
<h3 lang="id-ID" style="text-align: center;" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Rasulullah Menolak untuk Menjadi Raja dan Tetap Konsisten Memegang Dakwah Tauhid</b></span></h3>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Setiap orang yang hendak meneliti jejak dakwah Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i></span><span lang="id-ID">dia akan mendapati bahwa Rasulullah tidak pernah menjadikan kekuasaan </span><span lang="">atau mendirikan negara </span><span lang="id-ID">sebagai sarana atau bahkan sebagai tujuan utama dakwahnya. Buktinya, ketika ditawarkan kepada beliau untuk memegang kekuasaan sebagai seorang Raja, beliau tetap menolaknya. Beliau tetap konsisten memegang teguh metode dakwah yang telah ditempuh oleh seluruh Rasul yang pernah diutus, yaitu memulai dari aqidah tauhid serta memerangi berbagai bentuk kesyirikan. Berikut ini penulis sampaikan beberapa hadits yang menunjukkan hal tersebut.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Hadits pertama, </b></span><span lang="id-ID">dari Abu Hurairah </span><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="id-ID">dia berkata,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ فَقَالَ جِبْرِيلُ إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ قَبْلَ السَّاعَةِ فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ يَا مُحَمَّدُ أَرْسَلَنِى إِلَيْكَ رَبُّكَ أَفَمَلَكاً نَبِيًّا يَجْعَلُكَ أَوْ عَبْداً رَسُولاً قَالَ جِبْرِيلُ تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ « بَلْ عَبْداً رَسُولاً »</p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Malaikat Jibril duduk di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menengadahkan mukanya ke langit. Tiba-tiba ada seorang malaikat yang turun. Malaikat Jibril berkata,’Malaikat ini belum pernah turun sejak diciptakan kecuali saat ini. Ketika malaikat tersebut turun, beliau berkata,’Wahai Muhammad! Aku diutus kepadamu oleh Rabb-mu. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Apakah Engkau ingin dijadikan sebagai seorang Raja sekaligus Nabi atau seorang hamba sekaligus Rasul?</b></i></span><span lang="id-ID"><i>’ Malaikat Jibril berkata,’Merendahlah kepada Rabb-mu, wahai Muhammad!’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,’</i></span><span lang="id-ID"><i><b>Sebagai seorang hamba dan Rasul.’”</b></i></span><i> </i><span lang="id-ID"><b>[1] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Hadits ke dua, </b></span><span lang="id-ID">ketika dakwah Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">mulai merisaukan hati orang-orang kafir Quraisy, maka mereka mengutus ‘Utbah bin Rabi’ah untuk memberikan beberapa penawaran kepada Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></span><span lang="id-ID">‘Utbah bin Rabi’ah berkata,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">يَا ابْنَ أَخِي ، إنْ كُنْت إنّمَا تُرِيدُ بِمَا جِئْتَ بِهِ مِنْ هَذَا الْأَمْرِ مَالًا جَمَعْنَا لَك مِنْ أَمْوَالِنَا حَتّى تَكُونَ أَكْثَرَنَا مَالًا ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ بِهِ شَرَفًا سَوّدْنَاك عَلَيْنَا ، حَتّى لَا نَقْطَعَ أَمْرًا دُونَك ، وَإِنْ كُنْت تُرِيدُ بِهِ مُلْكًا مَلّكْنَاك عَلَيْنَا ؛ وَإِنْ كَانَ هَذَا الّذِي يَأْتِيك رِئْيًا تَرَاهُ لَا تَسْتَطِيعُ رَدّهُ عَنْ نَفْسِك ، طَلَبْنَا لَك الطّبّ ، وَبَذَلْنَا فِيهِ غَلَبَ التّابِعُ عَلَى الرّجُلِ حَتّى يُدَاوَى مِنْهُ أَوْ كَمَا قَالَ لَهُ . حَتّى إذَا فَرَغَ عُتْبَةُ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Wahai keponakanku! Jika yang Engkau inginkan dari dakwahmu ini adalah harta, maka akan kami kumpulkan harta-harta yang kami miliki untukmu sehingga Engkau menjadi orang yang paling banyak hartanya di antara kami. Jika yang Engkau inginkan adalah kemuliaan, maka akan kami serahkan kemuliaan itu untukmu, sehingga kami tidak bisa memutuskan suatu perkara tanpa dirimu. