
<p>Jika kita lapar berat, makan atau shalat yang didahulukan? Jawaban masalah ini akan ditemukan dalam hadits Bulughul Maram dan penjelasannya berikut ini.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;"><strong>Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat</strong></span></p>

<h2 style="text-align: center;">Mendahulukan Makan Dibandingkan Shalat</h2>
<h3 style="text-align: center;">Hadits #240</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ: إِذَا قُدِّمَ العَشَاءُ فَابْدَأُوْا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوْا المغْرِبَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Apabila makan malam telah dihidangkan, maka makanlah sebelum shalat Maghrib.</em>” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>) [HR. Bukhari, no. 672 dan Muslim, no. 557]
</p>
<p> </p>
<h3>Faedah hadits</h3>
<ol>
<li>
<em>Al-‘asya’</em> adalah makanan yang disantap pada petang hari. Penduduk Madinah biasa menyantap ‘<em>asya’</em> sebelum Maghrib. Penduduk Madinah biasa mengolah lahan pertanian, mereka barulah selesai pada petang hari. Inilah yang jadi kebiasaan penduduk Najd, mereka makan malam sebelum Maghrib. Adapun sarapan (<em>al-ghadaa’</em>) dilakukan sebelum Zhuhur. Yang disantap pun ringan yaitu kurma dan susu. Kemudian beralih setelah itu, orang-orang pada menyantap makan malam bakda Maghrib. Pada masa kini, kebiasaan ‘<em>asya</em>’ malah menjadi bakda Isya, bahkan lebih malam lagi. Keadaan yang terakhir ini malah dampak negatifnya begitu besar. <em>Hanya Allah yang memberikan pertolongan.</em>
</li>
<li>Jumhur ulama menganggap bahwa kata perintah dalam hadits untuk menyantap makanan sebelum Maghrib dihukumi sebagai <strong>anjuran (sunnah, tidak wajib)</strong>. Inilah pendapat yang lebih kuat. Ibnu ‘Abdil Barr <em>rahimahullah </em>menyatakan adanya konsensus ulama (ijmak ulama) <strong>akan sahnya shalat</strong> orang yang tetap menyempurnakan shalat (tanpa meninggalkan rukun shalat) dibandingkan makan. <strong>Artinya, siapa saja yang mendahulukan shalat dari makan, shalatnya sah.</strong>
</li>
<li>Lafaz dalam hadits Aisyah adalah, “<em>Jika makan malam telah diletakkan, lantas iqamah dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam</em>.” (HR. Bukhari, no. 671 dan Muslim, no. 560). Lafaz hadits Aisyah ini <strong>umum</strong>. Lafaznya berlaku bukan hanya shalat Maghrib saja. Hal ini dikuatkan pula dengan lafaz hadits, “<em><strong><a href="https://rumaysho.com/7304-hukum-shalat-saat-makanan-telah-tersaji.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Laa shalaata bi hadhrati ath-tha’aam</span></a></strong>, tidak ada shalat ketika makanan telah tersajikan</em>.”</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa jika makanan telah dihidangkan ketika waktu shalat Maghrib, menyantap makanan tersebut lebih didahulukan dibandingkan dengan shalat. Bagi yang sedang menyantap, hendaklah menyantapnya sampai hajatnya selesai <strong>tanpa tergesa-gesa</strong>. Hal ini dikarenakan shalat itu membangun hubungan antara kita dengan Allah. <strong>Shalat tidaklah sempurna sampai hati kita itu hadir dan selesai dari berbagai <em>syawaaghil </em>(pikiran yang mengganggu).</strong>
</li>
<li>Mendahulukan makan dibandingkan shalat bertujuan untuk <strong>khusyuk dan menghadirkan hati dalam shalat.</strong>
</li>
<li>Masalah mendahulukan makan bukanlah berarti kita meremehkan perkara shalat atau mendahulukan hak manusia. Bahkan mendahulukan makan malah termasuk <strong>mengagungkan shalat hingga hati menerimanya</strong>.</li>
<li>Hadits ini secara eksplisit (secara <em>zhahir</em>) menunjukkan bahwa mendahulukan makan di sini tidak dikaitkan apakah butuh makan ataukah tidak. <strong>Akan tetapi, para ulama menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan mendahulukan makan adalah ketika hati itu membutuhkan untuk makan dan benar-benar terkait dengannya (artinya: benar-benar lapar).</strong> Sedangkan, jika memang tidak ada hajat, seorang muslim sebaiknya tidak membiasakan untuk menjadikannya sebagai <em>adat </em>atau kebiasaan, yaitu menyantap makan malam terus-terusan pada waktu shalat. Karena menyengaja sama saja dengan melalaikan shalat berjamaah.</li>
<li>Hadits ini secara eksplisit menunjukkan pula bahwa mengakhirkan shalat jika makanan telah tersaji walaupun akhirnya luput dari shalat berjamaah atau luput dari shalat pada awal waktu. Namun, <strong>jika waktu shalat tersisa sedikit,</strong> sehingga kalau mendahulukan makan malah kita mengerjakan shalat di luar waktu, maka dalam kondisi ini tetap mendahulukan shalat dibandingkan makan agar shalat tetap dikerjakan pada waktunya. Inilah pendapat <em>jumhur</em> (mayoritas) ulama.</li>
</ol>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/1649-mendahulukan-makan-dari-shalat.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Mendahulukan Makan dari Shalat (Penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin dari Syarh Bulugh Al-Maram)</span></a></strong></span></p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:434-436.</p>
<p>—</p>
<p>Jumat pagi, 3 Safar 1443 H, 10 September 2021</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul</a></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel<span style="color: #ff0000;"> <a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 