
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara sifat Allah Ta’ala yang diyakini dan ditetapkan oleh ahlus sunnah adalah sifat kalam (Maha berbicara). Ahlus sunnah bersepakat (ijma’) untuk menetapkan sifat kalam bagi Allah Ta’ala sesuai dengan petunjuk dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan sifat kalam adalah bahwa Allah Ta’ala berbicara kapan saja yang Allah kehendaki, dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki, dengan topik apa saja yang Allah kehendaki, dengan siapa saja yang Allah kehendaki dari makhluk-Nya (baik malaikat, rasul-Nya, atau yang lain), serta dengan huruf dan suara yang bisa didengar oleh makhluk-Nya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47865-ternyata-orang-musyrik-zaman-dahulu-lebih-paham-makna-kalimat-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Ternyata Orang Musyrik Zaman Dahulu Lebih Paham Makna Kalimat Tauhid</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang penetapan sifat kalam ini telah kami bahas secara cukup detail di tulisan kami sebelumnya </span><b>[1, 2]</b><span style="font-weight: 400;">. Demikian pula nukilan dari para ulama ahlus sunnah tentang aqidah mereka dalam masalah kalam Allah Ta’ala </span><b>[3].</b><span style="font-weight: 400;"> Sehingga fokus tulisan kali ini adalah untuk menekankan kembali apa yang dimaksud dengan kalam Allah menurut aqidah ahlus sunnah.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dua pengertian sifat kalam Allah menurut aqidah ahlus sunnah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sifat kalam Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">(kalamullah)</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang diyakini dan ditetapkan oleh ahlus sunnah mengandung dua pengertian, yaitu:</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">sifat kalam dengan pengertian “sebagai lawan dari bisu”. Allah Ta’ala itu Maha berbicara dalam arti Allah Ta’ala bukan Dzat yang bisu. Allah Ta’ala Maha berbicara sejak dahulu tanpa awal </span><i><span style="font-weight: 400;">(azali)</span></i><span style="font-weight: 400;">, bukan seperti manusia (makhluk) yang baru bisa berbicara setelah sebelumnya (ketika masih bayi) tidak bisa berbicara. Jadi, Allah Ta’ala Maha berbicara sejak dahulu tanpa awal dan terus-menerus Maha berbicara tanpa akhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan kata lain, sifat kalam dengan pengertian semacam ini termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">sifat dzatiyyah, </span></i><span style="font-weight: 400;">karena Allah Ta’ala terus-menerus bersifat dengan sifat tersebut sejak dulu tanpa awal </span><i><span style="font-weight: 400;">(azali)</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan seterusnya tanpa akhir </span><i><span style="font-weight: 400;">(abadi).</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalam dengan pengertian pertama ini disebut juga dengan </span><b><i>“jinsul kalaam”</i></b> <span style="font-weight: 400;">atau </span><b><i>“nau’ul kalaam”.</i></b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46292-apakah-akan-sia-sia-ibadah-tanpa-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Akan Sia-Sia Ibadah Tanpa Tauhid?</a></strong></p>
<p><b>Ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">sifat berbicara dengan pengertian “sebagai lawan dari diam”. Allah Ta’ala itu Maha berbicara dalam arti tidak diam. Allah Ta’ala berbicara kapan saja Allah Ta’ala kehendaki, dengan bahasa apa saja yang Allah Ta’ala kehendaki, dengan topik apa saja yang Allah Ta’ala kehendaki, dan dengan siapa saja yang Allah Ta’ala kehendaki dari makhluk-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kapan Allah Ta’ala berbicara dengan Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam? </span></i><span style="font-weight: 400;">Yaitu ketika Allah Ta’ala berkehendak untuk berbicara dengan Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dan sebelum Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">itu ada, Allah Ta’ala tidak berbicara dengan Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Jadi, kalam Allah Ta’ala dengan pengertian ke dua ini adalah sesuatu yang baru </span><i><span style="font-weight: 400;">(muhdats), </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak qadim</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Karena Allah Ta’ala berbicara dengan topik tertentu (misalnya, berbicara dengan kalimat A) setelah sebelumnya tidak membicarakannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah Kami tentukan </span><b>dan Tuhan telah berfirman (secara langsung) kepadanya.”