
<p> </p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Menisbatkan Metode Diet dengan Islam</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian orang ingin memiliki badan yang ideal atau ingin menurunkan berat badan. Karena keinginan itu, banyak di antara mereka yang menempuh berbagai metode diet, menjaga aktivitas dan latihan fisik, serta menjaga pola tidur yang cukup dan tidak stres. Sebagian yang lain melakukan diet khusus karena memang ingin menjaga diri dari penyakit. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika hal itu tidak disangkut-pautkan dengan syariat atau ajaran Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">tentu tidak masalah. Dengan catatan bahwa pola diet tersebut tidak justru membahayakan tubuh. Hanya saja sebagian pihak bersikap lancang dengan menisbatkan pola makan atau pola diet tertentu sebagai ajaran (sunnah) Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p>Sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya, menisbatkan sesuatu sebagai sunnah atau ajaran Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>adalah perkara yang berat dan berbahaya. Oleh karena itu, dalam bab ini akan kami sampaikan hadits-hadits atau petunjuk Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>yang berkaitan dengan masalah ini dan bagaimanakah penjelasan ulama tentangnya.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47974-hukum-berbicara-ketika-makan.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Berbicara Ketika Makan</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Berbagai Dalil yang Berkaitan dengan Makanan</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam Al-Qur’an kita dapati petunjuk dari Allah Ta’ala agar makan makanan yang halal dan thayyib, serta menjauhkan diri dari makanan haram. Selain itu, kita diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan ketika makan, meskipun makanan halal. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 168) </b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang salih. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” </span><b>(QS. Al-Mu’minun [23]: 51)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan.” </span><b>(QS. Al-A’raf  [7]: 31)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Larangan sikap berlebih-lebihan juga ditegaskan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ الْآدَمِيِّ، لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ غَلَبَتِ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ، فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ، وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ، وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.” </span><b>(HR Ibnu Majah no. 3349, dinilai shahih oleh Al-Albani)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/35385-mengerikan-ternyata-ini-menu-makan-penduduk-neraka-part-2.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Mengerikan, Ternyata Ini Menu Makan Penduduk Neraka</strong></a></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Penjelasan Ulama Tentang Pokok Kesehatan</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">-rahimahullahu Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">– berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pokok (inti) kesehatan ada tiga. </span></p>
<p><b>Pertama,</b><span style="font-weight: 400;"> menjaga kesehatan dengan memanfaatkan (melakukan) berbagai hal yang bermanfaat. </span></p>
<p><b>Ke dua,</b><span style="font-weight: 400;"> menjaga diri dari berbagai hal yang membahayakan kesehatan.</span></p>
<p><b>Ke tiga,</b><span style="font-weight: 400;"> menghilangkan (membuang) kotoran atau penyakit yang masuk ke badan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua permasalahan kesehatan kembali kepada tiga inti pokok tersebut. Dan sungguh Al-Qur’an telah mengingatkan dalam firman-Nya tentang menjaga kesehatan dan membuang kotoran (penyakit) (yang artinya), “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf  [7]: 31).” </span><b>(</b><b><i>Al-Qawa’idul hisaan, </i></b><b>hal. 150)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau –</span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala- </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala memerintahkan untuk makan dan minum, dua aktivitas yang sangat dibutuhkan oleh badan (poin pertama). Perintah tersebut bersifat mutlak, yang menunjukkan bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi hendaklah sesuatu yang baik dan bermanfat untuk manusia di setiap waktu dan keadaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan Allah Ta’ala melarang dari sikap berlebih-lebihan, misalnya dengan terlalu banyak makan dan minum. Ini adalah bentuk penjagaan dari segala sesuatu yang berpotensi membahayakan badan manusia. Jika makanan pokok yang sangat dibutuhkan saja tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi ketika ada potensi membahayakan kesehatan badan, maka bagaimana lagi dengan yang selain makanan pokok?