
<p>Dengan bismillah mesra, kami semburkan tinta ini untuk hati yang  tengah gundah dan gulana. Semoga Alloh meridhoi dan menjadikan kami dan  anda sebagai orang yang ikhlas dalam beramal. Pula, semoga dengan hitam  diatas putih ini adalah saksi agar kami dapat menatap wajah-Nya kelak di  Surga, sebuah negeri penuh cinta.</p>
<p>  <!--more-->  </p>
<p> </p>
<p>Sahabat,  begitu sering  kegalauan jiwa menginangi hati. Jadilah hati itu gundah. Gelisah pun  secara perlahan mendominasi hingga pikiran jernih tak lagi diraih. Telah  tiba musim jenuh yang memalaskan raga untuk peragakan amal shalih,  mendiamkan hati agar tak terpaut dengan Allah, dan membisukan lisan agar  tak semburatkan sejuta kebaikan.</p>
<p>Kapankah datang musim semi yang menghadiahkan pucuk-pucuk keimanan bagi dahan jiwa?</p>
<p>Kapankah bertandang musim hujan yang menunaskan rumput-rumput ketakwaan?</p>
<p>Tenanglah  sahabat. Kepadamu, dari sudut beranda kalbu, kami bisikkan semilir  untaian kata bahwa hanya karena Alloh lah kami mencintaimu. Sehingga tak  pelak kami goreskan tinta ini untuk kami dan untukmu.</p>
<p>Pun  kiranya tak perlu banyak kata untuk membuatmu menjauhi tulisan ini, dan  tak perlu pula sajak bintang berirama indah untuk membuatmu punah dari  gundah. Tapi di tulisan ini, kami berharap ada banyak rasa yang akan  membuatmu jadi permatanya. Maka tetaplah disini. Buka mata dan hati.  Tersenyumlah, karena senyummu adalah begitu indah sejukkan hati.</p>
<p> </p>
<p>–<strong>–000—-000—</strong></p>
<p>Sahabat,</p>
<p>Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p><em>“Salah  satu di antara tujuh golongan orang yang akan diberi naungan Allah pada  hari kiamat adalah; seorang yang mengingat Allah lantas kedua matanya  pun mengalirkan air mata.” </em>[1].</p>
<p>Tapi…</p>
<p>Tapi…</p>
<p>Bagaimana  mungkin hati bisa tersentuh dan mata membulirkan air yang menandakan  sejuknya keimanan sementara saat ini hati kita tengah mati?</p>
<p>Sungguh  kita adalah orang-orang yang menzhalimi diri sendiri dengan kemaksiatan  yang kita lakukan. Mata kita ini bukan menangis karena takut pada  Alloh, namun karena sinetron cinta picisan. Mata ini terbangun pula di  gulita mala namun bukan untuk bermunajat pada-Nya namun hanyalah sekedar  untuk menelpon si “dia”, menonton acara-acara murahan.</p>
<p>Suara  serak kita ini bukanlah karena bacaan tilawah Al-qur’an atau  mengulang-ngulang hafalannya namun karena bersenandung lagu-lagu cinta  ala anak muda. Hingga bait-bait lirik lagu lebih kita kenal dibanding  bacaan indah Al-qur’an.</p>
<p>Bukan pula kata-kata yang baik dan enak terdengar namun kata-kata yang penuh dusta dan menusuklah yang terlontar.</p>
<p>Kaki  kitapun, jarang kita dapati langkahnya untuk menuju majelis zikir,  majelis ilmu, beribadah lima waktu di masjid, malahan degup langkah  bertapak ke konser musik, Mall dan tempat shopping lainnya.</p>
<p>Ya Robbi, sungguh kami termasuk orang yang merugi. Ampunilah diri kami. Ampunilah kami.</p>
<p>Takutlah  kita dengan azab Allohu ta’ala. Cobalah renungilah tentang maut. Saat  sakaratul maut, terlihat demikian mudahnya arwah orang mukmin keluar  dari raganya, akan tetapi bukan berarti bebas dari rasa sakit! Tidak,  sekali-kali tidak.</p>
<p>Adakah keraguan pada diri kita bahwa  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang mukmin yang  paling sempurna keimanannya? Akan tetapi kemulian dan kesempurnaan iman  beliau tidak dapat melindungi beliau dari dahsaytnya sakaratul maut.  Oleh karena itu, tatkala beliau menghadapi sakaratul maut, beliau begitu  gundah. Beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya  dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air.  Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda: <em>“Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih.” [2]</em></p>
