
<p>Seperti kita ketahui bersama bahwa dosa itu terbagi menjadi dua yaitu  dosa besar dan dosa kecil. Namun perlu diketahui bahwa dosa kecil  sebenarnya bisa menjadi besar, jika dilakukan karena sebab-sebab  berikut. Kita perlu mengetahui hal ini agar kita tidak menganggap remeh  suatu dosa.   <!--more-->  </p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama</strong></span>: Dosa kecil tersebut sudah  menjadi kebiasaan dan dilakukan terus menerus.</p>
<p>Terdapat sebuah  hadits yang maknanya <em>shahih</em> (benar), namun didhoifkan  (dilemahkan) oleh para ulama pakar hadits,</p>
<p dir="rtl" align="center">لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ  الاِسْتِغْفَارِ وَ لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ</p>
<p>“<em>Tidak  ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah)  dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.</em>”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Kalau  dosa besar sudah ditaubati, maka janganlah diikuti dengan dosa lainnya  yang semisal, begitu pula janganlah diteruskan dengan dosa-dosa kecil.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua</strong></span>:  Dosa bisa dianggap besar di sisi Allah jika seorang hamba menganggap  remeh dosa tersebut. Oleh karenanya, jika seorang hamba menganggap besar  suatu dosa, maka dosa itu akan kecil di sisi Allah. Sedangkan jika  seorang hamba menggaggap kecil (remeh) suatu dosa, maka dosa itu akan  dianggap besar di sisi Allah. Dari sinilah jika seseorang mengganggap  besar suatu dosa, maka ia akan segera lari dari dosa dan betul-betul  membencinya.</p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center">إِنَّ  الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ  يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ  عَلَى أَنْفِهِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya seorang mukmin melihat  dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung  tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar  maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu  saja di hadapan batang hidungnya.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftn2"><strong>[2]</strong></a> </em></p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center">إِنَّكُمْ  لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ،  إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –  الْمُوبِقَاتِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan  (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para  sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em></p>
<p>Bilal  bin Sa’ad <em>rahimahullah </em>mengatakan, “<em>Janganlah engkau  melihat kecilnya suatu dosa, namun hendaklah engkau melihat siapa yang  engkau durhakai.”</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga</strong></span>: Memamerkan suatu  dosa.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center">كُلُّ أُمَّتِى  مُعَافَاةٌ إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ  الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ  فَيَقُولُ يَا فُلاَنُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ  بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ  يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ</p>
<p><em>“Setiap umatku akan  diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk melakukan  jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi  harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai  fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam  Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia  sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat</strong></span>:  Dosa tersebut dilakukan oleh seorang alim yang dia menjadi panutan bagi  yang lain.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center">وَمَنْ سَنَّ  فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ  عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ  أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu  amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat  baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi  dosanya sedikitpun</em>.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Sehingga  bagi seorang alim yang menjadi panutan lainnya, hendaknya ia: [1]  meninggalkan dosa dan [2] menyembunyikan dosa jika ia terlanjur  melakukannya.</p>
<p>Sebagaimana dosa seorang alim bisa berlipat-lipat  jika ada yang mengikuti melakukan dosa tersebut, maka begitu pula dengan  kebaikan yang ia lakukan. Jika kebaikan tersebut diikuti orang lain,  maka pahalamu akan semakin berlipat untuknya. Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center">مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً  فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا  وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ</p>
<p>“<em>Barangsiapa  melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya,  maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang  mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka  peroleh.</em>”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Semoga  Allah selalu memudahkan kita untuk melaksanakan kebaikan dan  menghindarkan kita dari setiap dosa. <em>Amin Ya Mujibas Saa-ilin</em>.</p>
<p> </p>
<p>Disarikan  dari penjelasan Ibnu Qudamah Al Maqdisi <em>rahimahullah </em>dalam  kitab <strong><em>Mukhtashor Minhajul Qoshidin</em></strong>, hal. 242,  terbitan Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1426 H</p>
<p> </p>
<p>Terinspirasi  di saat Allah menurunkan berkah air dari langit di Pangukan-Sleman, 10  Rabi’ul Akhir 1431 H, 25/03/2010</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="../../undefined/">www.remajaislam.com</a></p>
<p> </p>
<hr>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftnref1">[1]</a> Dhoiful Jaami’ no. 6308. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini  diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan sanad lainnya  dari Ibnu ‘Abbas namun mauquf (perkataan Ibnu ‘Abbas), periwayatnya  tsiqoh (terpercaya). Riwayat ini pun munqothi’ (terputus) antara Qois  bin Sa’ad (dia orang Mekkah), ia katakan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftnref2">[2]</a> Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftnref3">[3]</a> Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6492.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990, dari Abu Hurairah.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftnref5">[5]</a> HR. Muslim no. 1017</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2972-dosa-kecil-pun-bisa-menjadi-besar.html#_ftnref6">[6]</a> Idem.</p>
 