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Jika yang Engkau inginkan adalah menjadi Raja, maka akan kami angkat Engkau menjadi Raja atas kami.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Apabila Engkau terkena jin yang dapat Engkau lihat namun Engkau tidak dapat menolaknya dari dirimu, maka akan kami carikan pengobatan untukmu. Kami akan mengerahkan seluruh kemampuan kami untuk mengobatimu, karena seseorang terkadang dikalahkan oleh jin yang mengikutinya sampai dia diobati darinya”. </i></span><span lang="id-ID">Atau sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Utbah, sampai dia menyelesaikan perkataannya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Setelah ‘Utbah selesai berbicara, Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">kemudian membacakan surat Fushshilat, dan ketika sampai ke ayat as-sajdah, beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span lang="id-ID"> pun bersujud. Kemudian Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">قَدْ سَمِعْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ مَا سَمِعْتَ فَأَنْت وَذَاكَ</p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Wahai Abul Walid! Sungguh Engkau telah mendengar apa yang telah kau dengar. Maka terserah padamu</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID"><b>[2] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Hadits ke tiga, </b></span><span lang="id-ID">sekelompok orang dari kaum kafir Quraisy berkumpul dan memberikan penawaran kepada Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">dengan penawaran yang hampir sama dengan penawaran yang disampaikan oleh ‘Utbah. Maka Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">menjawab,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">مَا بِي مَا تَقُولُونَ مَا جِئْتُ بِمَا جِئْتُكُمْ بِهِ أَطْلُبُ أَمْوَالَكُمْ وَلَا الشّرَفَ فِيكُمْ وَلَا الْمُلْكَ عَلَيْكُمْ وَلَكِنّ اللّهَ بَعَثَنِي إلَيْكُمْ رَسُولًا ، وَأَنْزَلَ عَلَيّ كِتَابًا ، وَأَمَرَنِي أَنْ أَكُونَ لَكُمْ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ، فَبَلّغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبّي ، وَنَصَحْتُ لَكُمْ فَإِنْ تَقْبَلُوا مِنّي مَا جِئْتُكُمْ بِهِ فَهُوَ حَظّكُمْ فِي الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَإِنّ تَرُدّوهُ عَلَيّ أَصْبِرْ لِأَمْرِ اللّهِ حَتّى يَحْكُمَ اللّهُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ</p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Aku tidak menginginkan tawaran kalian. Aku tidaklah datang dengan membawa misi-misi itu. Aku tidak meminta harta-harta kalian, tidak pula kemuliaan di tengah-tengah kalian, </i></span><span lang="id-ID"><i><b>dan tidak pula meminta tahta kerajaan atas kalian.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Akan tetapi, Allah mengutusku kepada kalian sebagai seorang Rasul, menurunkan kepadaku sebuah kitab, dan memerintahkanku untuk memberikan kabar gembira dan peringatan kepada kalian. Aku telah menyampaikan risalah Rabb-ku kepada kalian dan telah menasihati kalian. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, maka itulah keberuntungan kalian di dunia dan di akhirat. Jika kalian menolaknya, maka kewajibanku adalah bersabar atas urusan Allah tersebut sampai Allah memutuskan (perkara) antara aku dengan kalian</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang=""><b>[3] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Kesimpulan dan faidah yang bisa kita ambil dari kisah-kisah ini adalah para Nabi tidaklah diutus untuk menghancurkan sebuah negara kemudian mendirikan negara yang baru, tidak pula untuk meminta kekuasaan, atau mendirikan partai-partai untuk meraih kekuasaan tersebut. Akan tetapi, mereka datang