
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p><em>Allahumma yassir wa a’in.</em></p>
<p>Selain  curhat masalah utang, <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com"><strong>www.konsultasisyariah.com</strong></a> juga kebanjiran curhat  konflik keluarga. Pemicunya beraneka ragam, mulai dari masalah  “berantem” dengan mertua, ekonomi keluarga, rebutan duit, sampai masalah  perselingkuhan. Maklum saja, ini menyangkut hajat banyak orang. Tak  kalah banyaknya adalah “bentrokan” suami-istri karena soal ekonomi.  Akhirnya, saya coba-coba iseng <em>googling</em>. Saya pasang <em>keyword</em> “cerai ekonomi”, <em>jreeet</em> … muncul berbagai tulisan tentang gugat cerai dari pihak istri, sekian ratus orang. <em>Allah Al-Musta’an ….</em></p>
<p>Kita  semua sepakat, keharmonisan keluarga sangat dipengaruhi kebahagiaan  hati masing-masing anggota keluarga. Umumnya, sebelum terikat tali  pernikahan, orang membayangkan kebahagiaan hanya sebatas meluapkan nafsu  biologis, setelah terjalin cinta. <em>Ah</em> … yang penting hidup  bersama, urusan makan, dipikir nantilah. Yang penting, sudah ada  penghasilan … syukur-syukur, disokong mertua.</p>
<p>Namun, biasanya,  ini tidak berlangsung lama. Semangat ini akan mulai surut, sejalan  dengan banyak persoalan yang muncul. Mari kita rehat sejenak, mencoba  merenungkan beberapa nasihat Islam, dalam membina keluarga yang bahagia  dan membahagiakan.</p>
<p><strong>Jadikan “cerai” solusi paling terakhir</strong></p>
<p>Mungkin,  ini kata pamungkas yang seharusnya ditaruh di akhir tulisan ini. Namun,  tidak ada salahnya bila ditaruh di depan. Biar yang keburu menutup  halaman ini tetap bisa menangkap salah satu pesan sentral dalam bahasan  ini.</p>
<p>Ya, hati-hati dengan kata “cerai”, “pisah”, “talak”, “minta  cerai”, dan semacamnya. Jangan bermudah-mudah melontarkan kata-kata ini  setiap kali kepala Anda memanas karena masalah rumah tangga. Tahan lidah  baik-baik, meskipun perasaan Anda telah berteriak dengan kencang, “<em>Kita ceraa … iiiii ….</em>” Semoga Allah segera menurunkan tensi darah Anda.</p>
<p>Barangkali,  hadis berikut bisa membuat Anda sangat menyesal jika harus bercerai.  Disebutkan dalam hadis sahih dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>‘alaihish shalatu was salam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إِنَّ  إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ  فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِىءُ أَحَدُهُمْ  فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ  ثُمَّ يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ  بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ – قَالَ – فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ  نِعْمَ أَنْتَ</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya, singgasana iblis berada  di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat  kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka, ada  yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar,  ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya  menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah  bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian, iblis mengajaknya untuk  duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.’</em>” (H.R. Muslim, no. 2813)</p>
<p>Pada  dasarnya, talak adalah perbuatan yang dihalalkan. Akan tetapi,  perbuatan ini disenangi iblis karena perceraian memberikan dampak buruk  yang besar bagi kehidupan manusia. Betapa banyak anak yang terlantar,  tidak merasakan pendidikan yang layak, gara-gara <em>broken home</em>.  Bisa jadi, dia akan disiapkan iblis untuk menjadi bala tentaranya.  Bahkan, salah satu dampak negatif sihir yang disebutkan oleh Allah dalam  Alquran adalah memisahkan antara suami dan istri. Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِه</strong></p>
<p>“<em>Mereka belajar dari keduanya (Harut dan Marut) ilmu sihir yang bisa digunakan untuk memisahkan seseorang dengan istrinya.</em>” (Q.S. Al-Baqarah:102)</p>
<p>Secara  khusus, bagi pihak istri, jangan bermudah-mudah minta cerai gara-gara  percikan api kecil yang meletup di tengah-tengah keluarga Anda. Selama  itu masih bisa dipadamkan, berupayalah agar jangan dinyalakan. Renungkan  hadis berikut; semoga Anda akan sedikit merinding untuk sampai hati  mengajukan gugat cerai kepada suami Anda.</p>
