
<p>Apakah shalat jadi batal ketika dilewati wanita, keledai, dan anjing hitam?</p>

<div>
<p align="center"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</strong></span></p>
</div>
<div>
<p align="center"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></p>
</div>
<div>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">بَابُ سُتْرَةِ اَلْمُصَلِّي</p>
</div>
<div>
<h2 align="center">Bab Sutrah (Pembatas) bagi Orang yang Shalat</h2>
</div>
<p> </p>
<h3>Hadits #237</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ (( قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { لَا يَقْطَعُ اَلصَّلَاةَ شَيْءٌ , وَادْرَأْ مَا اِسْتَطَعْتَ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ , وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Tidak ada sesuatu pun yang bisa menghentikan shalat, apabila ada yang ingin menghentikannya, cegahlah sekuat tenagamu</em>.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dan di dalam sanadnya ada kelemahan). [HR. Abu Daud, no. 719. Hadits ini <em>dhaif jiddan</em>, lemah sekali karena tiga sebab: (1) Mujalid bin Sa’id itu <em>dhaif</em>; (2) Abu Al-Waddak Jabr bin Nauf Al-Hamdani, ia perawi dhaif; (3) Mujalid dalam riwayat hadits ini <em>mudh-tharib</em>. Ulama yang menilai hadits ini dhaif adalah ‘Abdul Haqq, Imam Nawawi, Ibnul Jauzi, Asy-Syaukani, Al-Albani, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Lihat <em>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram</em>, 2:426-427].</p>
<p> </p>
<h3>Faedah hadits</h3>
<p>Hadits ini dijadikan oleh jumhur ulama bahwa shalat tidaklah batal walaupun dilewati oleh wanita (baligh), keledai, dan anjing.</p>
<p>Ada hadits dari Abu Dzarr Al-Ghifari <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Yang akan memutus shalat seorang muslim–jika tidak ada di depannya seperti mu’khiroh ar-rohli (tiang atau kayu sandaran di belakang kendaraannya atau tunggangannya)-, pemutus shalatnya adalah wanita, keledai, dan anjing hitam</em>.” (HR. Muslim, no. 510). Yang dimaksud memutus shalat adalah hati jadi tidak fokus, tidak khusyuk, tetapi tidak membatalkan shalat.</p>
<p>Kajian tentang hal ini bisa dilihat kembali pada faedah hadits <strong><a href="https://rumaysho.com/29433-bulughul-maram-shalat-apa-yang-dimaksud-wanita-keledai-anjing-hitam-disebut-pemutus-shalat.html" target="_blank" rel="noopener">#231 – #233.</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga: </strong></span></p>
<ul>
<li><span style="font-size: 12pt; color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/29433-bulughul-maram-shalat-apa-yang-dimaksud-wanita-keledai-anjing-hitam-disebut-pemutus-shalat.html" target="_blank" rel="noopener">Apa yang Dimaksud Wanita, Keledai, Anjing Hitam Disebut Pemutus Shalat?</a></strong></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/29229-bulughul-maram-shalat-menangis-yang-membatalkan-shalat.html"><strong>Bulughul Maram – Shalat: Menangis yang Membatalkan Shalat</strong></a></span></li>
</ul>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:426-428.</p>
<p>—</p>
<p>Malam Senin, 28 Muharram 1443 H, 5 September 2021</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul</a></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 