
<p>BOLEHKAH WANITA HAIDH BERDIAM DI MASJID</p>
<p>Oleh<br>
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan</p>
<p>Pertanyaan<br>
Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya : Apakah wanita haidh dibolehkan untuk berdiam di masjid ?</p>
<p>Jawaban<br>
Haram bagi wanita haidh untuk berdiam di masjid berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p><strong>إِنِّي لاَ أُحِلُّ الْمَسجِدَ لحَائِضٍ وَلاَ لجُنُبِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haidh dan orang yang sedang junub” Diriwayatkan oleh Abu Daud</p>
<p>Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya.</p>
<p><strong>إِنَّ الْمَسْجِدَ لاَيَحِلُّ حَائِضٍ وَلاَ لجُنُبِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya Masjid tidak halal bagi wanita haidh dan orang yang sedang junub” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah</p>
<p>Dibolehkan bagi wanita haidh untuk berjalan melintasi masjid tanpa berdiam di masjid itu, berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p><strong>نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ مِنَ المَسْجِدِ</strong></p>
<p>“(Wahai Aisyah) Ambilkanlah untukku alas duduk dari masjid”, maka aku berkata : “Sesungguhnya aku sedang haidh”, maka beliau bersabda.</p>
<p><strong>إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيسْتَ بِيَدِكِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya haidhmu bukan di tanganmu (bukan kehendakmu)” Diriwayatkan oleh seluruh perawi hadits kecuali Al-Bukhari.</p>
<p>Dan dibolehkan bagi wanita untuk membaca dzikir-dzikir yang masyru’, seperti membaca tahlil (<strong><em>Laa Ilaaha Illallah</em></strong>), takbir (<em><strong>Allahu Akbar</strong></em>), tasbih (<strong><em>Subhanallah</em></strong>) dan do’a-do’a lainnya yang bersumber dari wirid-wirid yang disyari’atkan di waktu pagi, sore, ketika tidur serta bangun dari tidur, juga boleh bagi wanita haidh untuk membaca kitab-kitab ilmiah seperti tafsir, hadits dan fiqh.</p>
<p>[At-Tanbiyat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, halaman 14]</p>
<p>[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Terbitan Darul Haq. Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]</p>
 