<p>Dari Tsauban <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ</strong></p>
<p>“<em>Wanita  mana pun yang meminta suaminya untuk menceraikannya, tanpa ada alasan  yang dibenarkan, maka dia diharamkan mencium bau surga</em>.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>الـمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الـمُنَافِقَاتُ</strong></p>
<p>“<em>Wanita yang suka meminta cerai (tanpa alasan yang benar), merekalah para wanita munafik</em>.” (H.R. Ahmad dan Turmudzi; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<p>Akan  tetapi, tunggu, jangan salah paham dulu. Hadis di atas bukanlah  melegalkan sikap suami untuk tidak memenuhi hak istrinya. Bagi Anda,  para istri yang tidak mendapat hak nafkah dari suami, Anda berhak  menuntut suami untuk menunaikan kewajibannya. Namun, sekali lagi, itu  belum tepat saatnya Anda minta cerai.</p>
<p><strong>Menikah, penyebab diperolehnya penghasilan</strong></p>
<p>Percaya  atau tidak percaya, Anda saya paksa untuk percaya. Bukan karena saya  diktator, tetapi karena kita harus tunduk pada dalil. Disebutkan dalam  hadis sahih dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>ثَلَاثَةٌ  كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي  سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ  الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ</strong></p>
<p>“<em>Ada tiga orang; telah  menjadi kewajiban Allah untuk menolongnya: Orang yang berjihad di jalan  Allah, orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya, dan budak  yang ingin menebus dirinya.</em>” (H.R. Nasa’i dan Turmudzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)</p>
<p>Barang  ali, janji dalam hadis di atas belum kunjung turun di keluarga Anda,  tatkala himpitan ekonomi sedang melanda. Namun, Anda tidak boleh keburu  berontak. Anda harus yakin, Anda harus berbaik sangka kepada Allah, Anda  butuh sabar dan menahan gejolak nafsu. Pasang kuda-kuda tawakal kepada  Allah. <em>Insya Allah</em>, Anda akan segera “<em>kejugrukan gunung kembang</em>” (mendapat jalan keluar).</p>
<p><strong>Jadilah keluarga yang kompak</strong></p>
<p>Mungkin, prinsip “<em>ringan sama dijinjing, berat sama dipikul</em>” perlu diterapkan dalam keluarga kita. Samakah visi dan satukan langkah untuk mewujudkan kebahagiaan Anda dan anak Anda.</p>
<blockquote>
<p><strong>Kalau  pemikiran dan tenaga dua orang yang diikat dengan cinta disatukan,  kelihatannya sulit dibayangkan jika keduanya sampai kerepotan mencari  solusi terbaik. Namun, sekali lagi, butuh kekompakan</strong>.</p>
</blockquote>
<p>Sebaliknya,  jangan sampai Anda menjadi musuh bagi pasangan Anda. Terkadang, salah  satu pihak lebih memerhatikan kepentingan dirinya dan kepentingan  kerabatnya, dibandingkan mengutamakan keluarga. “<em>Yang penting, saya senang, orang tua saya juga senang, meskipun harus merugikan pihak suami atau istri</em>.” Disadari maupun tidak, bisa jadi, prinsip semacam ini akan semakin memperkeruh masalah Anda.</p>
<p>Bukan  dalam rangka menuduh pihak yang mana, tetapi umumnya, kesadaran pihak  wanita terkadang harus lebih banyak dipupuk. Persoalannya, kesempitan  ekonomi identik dengan gugat cerai dari pihak istri. Karena itu,  jauh-jauh hari, Allah ingatkan agar para suami senantiasa waspada akan  kondisi istrinya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>يَا  أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ  عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا  فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ </strong></p>
<p>“<em>Wahai orang-orang  mukmin, sesungguhnya, di antara istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi  musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu  memaafkan, tidak memarahi, serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya  Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.” (Q.S. At-Taghabun:14)</p>
<p>Ayat ini bukan <em>ngajari</em> Anda untuk <em>su’uzhan</em> pada keluarga Anda, karena tidak semua istri memiliki sifat demikian. Ini bisa disimpulkan dari kata “<em>di antara istri ….</em>” Untuk itu, jangan keburu pasang kuda-kuda marah dan marah. Perhatikan lanjutan ayat, “<em>… Jika kamu memaafkan, tidak memarahi, serta mengampuni (mereka) ….</em>” Ini yang harusnya Anda ingat-ingat.</p>
