
<p>Bagaimana ciri-ciri ashobiyah atau fanatik berlebihan pada kelompok? Boleh jadi kita memilikinya, semoga bisa dijauhi.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika ada dalil yang shahih …</span></h4>
<ul>
<li>dibantah dengan perkataan pemimpin atau kelompoknya.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.” (<em>Madarijus Salikin</em>, 2: 335)</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika mereka punya dalil …</span></h4>
<ul>
<li>dalilnya rapuh.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak mendalami Al Qur’an dan As Sunnah kecuali segilintir orang saja. Sandaran mereka hanyalah hadit-hadits yang rapuh atau hikayat-hikayat dari para tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi keliru.” Fanatik madzhab yang ada dahulu sama dengan fanatik kelompok saat ini.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika ada pendapat yang masih bisa ditolerir …</span></h4>
<ul>
<li>pendapat kelompoknya yang dianggap paling benar sendiri.</li>
</ul>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika ada pendapat luar …</span></h4>
<ul>
<li>tidak diterima, karena bukan dari pimpinan atau kelompoknya.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Sama persis dengan kisah berikut.</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi dalam <em>Siyar A’lam An-Nubala’</em> menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad bin Fadhl Al-Farra’ pernah menjadi imam shalat di Masjid Abdullah selama 60 puluh tahun lamanya. Beliau bermadzhab Syafi’i dan tentu melakukan qunut shubuh. Setelah itu imam shalat diambil alih oleh seseorang yang bermadzhab Maliki dan tidak melakukan qunut shubuh. Karena hal ini menyelisihi tradisi masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan imam yang tidak melakukan qunut shubuh ini, seraya berkomentar, “Shalat imam tersebut tidak becus!!!”</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika dinasihati dan dikritik …</span></h4>
<ul>
<li>sulit menerima, lebih-lebih nasihat dan kritikan yang menentang pendapat kelompoknya.</li>
</ul>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika ada kekeliruan dalam kelompoknya …</span></h4>
<ul>
<li>anggotanya membela mati-matian tanpa berdalil, bisa jadi pula mengatakan ini kan <em>khilafiyah</em>. Intinya, kelompoknya tidak boleh disalahkan karena ‘<em>so pasti benar</em>‘.</li>
</ul>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika pendukungnya ditanya …</span></h4>
<ul>
<li>lebih cenderung menjawab, kami kan kelompok ini, harus berpendapat seperti itu pula.</li>
</ul>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika berdakwah …</span></h4>
<ul>
<li>yang ditekankan adalah ikuti kelompoknya, bukan ikuti Al-Qur’an dan Hadits, bukan dakwah <em>ilallah</em> yang diarahkan, bukan dakwah pada tauhid dan ikuti tuntunan Nabi. Pokoknya dakwah pada kelompoknya yang dipentingkan.</li>
</ul>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika diperintah bersatu …</span></h4>
<ul>
<li>enggan dengan alasan ego dan kepentingan kelompok.</li>
</ul>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Jika ada anggota yang keluar dari pendapat kelompoknya …</span></h4>
<ul>
<li>dianggap telah menyimpang dan membelot bahkan bisa dikenakan sanksi.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Padahal dalam bermadzhab saja tidak sampai segitu banget. Imam Nawawi yang jadi ulama besar Syafi’iyah saja biasa menyelisihi pendapat imamnya, Imam Syafi’i. Bahkan dalam madzhab Syafi’i saja ada beberapa ‘wajh’ (pendapat), tak sekaku pendapat kelompok. Karena yang ingin diikuti oleh Imam Nawawi adalah dalil.</p>
<blockquote><p>Jadi lebih enak bermadzhab, bebas berpendapat. Namun tentu saja berpendapat yang sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan Hadits.</p></blockquote>
<p>Ingat baik-baik perkataan Imam Syafi’i supaya menjauhi taqlid.</p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah </em>berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi tersebut lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Ashobiyah Kaum Anshar dan Muhajirin</span></h4>
<p>Ketika ada sifat fanatik pada kaum Anshar dan Muhajirin, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengingatkannya. Ashobiyah seperti itu dianggap termasuk sifat jahiliyyah. Sifat ashobiyah yang terjadi karena tolong menolong yang terjadi pada kaum Anshar adalah pada kebatilan, begitu pula pada kaum Muhajirin. Sedangkan sifat orang mukmin adalah saling tolong menolong dalam kebenaran, baik kebenaran itu dari dalam atau luar kaumnya.</p>
<p>Nasihat di atas berlaku untuk diri kami, pada setiap da’i dan pendakwah. Semoga kita terjauhkan dari sifat ashobiyah dan fanatik kelompok yang berlebihan dan melampaui batas.</p>
<p>—</p>
<p>Malam Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1436 H di <a href="http://darushsholihin.com/">Darush Sholihin Warak, GK</a></p>
<p>Penulis: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p>Ikuti update artikel Rumaysho.Com di <a href="https://www.facebook.com/rumaysho" target="_blank">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans)</a>, <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal" target="_blank">Facebook Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="https://twitter.com/RumayshoCom" target="_blank">Twitter @RumayshoCom</a>, <a href="https://instagram.com/rumayshocom" target="_blank">Instagram RumayshoCom</a></p>
<p>Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab.</p>
 