
<h4>Pertanyaan:</h4>
<p>Bagaimana hukum puasa seorang musafir ketika puasa tidak memberatkannya di waktu tersebut karena adanya sarana transportasi modern?</p>
<h4>Jawaban:</h4>
<p>Seorang musafir boleh memilih antara berpuasa atau tidak berpuasa. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="text-align: right;">وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</span></p>
<p>“<em>Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.</em>” (QS. Al-Baqarah: 185)</p>
<p>Para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> pernah melakukan safar bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Di antara mereka ada yang berpuasa sedangkan yang lain tidak berpuasa. Para sahabat yang berpuasa tidaklah mencela sahabat lain yang tidak berpuasa. Demikian pula, para sahabat yang tidak berpuasa tidaklah mencela sahabat lain yang berpuasa. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berpuasa ketika safar tersebut. Abu Darda’ <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mengisahkan, “Kami pernah bepergian bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di hari yang sangat panas. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan ‘Abdullah bin Rawahah.” (HR. Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1122)</p>
<p>Kaidahnya seorang musafir diberi pilihan untuk berpuasa atau tidak berpuasa. Namun, jika puasa tidak menyusahkannya, maka berpuasa lebih afdhal. Sebab, berpuasa ketika itu memiliki tiga faidah.</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Meneladani Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Puasa terasa ringan. Karena apabila seseorang berpuasa bersama umat Islam lainnya maka itu akan terasa lebih ringan baginya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Lebih cepat menggugurkan kewajiban puasa.</p>
<p>Akan tetapi, jika puasa malah memberatkannya, maka ia boleh tidak berpuasa. Bahkan, bukanlah termasuk kebaikan jika ia tetap berpuasa ketika safar di keadaan semisal itu (dalam perjalanan yang berat). Sebab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menyaksikan seseorang yang sedang dipayungi dan di sekitarnya banyak orang berkerumun. Beliau pun bertanya, “Ada apa ini?”. Mereka menjawab, “Orang ini sedang berpuasa”. Lalu beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِيْ السَّفَرِ</p>
<p>“<em>Tidak termasuk kebajikan berpuasa dalam perjalanan.</em>” (HR. Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115)</p>
<p>Dengan demikian, keumuman hadits tersebut berlaku untuk para musafir yang mengalami kondisi semisal laki-laki di atas yang berat baginya berpuasa.</p>
<p>Berdasarkan hal tersebut, maka kami katakan, “Safar di zaman sekarang ini amatlah mudah, sebagaimana ucapan penanya, umumnya berpuasa tidaklah terasa berat. Jika demikian, maka yang lebih utama adalah tetap berpuasa”.</p>
<p>***</p>
<p>Diterjemahkan dari <em>Fatawa Arkanil Islam</em> karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah, cetakan ketiga, tahun 1437 H, hal. 555-556.</p>
<p>Penerjemah: Ummu Fathimah</p>
<p>Artikel Muslinah or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 