</b> <b>(QS. Al-A’raf [7]: 143)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala mengatakan bahwa Dia berbicara kepada Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan isi pembicaraan tertentu </span><b>ketika Musa </b><i><span style="font-weight: 400;">‘</span></i><b><i>alaihis salaam</i></b> <b>datang pada waktu yang telah ditentukan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan kata lain, sifat kalam dengan pengertian semacam ini termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">sifat fi’liyyah, </span></i><span style="font-weight: 400;">karena perbuatan Allah Ta’ala berupa berbicara tersebut tergantung dengan kehendak </span><i><span style="font-weight: 400;">(masyi’ah) </span></i><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala berkehendak, Allah Ta’ala berbicara. Dan jika Allah Ta’ala tidak berkehendak, maka Allah Ta’ala tidak berbicara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalam dengan pengertian ke dua ini disebut juga dengan </span><b><i>“afraadul kalaam”</i></b> <span style="font-weight: 400;">atau </span><b><i>“ahaadul kalaam”.</i></b></p>
<p><b>Aqidah ahlus sunnah tentang kalam Allah adalah </b><b><i>“qadiimun nau’; haaditsul ahaad”</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa aqidah ahlus sunnah dalam masalah kalam Allah adalah bahwa kalam Allah itu </span><b><i>“qadiimun nau’; haaditsul ahaad”. </i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan </span><b><i>qadiimun nau’ </i></b><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">qadiim </span></i><span style="font-weight: 400;">artinya dulu tanpa awal; dan </span><i><span style="font-weight: 400;">nau’ </span></i><span style="font-weight: 400;">artinya jenis) artinya, Allah Ta’ala itu Maha berbicara dalam arti tidak bisu, dan Allah Ta’ala sejak dahulu tanpa awal itu Maha berbicara</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dan seterusnya tanpa akhir, Allah Ta’ala tidak bisu. Sifat kalam Allah bukanlah sifat yang baru bagi Allah Ta’ala, tidak sebagaimana sifat berbicara makhluk (manusia), yang baru bisa berbicara setelah usia tertentu dan sebelumnya tidak bisa berbicara. Tidak pernah ada suatu fase di mana Allah Ta’ala itu menjadi Dzat yang bisu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga dalam aqidah ahlus sunnah terdapat istilah,</span> <b><i>“Jinsu kalaamillah qaddimun.” </i></b><span style="font-weight: 400;">(Jenis kalam Allah [yaitu lawan dari bisu] adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">qadiim</span></i><span style="font-weight: 400;">.]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan yang dimaksud dengan </span><b><i>haaditsul ahaad</i></b> <span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">haadits </span></i><span style="font-weight: 400;">artinya perkara baru; </span><i><span style="font-weight: 400;">ahaad </span></i><span style="font-weight: 400;">kurang lebih artinya satuan kalam) adalah masing-masing firman (kalimat) yang diucapkan atau difirmankan oleh Allah Ta’ala adalah perkara yang baru. Karena Allah Ta’ala itu baru berbicara (tidak diam) setelah Allah Ta’ala menghendaki untuk berbicara dengan topik tertentu dan dengan siapa saja yang Allah Ta’ala kehendaki dari makhluk-Nya. Apakah Allah Ta’ala hendak berbicara langsung dengan makhluk-Nya seperti peristiwa dengan Nabi Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alahis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">atau melalui perantaraan Jibril </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alahis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">semua tergantung pada kehendak Allah Ta’ala.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45508-tauhid-kunci-kejayaan-umat-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Tauhid, Kunci Kejayaan Umat Islam</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk memudahkan pembahasan berikutnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">haaditsul ahaad </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam tulisan ini kami terjemahkan dengan </span><b>“satuan kalam”.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga dalam aqidah ahlus sunnah terdapat istilah,</span> <b><i>“Afraadu kalaamillah haditsun.” </i></b><span style="font-weight: 400;">(Satuan kalam Allah adalah perkara yang baru.)</span> <span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan “baru” adalah satuan kalam Allah itu </span><b>dulu tidak ada, sekarang ada, dan setelahnya tidak ada.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk lebih memudahkan pemahaman, kami contohkan dengan firman Allah Ta’ala kepada Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alahis salaam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِذْ نَادَىٰ رَبُّكَ مُوسَىٰ أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), </span><b>“Datangilah kaum yang zalim itu.”</b> <b>(QS. Asy-Syu’ara’ [25]: 10)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan ayat di atas, kapankah Allah Ta’ala mengucapkan kepada Musa (yang artinya), </span><b>“Datangilah kaum yang zalim itu?”