
<p>Pada kesempatan kali ini, kami akan coba membahas masalah tentang buang air kecil sambil berdiri. Semoga pembahasan yang ringkas ini bisa bermanfaat untuk kita semua.</p>

<h2>Apabila ada hajat (kebutuhan), boleh buang air kecil sambil berdiri</h2>
<p>Pada asalnya, buang air kecil hendaknya dilakukan dalam kondisi sambil duduk. Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah <i>radhiyallahu ‘anha, </i>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ؛ مَا كَانَ يَبُولُ إِلَّا جَالِسًا</span></p>
<p>“Siapa saja yang mengabarkan kepada kalian bahwa Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>buang air kecil sambil berdiri, janganlah kalian benarkan. Beliau tidaklah buang air kecil kecuali sambil duduk.” <b>(HR. An-Nasa’i no. 29, At-Tirmidzi no. 12 dan Ibnu Majah no. 307, shahih)</b></p>
<p>Hal ini karena ketika buang air kecil sambil berdiri kemungkinan besar akan menyebabkan terperciknya air kencing ke badan atau ke pakaian.</p>
<p>Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan <i>(hajat) </i>untuk buang air kecil sambil berdiri, maka diperbolehkan. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah <i>radhiyallahu ‘anhu,</i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَأَيْتُنِي أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَمَاشَى، فَأَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ خَلْفَ حَائِطٍ، فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ، فَبَالَ، فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ، فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُهُ، فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ</span></p>
<p>“Aku ingat ketika aku berjalan-jalan bersama Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wasallam,</i> beliau lalu mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum di balik tembok dan buang air kecil sambil berdiri sebagaimana kalian berdiri. Aku lalu menjauh dari beliau, namun beliau memberi isyarat kepadaku agar aku mendekat. Aku pun mendekat dan berdiri di belakang beliau hingga beliau selesai.” <b>(HR. Bukhari no. 225 dan Muslim no. 273)</b></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>meminta Hudzaifah untuk mendekat karena ingin menjadikan badan Hudzaifah <i>radhiyallahu ‘anhu</i> sebagai penutup (pembatas) beliau yang sedang buang air kecil sehingga aman dari pandangan orang lain.</p>
<p>Hadits riwayat Hudzaifah <i>radhiyallahu ‘anhu</i> di atas tidaklah bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh ibunda ‘Aisyah <i>radhiyallahu ‘anha. </i>Hadits ‘Aisyah menceritakan mayoritas keadaan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>ketika beliau buang kecil. Sedangkan hadits Hudzaifah <i>radhiyallahu ‘anhu </i>menjelaskan bahwa Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>pernah buang air kecil sambil berdiri dalam sebagian kondisi (keadaan).</p>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa perbuatan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>tersebut menunjukkan bolehnya buang air kecil sambil berdiri. Atau ketika itu tidak memungkinkan bagi beliau untuk buang air kecil sambil duduk.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <i>rahimahullahu Ta’ala </i>menjelaskan bahwa terdapat dua syarat ketika buang air kecil sambil berdiri, yaitu: <strong>(1) aman dari terkena percikan air kencing; dan (2) aman dari dilihat orang lain</strong>. <b>(</b><b><i>Syarhul Mumti’, </i></b><b>1: 92)</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/61195-hukum-buang-hajat-menghadap-kiblat.html" target="_blank" rel="noopener">Hukum Buang Hajat Menghadap Kiblat</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Bagaimana dengan urinoir yang terdapat di fasilitas umum?</h2>
<p>Sering kita jumpai tempat buang air kecil sambil berdiri <i>(urinoir) </i>yang disediakan di fasilitas umum, dalam kondisi berjejer di toilet dan disediakan untuk kaum laki-laki. Fasilitas semacam ini tentu bermasalah, karena belum memenuhi persyaratan ke dua yang disebutkan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin <i>rahimahullahu Ta’ala </i>di atas.</p>
<p>Di antara adab yang perlu diperhatikan ketika buang air kecil adalah menjauh dari pandangan orang lain. Yang menjadi <b>kewajiban</b> adalah menjaga tertutupnya aurat, dan <b>disunnahkan (dianjurkan)</b> untuk menutupi semua anggota badan dari pandangan orang lain.</p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Ja’far <i>radhiyallahu ‘anhu, </i>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَرْدَفَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ خَلْفَهُ. فَأَسَرَّ إِلَيَّ حَدِيثًا لَا أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ وَ كَانَ أَحَبَّ مَا اسْتَتَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَتِهِ، هَدَفٌ أَوْ حَائِشُ نَخْلٍ. قَالَ ابْنُ أَسْمَاءَ فِي حَدِيثِهِ: يَعْنِي حَائِطَ نَخْلٍ</span></p>
<p>“Suatu hari Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> memboncengku di belakangnya, lalu beliau membisikkan satu hadits yang tidak aku ceritakan kepada seorang pun. Dan sesuatu yang paling disukai oleh Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> untuk dijadikan sebagai penghalang ketika buang hajat adalah bukit pasir atau rerimbunan pohon kurma.” Ibnu Asma’ berkata, “Yaitu (semacam) pagar dari pohon kurma.” <b>(HR. Muslim no. 342)</b></p>
<p>Dalam hadits di atas, yang dicontohkan oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>adalah beliau menjadikan sesuatu yang cukup tinggi sebagai penghalang badan beliau, misalnya bukit pasir atau rerimbunan pohon kurma. Sehingga tidak ada yang bisa melihat beliau ketika sedang buang air kecil.</p>
<p>Adab semacam ini tidaklah bisa kita laksanakan ketika buang air kecil di <i>urinoir </i>tersebut, karena tidak ada sekat antara <i>urinoir </i>satu dengan yang lainnya. Kalaupun ada sekat, sekat tersebut sangat pendek (rendah). Sehingga kita masih bisa melihat orang lain yang sedang buang air kecil.</p>
<p>Oleh karena itu, kami berharap kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam penyediaan fasilitas umum seperti ini untuk tetap memperhatikan bagaimanakah ketentuan atau adab yang diajarkan oleh Islam ketika buang air kecil, mengingat pengguna fasilitas umum tersebut tentunya mayoritasnya adalah umat Islam.</p>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/67964-tidak-membersihkan-diri-dari-air-kencing.html" target="_blank" rel="noopener">Tidak Membersihkan Diri dari Air Kencing</a></strong></em></p></blockquote>
<p><b>***</b></p>
<p>@Markas YPIA, 3 Jumadil akhir 1440/ 8 Februari 2018</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://acadstaff.ugm.ac.id/msaifudinhakim" target="_blank" rel="noopener">M. Saifudin Hakim</a></strong></p>
<p><strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><b><i>Kitaabul Adab,</i></b> karya Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub, hal. 182-184 (penerbit Daarul Qaasim Riyadh KSA, cetakan pertama tahun 1423).</p>
 