untuk memberikan petunjuk bagi umat manusia, menyelamatkan mereka dari kesesatan dan kesyirikan, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dan juga memberikan peringatan kepada mereka dengan janji Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Meskipun ditawarkan kepada mereka tahta kerajaan, sungguh mereka pasti menolaknya. Mereka tetap konsisten menempuh metode dakwah mereka. Kaum kafir Quraisy telah menawarkan tahta sebagai raja kepada beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i></span><span lang="id-ID">akan tetapi beliau tetap menolaknya. Bahkan, ketika Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">sendiri yang menawarkan kepada beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">melalui malaikat-Nya, apakah memilih menjadi seorang Raja sekaligus Nabi atau seorang hamba sekaligus Rasul, maka beliau lebih memilih menjadi seorang hamba sekaligus seorang Rasul.</span> <span lang=""><b>[4]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Hadits-hadits di atas menjadi bantahan telak atas pemikiran yang dimiliki oleh banyak “tokoh-tokoh Islam” saat ini, yang memulai dakwahnya dengan berusaha merebut kekuasaan </span><span lang="">atau </span><span lang="id-ID">dengan mendirikan</span><span lang=""> negara (khilafah)</span><span lang="id-ID">. Logika mereka, syari’at Islam tidak akan bisa dijalankan secara sempurna kecuali dengan mendirikan sebuah negara </span><span lang="">(khilafah) </span><span lang="id-ID">terlebih dahulu atau minimal dapat membuat “undang-undang Islami”. Sehingga perhatian dakwah mereka selanjutnya adalah bagaimana dapat </span><span lang="">segera </span><span lang="id-ID">men</span><span lang="">dirikan sebuah khilafah. A</span><span lang="id-ID">pa pun dan bagaimana pun kondisi umat yang mereka pimpin</span><span lang=""> (apakah di atas tauhid ataukah di atas kesyirikan; apakah di atas sunnah ataukah di atas bid’ah)</span><span lang="id-ID">, tidaklah menjadi masalah bagi mereka, yang penting </span><span lang="">mereka berhasil mendirikan negara (khilafah) Islam</span><span lang="id-ID">.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Maka kita sampaikan kepada mereka, kalaulah benar pemikiran dan logika mereka itu, maka tentu Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">akan lebih memilih menjadi seorang Rasul sekaligus sebagai seorang Raja daripada seorang Rasul namun statusnya hanya sebagai seorang hamba biasa yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Kalau merebut kekuasaan </span><span lang="">dan mendirikan negara </span><span lang="id-ID">merupakan suatu jalan yang mulia dan berfaidah, niscaya beliau akan menempuhnya tanpa terlambat sedetik pun. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Beliau akan menerima tawaran dari Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">untuk menjadi seorang Rasul sekaligus sebagai seorang Raja. Karena logikanya, dengan menjadi seorang raja sekaligus Rasul, tentu dakwah akan menjadi lebih mudah dan akan lebih cepat mendatangkan hasil yang diinginkan. Tentu tidak akan ada orang kafir Quraisy yang berani menyakiti dan merintangi dakwah beliau, karena beliau adalah seorang Raja yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Tentu dengan menjadi seorang Raja, beliau lebih mudah menjalankan misi-misi kerasulan untuk menghancurkan berhala-berhala sejak awal periode kerasulan beliau di Mekah, serta lebih mudah pula untuk memaksa orang Quraisy agar beragama tauhid. Beliau pun dapat melindungi sahabatnya dari kekejaman kaum kafir Quraisy. Dan beliau pun tidak perlu diliputi ketakutan sehingga harus repot-repot berhijrah ke Madinah. Akan tetapi, beliau tetap memegang teguh </span><span lang="id-ID"><i>manhaj </i></span><span lang="id-ID">dakwah tauhid sebagaimana para Rasul sebelumnya. Oleh karena itu, sebagaimana Rasulullah tidak memulai dakwahnya dengan ambisi merebut kekuasaan, maka beliau juga tidak mengawali dakwahnya dengan perbaikan ekonomi atau perbaikan sosial budaya. </span><span lang=""><b>[5] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[Bersambung]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">Selesai disempurnakan di siang hari, Lab EMC Rotterdam NL, 17 Rajab 1436</p>
