
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1225596424&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika shalat sunnah dhuha tertinggal, bolehkah di-Qadha’?</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Shalat sunnah Dhuha jika lewat waktunya berarti telah lewat; karena sunnah Dhuha berkaitan dengan waktu dhuha, sedangkan shalat Rawatib karena mengikuti shalat wajib maka dia bisa di-qadha’, begitu juga shalat Witir, seperti yang dijelaskan dalam hadis:<br>
<em><br>
“Sesungguhnya, Nabi Shalallahu ‘alayhi wasallam jika tertidur atau sakit di malam hari, mengerjakan shalat di siang hari dua belas rakaat.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Maka, Witirnya juga bisa di-qadha’.</p>
<p>Sumber: <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), </em>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007</p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="https://konsultasisyariah.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">KonsultasiSyariah.com</a></p>
 