
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1240611412&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe></p>
<h2><strong>Cara Takbiratul Ihram yang Benar</strong></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Takbiratul ihram merupakan takbir yang pertama kali dibaca ketika shalat, sebagai pembuka shalat. Disebut takbiratul <b>ihram</b> yang artinya takbir yang mengharamkan, karena takbir ini menjadi batas di<b>haram</b>kannya melakukan hal lain yang tidak berkaitan dengan shalat.</p>
<p>Berikut rincian <a title="tata cara takbiratul ihram" href="https://konsultasisyariah.com/cara-takbiratul-ihram-yang-benar-dalam-shalat" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>tata cara takbiratul ihram</strong></a> yang disimpulkan dari al-Quran dan sunah yang shahih,</p>
<p><strong>1. Takbiratul Ihram merupakan rukun shalat. Harus dilakukan baik menjadi imam, makmum, maupun shalat sendirian.</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ</p>
<p><em>“Kunci shalat adalah bersuci, memulainya dengan takbir, dan mengakhirinya dengan salam.” (</em>HR. Abu Daud 61, Turmudzi 3, &amp; disahihkan al-Albani).</p>
<p><strong>2. Yang dimaksud takbiratul ihram adalah ucapan: <a title="Allaahu akbar" href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Allaahu akbar</a>…, dan bukan mengangkat tangan ketika takbir. Sementara mengangkat tangan ketika takbiratul ihram hukumnya dianjurkan dan tidak wajib.</strong></p>
<p>Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,</p>
<p class="arab">رفع اليدين عند تكبيرة الإحرام، وعند الركوع، وعند الرفع منه، وعند القيام من التشهد الأول سنة</p>
<p>“Mengangkat tangan ketika talbiratul ihram, ketika rukuk, ketika i’tidal, dan ketika bangkit ke rakaat ketiga dari tasyahud awal, hukumnya sunah.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin volume 13).</p>
<p><strong>3. Keadaan telapak tangan ketika takbir:</strong></p>
<p>a. Telapak tangan dibentangkan secara sempurna dan tidak menggenggam</p>
<p>b. Jari-jari telapak tangan tidak terlalu lebar dan tidak terlalu rapat</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا</p>
<p><em>”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya dengan dibentangkan.”</em> (HR. Abu Daud 753, Turmudzi 240, dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p>c. Telapak tangan dihadapkan ke kiblat dan diangkat setinggi pundak atau telinga</p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ</p>
<p>“Bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengangkat kedua tangannya setinggi pundak, ketika memulai shalat.” (HR. Bukhari 735 &amp; Muslim 390).</p>
<p>Dari Malik bin al-Huwairits <em>radhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p class="arab">رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِذَا كَبَّرَ، وَإِذَا رَكَعَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ حَتَّى بَلَغَتَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ</p>
<p>“Saya melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengangkat kedua tangannya ketika takbiratul ihram, ketika rukuk, ketika i’tidal, hingga setinggi daun telinga.” (HR. Nasai 1024, dan yang lainnya).</p>
<p><strong>4. Cara mengangkat tangan ketika takbir ada 3:</strong></p>
<p>a. Mengangkat tangan sampai pundak lalu membaca takbir</p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhumma</em>,</p>
<p class="arab">كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا قام إلى الصلاة؛ رفع يديه حتى تكونا حذو منكبيه، ثم كبَّر</p>
<p>Apabila Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga setinggi pundak, kemudian beliau bertakbir. (HR. Muslim 390).</p>
<p>b. Mengangkat tangan lalu sedekap bersamaan dengan takbir</p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>,</p>
<p class="arab">رأيت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افتتح التكبير في الصلاة، فرفع يديه حين يكبر</p>
<p>”Saya melihat Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memulai takbiratul ihram ketika shalat, beliau mengangkat kedua tangannya  ketika takbir. (HR. Bukhari 738)</p>
<p>c. Membaca takbir, lalu mengangkat tangan</p>
<p>Dari Malik bin al-Huwairits,</p>
<p class="arab">كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبر؛ رفع يديه</p>
<p>”Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika usai takbir, beliau mengangkat tangan” (HR. Muslim 391).</p>
<p><strong>5. Takbiratul harus dilakukan dalam keadaan posisi tubuh tegak sempurna dan tidak boleh sambil condong mau rukuk.</strong> Karena syarat sah-nya takbiratul ihram adalah dilakukan sambil berdiri bagi yang mampu.</p>
<p><strong>6. Takbiratul ihram tidak disyaratkan harus dibarengkan dengan niat shalat.</strong> Menggabungkan dua hal ini adalah mustahil. Karena anggapan inilah, banyak orang yang ditimpa penyakit was-was ketika takbir, sehingga takbirnya dilakukan berulang-ulang.</p>
<p>Al-Kasani mengatakan,</p>
<p class="arab">إن تقديم النية على التحريمة جائز عندنا إذا لم يوجد بينهما عمل يقطع أحدهما عن الآخر</p>
<p>“Boleh mendahulukan niat dari pada takbiratul ihram menurut madzhab kami (hanafi), jika tidak ada kegiatan apapun yang menyelai antara niat dan takbiratul ihram.” (Badai as-Shanai, 1/329).</p>
<p>Ibnu Qudamah juga menegaskan,</p>
<p class="arab">قال أصحابنا: يجوز تقديم النية على التكبير بالزمن اليسير</p>
<p>“Para ulama madzhab kami (hambali) mengatakan, ‘Boleh mendahulukan niat sebelum takbiratul ihram, selama jedahnya tidak lama.” (al-Mughni, 1/339).</p>
<p><strong>7. Takbiratul ihram hanya dilakukan sekali dan tidak perlu diulang-ulang, yang ini umumnya terjadi karena was-was.</strong> Untuk mengobatinya, anda bisa pelajari artikel <a title="cara mengobati was was" href="https://konsultasisyariah.com/mengobati-was-was/" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Cara Mengobati Was-was</strong></a></p>
<p><strong>8. Orang yang shalat sendirian atau makmum, takbirnya dibaca pelan.</strong> Hanya terdengar dirinya sendiri.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
<li>
<strong>KONFIRMASI DONASI</strong> hubungi: 087-738-394-989</li>
</ul>
 