
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang keras melihat ke atas ketika shalat. Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab">مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلاَتِهِمْ</p>
<p>“Berani sekali mereka mengangkat pandangannya ke atas ketika mereka shalat.”</p>
<p>Beliau memberikan ancaman,</p>
<p class="arab">لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ</p>
<p>“Hendaknya mereka hentikan kebiasaan itu, atau mata mereka akan disambar.” (HR. Bukhari no.750 dan Muslim no. 428)</p>
<p>Dari hadis ini, ulama berbeda pendapat mengangkat pandangan ke atas ketika berdoa di luar shalat.</p>
<p>Dalam “Ensiklopedi Fiqh” dinyatakan,</p>
<p class="arab">نص الشافعية على أن الأولى في الدعاء خارج الصلاة رفع البصر إلى السماء ، وقال الغزالي منهم : لا يرفع الداعي بصره إليها</p>
<p>“Syafiiyah menegaskan bahwa yang lebih dianjurkan dalam doa di luar shalat, mengangkat pandangan ke atas. Sementari al-Ghazali mengatakan, ”Tidak boleh mengangkat pandangannya ke atas.” (<em>al-Mausu’ah al-Fiqhiyah</em>, 8/99).</p>
<p>Keterangan lain disampaikan an-Nawawi,</p>
<p class="arab">قَالَ الْقَاضِي عِيَاض : وَاخْتَلَفُوا فِي كَرَاهَة رَفْع الْبَصَر إِلَى السَّمَاء فِي الدُّعَاء فِي غَيْر الصَّلَاة فَكَرِهَهُ شُرَيْح وَآخَرُونَ , وَجَوَّزَهُ الْأَكْثَرُونَ</p>
<p>“Al-Qodhi Iyadh mengatakan, ‘Ulama berbeda pendapat tentang hukum melihat ke atas ketika berdoa di luar shalat. Syuraih dan beberapa ulama lainnya menilai makruh, sementara mayoritas ulama membolehkannya'”. (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, 4/152)</p>
<p>Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah <strong>dibolehkan</strong>. Sedangkan <strong>larangan melihat ke atas, hanya berlaku ketika shalat</strong>. Berdasarkan hadis yang melarang keras perbuatan ini. Selain itu, dibolehkan.</p>
<p>Imam Bukhari membuat judul bab dalam shahihnya,</p>
<p class="arab">باب رفع البصر إلى السماء</p>
<p>“Bab bolehnya melihat ke atas”</p>
<p>Kemudian beliau menyebutkan firman Allah,</p>
<p class="arab">أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ ( ) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ</p>
<p>“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, ( ) dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” (QS. al-Ghasiyah: 17-18)</p>
<p>Diantara dalil yang menunjukkan bolehnya melihat ke atas ketika berdoa, diantaranya, hadis Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, beliau menceritakan,</p>
<p>“Saya pernah melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> duduk di dekat pojok Ka’bah, lalu beliau melihat ke atas, lalu tertawa. Kemudian beliau bersabda,</p>
<p class="arab">لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ ثَلَاثًا ، إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ الشُّحُومَ فَبَاعُوهَا</p>
<p>“Allah melaknat orang yahudi (3 kali). Sesungguhnya Allah mengharamkan mereka makan gajih, namun mereka menjualnya….. (HR. Abu Daud no. 3488 dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p><strong>Boleh Tapi Tidak Dianjurkan</strong></p>
<p>Syaikhul Islam mengatakan,</p>
<p class="arab">ولا يكره رفع بصره إلى السماء في الدعاء ؛ لفعله صلى الله عليه وسلم ، وهو قول مالك والشافعي ، ولا يستحب</p>
<p>“Tidak dimakruhkan melihat ke atas ketika berdoa (di luar shalat), mengingat perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan pendapat Imam Malik, dan as-Syafii. Meskipun tidak dianjurkan”. (<em>Al-Fatawa al-Kubro</em>, 5/338)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p>—-<br>
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 