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diperbolehkan bagi orang yang sakit untuk tayammum, sebagai pengganti berwudhu dengan air, jika menggunakan air dapat membahayakan kesehatannya. Hal ini sebagai bentuk penjagaan dari hal-hal yang dapat membahayakan kesehatan (poin ke dua). Demikian pula diperbolehkan bagi orang yang sedang berihram jika ada penyakit di kepalanya untuk mencukurnya. Ini termasuk dalam bentuk menghilangkan penyakit yang ada di badan (poin ke tiga). Lalu bagaimana lagi jika ada hal-hal yang lebih berbahaya dari itu semua? </span><b>(Lihat </b><b><i>Al-Qawa’idul hisaan, </i></b><b>hal. 150)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat-ayat dan hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan secara global petunjuk syariat dalam urusan makanan. Allah Ta’ala tidak merinci makanan apa saja yang baik dimakan, karena tentunya sangat banyak makanan halal di dunia ini yang Allah Ta’ala sediakan. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28100-fatwa-ulama-hukum-makan-di-restoran-jepang-atau-cina.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Makan Di Restoran Jepang Atau Cina</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Kesederhanaan Rasulullah dalam Masalah Makanan</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita memperhatikan hadits-hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tentang urusan makanan, kita dapati potret kesederhanaan yang luar biasa dari beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam urusan makanan, beliau tidaklah berlebih-lebihan dan hanya meminta rizki makanan secukupnya. Hal ini sebagaimana doa beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, jadikan rizki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya.” </span><b>(HR. Muslim no. 1055)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda dengan kita umumnya yang makan 2-3 kali sehari sampai kenyang, maka Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">baru merasakan kenyang tiap 2-3 hari sekali. Kondisi ini diceritakan oleh ibunda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ما شبع آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ من خبزِ شعيرٍ ، يومَين مُتتابِعَينِ ، حتى قُبِضَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Keluarga Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum dalam dua hari berturut-turut, sampai beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">wafat.” </span><b>(HR. Muslim no. 2970)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat yang lain, kondisi tidak kenyang tersebut berlangsung sampai tiga hari, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ المَدِينَةَ، مِنْ طَعَامِ بُرٍّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا، حَتَّى قُبِضَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Keluarga Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak pernah merasakan kenyang karena makan </span><i><span style="font-weight: 400;">burr </span></i><span style="font-weight: 400;">(gandum kasar) dalam tiga hari berturut-turut, sampai beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">wafat.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6454 dan Muslim no. 2970)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkadang, makanan berupa roti gandum tersebut dicampur dengan semacam kuah. Ibunda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Keluarga Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi </span><i><span style="font-weight: 400;">idam</span></i><span style="font-weight: 400;"> (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai dia bertemu dengan Allah (wafat).” </span><b>(HR. Bukhari no. 5423)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun yang dimaksud </span><i><span style="font-weight: 400;">idam</span></i><span style="font-weight: 400;">, dijelaskan dalam kamus </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mu’jam Al-Wasith</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ما يُسْتَمْرَأُ به الخبز</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“sesuatu (makanan atau kuah) yang biasa digunakan untuk membantu menelan roti.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkadang, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak makan sama sekali karena memang tidak punya makanan. Dan pada kondisi semacam itu, beliau pun kemudian berpuasa sunnah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ibunda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍ يا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟ قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌء قال فإني صائمٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bertanya kepadaku pada suatu hari, “Wahai ‘Aisyah, apakah Engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini)?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, kita tidak memiliki makanan sedikit pun (untuk dimakan).” Beliau lalu berkata, “Kalau begitu, aku akan puasa hari ini.” </span><b>(HR. Muslim no. 1154)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kondisi semacam ini bisa berlangsung berhari-hari hingga sebulan. Hal ini sebagaimana penuturan ibunda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pernah kami melalui suatu bulan yang ketika itu kami tidak menyalakan api sekali pun. Yang kami miliki hanyalah kurma dan air, kecuali ada yang memberi kami hadiah berupa potongan daging kecil untuk dimakan.