<p>Balasannya, “<em>… Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ….</em>”  Artinya, dengan kasih sayang Allah yang sangat luas, Allah akan  memberikan jalan terbaik bagi Anda. Bisa jadi, Allah akan mengubah  tabiat istri Anda atau Allah akan melapangkan rezeki Anda.</p>
<p><strong>Suami berkewajiban memberi nafkah semampunya</strong></p>
<p>Anda  jangan keburu protes kepada suami ketika posisi Anda dan keluarga  “kelihatannya belum semapan tetangga”; uang belanja masih kurang, belum  sempat beli baju baru, enggak bisa jalan-jalan ke <em>shopping center</em>,  enggak ada rekreasi, belum dapat perawatan kulit, belum ngasih kiriman  ke orang tua, dan seabrek keinginan Anda untuk menuju bahagia.  Sayangnya, gaji suami Anda sebulan tidak cukup. Kalau dipakai untuk itu  semua, paling-paling, cuma seminggu sudah habis.</p>
<p>Jangan buru-buru,  sikapi itu dengan hati dingin dan pasrah kepada yang Kuasa. Suami Anda  tidak dibebani tanggung jawab yang lebih dari batas kemampuannya. Semoga  Allah akan segera memberikan kemudahan bagi keluarga Anda. Allah  berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>لِيُنْفِقْ  ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ  مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا  سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا</strong></p>
<p>“<em>Orang yang  mampu hendaklah memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang  disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan  Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang  melainkan sekadar kemampuan yang Allah berikan kepadanya. Allah, kelak,  akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan</em>.” (Q.S. Ath-Thalaq:7)</p>
<p>Sebenarnya,  permasalahannya bisa kita paksa untuk disederhanakan. Ketika kita  menyadari bahwa penghasilan Suami belum cukup untuk mewujudkan konsep  “hidup bahagia” yang ideal menurut Anda, segera ambil tindakan skala  prioritas. Tidak semua keinginan Anda bisa terpenuhi dengan gaji Suami.  Dahulukan yang paling penting, kemudian yang penting. Kebutuhan yang  sekiranya bisa ditahan, mungkin belum saatnya diwujudkan sekarang.  Bersabarlah, perbanyak memohon–kepada Allah–kemudahan hidup, sambil  sedikit mencoba menabung untuk mewujudkan cita yang Anda harapkan.</p>
<p><strong>Potret rumah tangga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p>Sebagai pemungkas, mari kita simak kemesraan kelurga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di tengah himpitan ekonomi yang mereka alami. Berikut ini kesaksian  sejarah dari mereka yang pernah sezaman dengan manusia paling mulia di  dunia ini.</p>
<p>1. Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>, istri tercinta beliau, mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>ما شبع آل محمد صلى الله عليه و سلم من خبز بر مأدوم ثلاثة أيام حتى لحق بالله</strong></p>
<p>“<em>Keluarga  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu belum pernah kenyang dengan  roti gandum yang berlauk selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau  diwafatkan oleh Allah</em>.” (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>2. Al-Hasan Al-Bashri, salah satu ulama tabi’in yang sewaktu kecilnya diasuh oleh sebagian istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, menggambarkan kesederhanaan rumah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>كنت أدخل بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافة عثمان بن عفان فأتناول سقفها بيدي</strong></p>
<p>“<em>Aku  pernah masuk ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman  pemerintahan Utsman, dan aku bisa memegang atap rumah beliau dengan  tanganku.</em>” (<em>Ath-Thabaqat Al-Kubra</em>, 1:501, Ibnu Sa’d)</p>
<p>3. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>اللهم اجعل رزق آل محمد قوتا</strong></p>
<p>“<em>Ya Allah, jadikanlah rezeki untuk keluarga Muhammad adalah sebatas untuk kebutuhan pokoknya</em>.” (H.R. Muslim dan Turmudzi)</p>
<p>Yang  mengagumkan, tidak ditemukan riwayat yang menyebutkan kasus perceraian  beliau dengan para istri beliau, disebabkan himpitan ekonomi dan  kemiskinan yang beliau alami.</p>
<p><strong><em>Semoga Allah menjadikan keluarga kita, keluarga yang sakinah berhias sunah. Amin ….</em></strong></p>
<p>Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com"><strong>www.PengusahaMuslim.com</strong></a></p>
 