<p lang="id-ID" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Penulis:</span><span lang="id-ID"><b> M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<h5 class="sdfootnote" lang="id-ID" align="JUSTIFY"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">[1]</span><i> </i><span lang="id-ID">HR. Ahmad dalam </span><span lang="id-ID"><i>Musnad </i></span><span lang="id-ID">no. 7359 dan Ibnu Hibban dalam </span><span lang="id-ID"><i>Shahih-</i></span><span lang="id-ID">nya no. 6365. Syaikh Syu’aib Arnauth berkata dalam </span><span lang="id-ID"><i>tahqiq </i></span><span lang="id-ID">beliau terhadap </span><span lang="id-ID"><i>Shahih Ibnu Hibban,”Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim”. </i></span><span lang="id-ID">Hadits ini dinilai </span><span lang="id-ID"><i>shahih </i></span><span lang="id-ID">oleh Syaikh Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i>Silsilah Ash-Shahihah</i></span><span lang="id-ID"> no. 1002.</span></p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">[2] </span><span lang="id-ID">Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam di dalam </span><span lang="id-ID"><i>As-Sirah, </i></span><span lang="id-ID">1/292 dari Ibnu Ishaq. Syaikh Rabi’ </span><span lang="id-ID"><i>hafidzahullah </i></span><span lang="id-ID">mengatakan,</span><span lang="id-ID"><i>”Kisah ini mempunyai penguat dalam hadits Jabir yang dikeluarkan oleh ‘Abdu bin Humaid dan Abu Ya’la. Takhrij hadits tersebut telah disebutkan sebelumnya (hal. 96) </i></span><span lang="id-ID">[dan beliau menyatakan bahwa sanadnya </span><span lang="id-ID"><i>tsiqoh, </i></span><span lang=""><i>pen.</i></span><span lang="id-ID">] </span><span lang="id-ID"><i>sehingga kisah ini menjadi kuat dan kokoh”. </i></span><span lang="id-ID"> Lihat </span><span lang="id-ID"><i>Manhajul Anbiya’ fi Ad-Da’wati Ilallah, </i></span><span lang="id-ID">hal. 113.</span></p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">[3] </span><span lang="id-ID">Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam di dalam </span><span lang="id-ID"><i>As-Sirah, </i></span><span lang="id-ID">1/295 dari Ibnu Ishaq. Syaikh Rabi’ </span><span lang="id-ID"><i>hafidzahullah </i></span><span lang="id-ID">mengatakan,</span><span lang="id-ID"><i>”Hadits ini menjadi penguat hadits sebelumnya </i></span><span lang="id-ID">[yaitu hadits ke dua di atas, </span><span lang="">pen.</span><span lang="id-ID">] </span><span lang="id-ID"><i>dan masing-masing di antara keduanya saling menguatkan”. </i></span><span lang="">Lihat </span><span lang="id-ID"><i>Manhajul Anbiya’ fi Ad-Da’wati Ilallah, </i></span><span lang="id-ID">hal. 114</span><span lang="">.</span></p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">[4] </span><span lang="">Lihat </span><span lang="id-ID"><i>Manhajul Anbiya’ fi Ad-Da’wati Ilallah, </i></span><span lang="id-ID">hal. 11</span><span lang="">5.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">[</span><span lang="">5</span><span lang="id-ID">]</span><span lang="id-ID"> Disarikan dari buku penulis, </span><span lang="id-ID"><i>“Saudaraku … Mengapa Engkau Enggan Mengenal Allah?” </i></span><span lang="id-ID">(Pustaka Al-Fajr, Yogyakarta, tahun 2010).</span></p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 