
<p>Bagaimana cara membaca ta’awudz dalam shalat dan kapan membacanya? Kali ini bisa digali ilmu dari hadits <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/tag/bulughul-maram" target="_blank" rel="noopener">Bulughul Maram</a></span>.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></p>
<p align="center"><strong><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 18pt;">بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ</span></strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/tag/buluhul-maram-cara-shalat" target="_blank" rel="noopener"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bab Sifat Shalat</strong></span></a></span></p>
<h2>Bacaan Ta’awudz dalam Shalat</h2>
<h3>Hadits #273</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَنَحْوُهُ عَنْ أَبي سَعِيدٍ مَرْفُوعاً عِنْدَ الْخَمْسَةِ.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَفِيهِ: وَكَانَ يَقُولُ بَعْدَ التَّكْبِيرِ: «أَعُوذُ بِالله السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ».</p>
<p>Hadits yang serupa dari Abu Sa’id Al-Khudri secara marfu’ yang diriwayatkan oleh imam yang lima, disebutkan di dalamnya, “Beliau biasanya setelah takbir membaca:</p>
<p>“A’UDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIM MINASY SYAITHOONIR ROJIIM MIN HAMZIHI WA NAFKHIHI WA NAFTSIH (artinya: aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan syair atau sihirnya).” [HR. Abu Daud, no. 775; Tirmidzi,no. 242; An-Nasai, 2:132; Ibnu Majah, no. 804; Ahmad, 8:51. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa hadits ini memiliki penguat dari hadits Jubair bin Muth’im, ‘Umar bin Al-Khatthab, Abu Umamah, Ibnu Mas’ud, dan selainnya. Namun, dalam sanadnya <span style="text-decoration: underline;">ada kritikan</span>. Al-Qur’an sendiri menyebutkan lafaz ta’awudz tanpa tambahan seperti di hadits ini].</p>
<p> </p>
<p><strong>Penjelasan mengenai bacaan ta’awudz di atas:</strong></p>
<p><em>Ta’awudz</em> artinya melarikan diri dari sesuatu yang ditakuti kepada sesuatu yang bisa memberikan perlindungan.</p>
<p><em>Syaithon</em> adalah isim mufrad dari jenis <em>syayathin</em>. <em>Syaithon</em> berasal dari kata <em>syathona</em> yang berarti <em>ba’uda</em> (jauh). Karena setan itu jauh dari kebenaran dan kebaikan, sifatnya itu durhaka.</p>
<p><em>Ar-rojiim</em> mengikuti wazan <em>fa’iilun</em> bermakna <strong><em>maf’uulun</em></strong>, yaitu <em>marjuumun (dilempar)</em>. Setan disebut demikian karena ia dilempar saat mencuri berita, atau makna lainnya adalah dilempar dengan laknat (terkena laknat), tidak mendapatkan rahmat. <em>Ar-rojiim</em> bisa pula bermakna <strong><em>faa’ilun, roojimun (melempar)</em></strong>, yang berarti setan itu melemparkan kesesatan pada manusia, menghiasi mereka dengan kesesatan, dan menyukai kerusakan pada mereka.</p>
<p><em>Hamz</em> artinya <em>muutah</em> yaitu sejenis gila dan kesurupan. Setan disebut demikian karena setan itu jadi sebab seseorang menjadi gila dan kesurupan.</p>
<p><em>Nafkh</em> artinya <em>kibr</em> (sombong) yaitu setan itu membisik pada manusia hingga ia merasa dirinya itu di atas, akhirnya merendahkan yang lain.</p>
<p>Nafts artinya <em>syi’ir</em> (syair) karena seperti sesuatu yang disemburkan oleh manusia dari mulutnya. Setan itu membuat para penyair menyanjung, mencela, mengagungkan, dan merendahkan bukan pada tempatnya. <em>Nafts</em> juga dapat diartikan dengan <strong>sihir</strong> sebagaimana maksud dari turunnya ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ</p>
<p>“<em>Dan dari kejahatan tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul</em>.” (QS. Al-Falaq: 4)</p>
<p> </p>
<h3>Faedah hadits</h3>
<ol>
<li>Hadits ini jadi dalil mengenai syariat membaca <em>ta’awudz</em> sebelum membaca surah dengan lafaz seperti dalam hadits.</li>
<li>Hukum bacaan <em>ta’awudz</em> adalah <strong>sunnah</strong> sebelum membaca surah dalam shalat maupun di luar shalat. Inilah pendapat jumhur ulama.</li>
<li>Maksud membaca <em>ta’awudz</em> sebelum membaca surah adalah di rakaat pertama, bukan dibaca pada saat mau atau sebelum takbiratul ihram. Karena bacaan <em>ta’awudz</em> maksudnya adalah untuk <em>qiro’ah</em> (membaca surah), bukan maksudnya untuk mengerjakan shalat.</li>
</ol>
<p>Itulah yang dimaksud dengan firman Allah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</p>
<p>“<em>Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk</em>.” (QS. An-Nahl: 98)</p>
<ol start="4">
<li>Tujuan membaca <em>ta’awudz</em> ketika mulai membaca surah adalah untuk meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan agar ia menjauh dari hati orang yang membaca kitabullah, sehingga si pembaca Al-Qur’an mudah mentadaburi, memahami makna, serta mengambil manfaat dari Al-Qur’an.</li>
<li>Lafaz ta’awudz bisa dengan tiga bentuk: (a) A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM, (b) A’UDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIM MINASY SYAITHOONIR ROJIIM, (c) A’UDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIM MINASY SYAITHOONIR ROJIIM MIN HAMZIHI WA NAFKHIHI WA NAFTSIH. Semua lafaz ini ada dalilnya. Kaidah yang patut diingat, “<em><strong>Ibadah yang dalilnya menjelaskan berbagai variasi, maka bisa diamalkan yang ini dan yang itu secara bergantian. Mengamalkan secara bergantian itu baik.</strong></em>”</li>
<li>
<em>Ta’awudz</em> hanya dibaca di rakaat pertama, tidak diulang setiap rakaat. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat Imam Syafii.</li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong>Terkait hukum fikih ta’awudz:</strong></p>
<p>1. Ta’awudz itu dibaca sirr walaupun di shalat jahriyah (Maghrib, Isya, Shubuh).</p>
<p>2. Disunnahkan membacanya pada setiap rakaat menurut pendapat resmi madzhab Syafii. Namun, ada pendapat juga yang menyuruh dibaca pada rakaat pertama saja.’</p>
<p>3. Disunnahkan membaca taawudz ketika di luar shalat saat membaca Al-Qu’ran.</p>
<p>4. Membaca ta’awudz itu bagian dari sunnah hay’ah, jika ditinggalkan, tidak perlu sujud sahwi.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<ul>
<li>
<em>Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.</em> Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:28-29.</li>
<li>
<em>Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah.</em> Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Dr. Muhammad Musthofa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan.</li>
</ul>
<p>—</p>
<p>Kamis siang, 12 Rabiul Akhir 1443 H, 18 November 2021</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul</a></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel<span style="color: #ff0000;"> <a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/6194-hukum-pembacaan-kalam-ilahi-di-awal-acara.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum Pembacaan Kalam Ilahi di Awal Acara</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/18319-cara-dan-bacaan-shalat-sunnah-fajar.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Cara dan Bacaan Shalat Sunnah Fajar</strong></span></a></li>
</ul>
 