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6458)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemungkinan yang lebih mendekati dari hadits-hadits di atas adalah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sedikit makan bukan karena sengaja ingin diet, akan tetapi karena memang demikian sederhananya rizki yang Allah Ta’ala karuniakan kepada beliau yang banyak sekali hikmah yang bisa kita petik dari hal ini. Di antara indikasinya, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bertanya kepada ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha, </span></i><span style="font-weight: 400;">apakah ada makanan? Artinya, kalau ada makanan, tentu akan Nabi makan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan akan berpuasa, tidak lama kemudian, ‘Aisyah diberi hadiah berupa makanan -atau dengan redaksi: seorang tamu mengunjungi ‘Aisyah-.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah berkata, “Ketika Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> kembali, saya pun berkata, “Ya Rasulullah, tadi ada orang datang memberi kita makanan dan aku simpan untukmu.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bertanya, “Makanan apa itu?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya menjawab, “Roti </span><i><span style="font-weight: 400;">khais</span></i><span style="font-weight: 400;"> (yakni roti yang terbuat dari kurma, minyak samin, dan keju).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bersabda, “Bawalah kemari.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka roti itu pun aku sajikan untuk beliau. Lalu beliau makan, kemudian berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sungguh dari pagi tadi aku puasa.” </span><b>(HR. Muslim no. 1154)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam lanjutan hadits di atas, jelas Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">membatalkan puasanya ketika ada makanan. Kalau maksud Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah untuk diet, tentu Nabi tetap melanjutkan puasa meskipun ada makanan. Sehingga sekali lagi, makna yang lebih mendekati dari hadits-hadits di atas adalah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">jarang makan karena keterbatasan dan kondisi ekonomi yang sederhana yang Allah tetapkan untuk beliau, bukan karena sengaja ingin diet demi kesehatan tubuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga jika kita melihat keterangan para sahabat Nabi yang mereka sangat memahami kehidupan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Sebagaimana atsar dari sahabat An-Nu’man bin Basyir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dia mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ألَسْتُم في طعامٍ وشرابٍ ما شِئْتُم ؟ لقد رأَيْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وما يجِدُ مِن الدَّقَلِ ما يملَأُ به بطنَه</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bukankah kalian senantiasa memiliki makanan untuk dimakan dan minuman untuk diminum sesuka kalian? Sungguh aku melihat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> beliau tidak mendapati sekedar </span><i><span style="font-weight: 400;">daql </span></i><span style="font-weight: 400;">(kurma yang buruk kualitasnya) untuk memenuhi perutnya.” </span><b>(HR. Muslim no. 2977)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sini An-Nu’man bin Basyir menasihati para sahabat untuk senantiasa bersyukur atas kecukupan rizki berupa makanan dan minuman, dengan mengambil ibrah dari kehidupan  Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka jelas sekali dari hadits ini bahwa para sahabat memahami bahwa keadaan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang terkadang tidak mendapati makanan atau jarang sekali mendapati perutnya kenyang oleh makanan ini bukan karena beliau bersengaja atau untuk melakukan metode diet atau untuk mempraktekkan gaya hidup sehat tertentu. Andaikan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersengaja melakukan itu karena mempraktekkan metode diet atau semisalnya, tentu An-Nu’man bin Basyir tidak akan menjadikannya sebagai ibrah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan dari hadits An-Nu’man bin Basyir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> ini juga, kita memahami bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> melakukan itu semua bukan dalam rangka </span><i><span style="font-weight: 400;">qurbah </span></i><span style="font-weight: 400;">(ibadah) dan beliau tidak mengajarkan para sahabatnya untuk memiliki pola makan yang sama seperti beliau. Nyatanya, An-Nu’man bin Basyir mengatakan kepada para sahabat,  “Bukankah kalian senantiasa memiliki makanan untuk dimakan dan minuman untuk diminum sesuka kalian?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, umumnya para sahabat berkecukupan dalam masalah makanan dan minuman, bahkan mereka makan setiap hari. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Andaikan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam rangka qurbah dan bernilai ibadah atau merupakan pola maka terbaik, maka tentunya para sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">ridhwanullah ‘alaihim ajma’in</span></i><span style="font-weight: 400;"> sudah berlomba-lomba untuk menirunya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27864-fatwa-ulama-hukum-makan-daging-kuda.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Makan Daging Kuda</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25024-shalat-ketika-makanan-sudah-dihidangkan.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat Ketika Makanan Sudah Dihidangkan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 23 Shafar 1441/22 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 