hubungan dengan) istrinya tersebut</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim (1437), dari Abi Sa’id Al-Khudri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘</span></i><span style="font-weight: 400;">anhu).</span></p>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula, dalam seluruh cara-cara yang kotor tersebut, terdapat perkara yang menodai rasa malu, menipu daya dan berdampak buruk, sehingga hasilnyapun menjadi kebalikan dari apa yang diharapkan, (yaitu) seorang istri menjadi tidak selera dengan suaminya, demikian pula suaminya menjadi tidak selera dengan istrinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanggal Fatwa: 29-12-1430 H</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Selesai terjemah fatwa Syaikh Khalid Al Mushlih yang diambil dari: <a href="http://ar.Islamway.net/fatwa/41033/" target="_blank" rel="noopener">ar.Islamway.net/fatwa/41033/حكم-قراءة-مواضيع-جنسي</a>)</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Demikianlah wahai para pembaca, terkadang setan menipu manusia dengan cara membawakan alasan pembenaran perbuatan dosa, sampai manusia memandang dan meyakini bahwa dosa yang dilakukannya itu benar, ketahuilah, inilah yang dinamakan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">syubhat</span></i><span style="font-weight: 400;"> (kerancuan pikiran/keyakinan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan obat hal itu adalah sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahu</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span> <span style="font-weight: 400;">(QS. An-Nahl:43).</span><i><span style="font-weight: 400;"> Wallahu a’lam.</span></i></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penyusun: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</strong></p>
<p><strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
 