<p>Pada  suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab Radhiyallahu ‘anhu bertanya  kepada Ka’ab Al Ahbaar: “Wahai Ka’ab, ceritakan kepada kita tentang  kematian!</p>
<p>Ka’ab pun berkata: <em>“Wahai Amirul Mukminin!  Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang dahan yang banyak  berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda, sehingga setiap duri  menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu sekonyong-konyong  ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah perkasa.  Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu dan apa  yang akan tersisa!” [</em>3]</p>
<p>Syaddaad bin Al Aus berkata: <em>“Kematian  adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di  dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda  digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk.  Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang  apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak  akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur  nyenyak.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Bila demikian dahsyatnya rasa  sakit yang menimpa seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut, maka  bagaimana dengan diri kita wahai saudara-saudara kami? Betapa banyak  dosa dan kemaksiatan yang menodai lembaran amal kita? Sedang masihkah  kita masih terpaku dengan pacaran, taruhan, judi, minum minuman keras  dan tidak menutup aurat?</p>
<p>Sahabat..</p>
<p>Cobalah  ingat kembali, rasa pedih dan sakit yang pernah kita rasakan ketika  tertusuk atau tersengat api! Sangat menyakitkan bukan? Padahal syaraf  yang merasakan rasa sakit hanyalah sebagiannya. Walau demikian, rasanya  begitu menyakitkan, sehingga susah untuk dilupakan? Bagaimana halnya  bila kelak pada saat sakaratul maut seluruh syaraf kita merasakan sakit.  Disaat ruh kita berusaha berpegangan erat-erat dengan setiap syaraf  anda sedangkan Malaikat Maut mencabutnya dengan keras dan kuat.  Betul-betul menyakitkan. Penampilan Rasa Malaikat Maut yang begitu seram  dan menakutkan akan semakin menambah pedih rasa sakit yang kita  rasakan.</p>
<p>Sahabat,..</p>
<p>Siapkah kita menjalani pengalaman yang begitu menakutkan dan begitu menyakitkan?</p>
<p>Bila  kita tidak kuasa menjalani sakaratul maut yang sangat menyakitkan  seperti ini, maka mengapa noda-noda maksiat terus mengotori lembaran  amal dan menghitamkan hati kita? Mengapa kaki terasa kaku, tangan serasa  terbelenggu, mata seakan melekat dan pintu hati seakan terkunci ketika  ada seruan beribadah kepada Allah?’ [4]</p>
<p>Ketahuilah bahwa  itu hanyalah sedikit kabar bagaimana pedihnya sakaratul maut. Belum lagi  ditambah dengan siksa kubur yang tak  kalah dahsyatnya dan juga  pedihnya siksa api neraka. Sedang siksa neraka yang paling ringan saja  adalah ketika kaki menginjak neraka dan membuat otak mendidih. Lemas  diri ini membuat tulisan ini. Takut sekali rasanya. Ya robbi, sungguh  zholim diri ini, maka ampunilah kami, jikalau Kau tidak mengampuni  kepada siapa lagi hendak kami akan mohon ampun ini.</p>
<p>Kiranya, kami goreskan pena ini hanyalah untuk diri kami karena hati kami mati, kami yakin hati kalian masih bersemi.</p>
<p> </p>
<p><strong>***</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Penulis : Erlan Eskandar</p>
<p>Penyunting &amp; Penyelaras  Bahasa : <a href="http://raudhatul-muhibbin.blogspot.com/">Abdullah Akiera Van As-samawiey</a></p>
<p> </p>
<p>Artikel <a href="../../undefined/">www.remajaislam.com</a></p>
<p>________</p>
<p><strong>Footnote :::</strong></p>
<p> </p>
<p>[1] HR. Bukhari dalam      Kitab Ar-Riqaq [6114][2] HR. Imam Bukhari</p>
<p>[3] Riwayat Abu Nu’aim      Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’</p>
<p>[4] Sebuah renungan      terhadap kematian, ust Arifin Badri, dari <a href="http://www.almanhaj.or.id/" target="_blank" rel="nofollow">www.almanhaj.or.id</a> , dengan sdikit      editin</p>
 