</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala baru mengatakan (yang artinya) </span><b>“Datangilah kaum yang zalim itu?”</b><span style="font-weight: 400;"> tentu setelah ada Musa. Sebelum ada Musa atau sebelum Musa diciptakan, Allah Ta’ala tidak mengatakannya. Dan setelah itu, Allah Ta’ala pun tidak mengatakannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><b>“Datangilah kaum yang zalim itu?”</b><span style="font-weight: 400;"> inilah yang kami maksud dengan </span><b><i>afraadul kalaam</i></b> <span style="font-weight: 400;">atau </span><b><i>ahaadul kalaam. </i></b><span style="font-weight: 400;">Dan dalam aqidah ahlus sunnah –sekali lagi- </span><i><span style="font-weight: 400;">afraadul kalaam </span></i><span style="font-weight: 400;">(satuan kalam) adalah perkara yang baru </span><i><span style="font-weight: 400;">(muhdats), </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak qadim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh lain untuk memudahkan pemahaman </span><i><span style="font-weight: 400;">haaditsul ahaad </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah firman Allah Ta’ala berupa kitab suci yang diturunkan kepada para Rasul. Yaitu, Allah Ta’ala berfirman dan menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Setelah itu, Allah Ta’ala berfirman lagi dan menurunkan kitab Injil kepada Nabi ‘Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dan setelah itu, Allah Ta’ala pun berfirman lagi dan menurunkan kitab suci Al-Qur’am kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Maka firman Allah berupa Taurat, Injil, dan Al-Qur’an masing-masing adalah satuan kalam Allah yang baru Allah Ta’ala firmankan ketika Allah Ta’ala berkehendak.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45570-panglima-khalid-bin-walid-diganti-karena-kemashlahatan-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Panglima Khalid bin Walid Diganti Karena Kemaslahatan Tauhid</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam masalah ini</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak datang kepada mereka </span><b>suatu ayat Al-Qur’an pun yang baru (diturunkan)</b><span style="font-weight: 400;"> dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main.” </span><b>(QS. Al-Anbiya’ [21]: 2)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنَ الرَّحْمَنِ مُحْدَثٍ إِلَّا كَانُوا عَنْهُ مُعْرِضِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka </span><b>suatu peringatan baru (maksudnya Al-Qur’an)</b><span style="font-weight: 400;"> dari Tuhan yang Maha pemurah, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.” </span><b>(QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 5)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajihi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فقوله “محدث” صريح في حدوث آحاد كلام الله ، ولا يفهم من ذلك أن تحل الحوادث في ذات الرب؛ لأن كلام الله لا يماثل كلام المخلوقين، إنما كلام المخلوقين هو الذي يلزم منه الحدوث في ذواتهم، أما كلام الرب فلا يماثل كلام المخلوقين</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Firman Allah Ta’ala </span><b>(محدث)</b> <span style="font-weight: 400;">(yang baru) tegas menunjukkan bahwa satuan kalam Allah yang Allah Ta’ala firmankan adalah perkara yang baru. Namun tidak dipahami dari hal ini bahwa ada perkara yang baru yang menyatu dalam Dzat Allah Ta’ala. Hal ini karena kalam Allah itu tidak semisal dengan kalam makhluk-Nya. Hanya ucapan makhluk yang berkonsekuensi terjadinya sesuatu yang baru dalam dzat mereka. Adapun kalam Allah, maka tidak semisal dengan kalam makhluk.” </span><b>(</b><b><i>Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, </i></b><b>1: 90)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil lain yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya </span><b>Allah telah mendengar</b><span style="font-weight: 400;"> perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” </span><b>(QS. Al-Mujadilah [58]: 1)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45149-kebodohan-kita-terhadap-makna-kalimat-tauhid-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajihi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الله -تعالى- أخبر عن سماعه لكلام المجادلة بلفظ الماضي “سمع” وهذا يدل على أن المجادلة والجدال الذي حصل كان قبل نزول الآية. ثم نزلت الآية بعد المجادلة فدل هذا على نزول الآية، وأن الرب تكلم في هذه الآية بعد حصول الحادثة، وهي المجادلة</span><b><br>
</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan dengan kata kerja bentuk lampau </span><i><span style="font-weight: 400;">(fi’il madhi) </span></i><b>(سمع)</b> <span style="font-weight: 400;">(telah mendengar, pent.). Hal ini menunjukkan bahwa gugatan dan perdebatan tersebut terjadi </span><b>sebelum </b><span style="font-weight: 400;">turunnya ayat. Kemudian turunlah ayat tersebut setelah gugatan terjadi. Turunnya ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala baru berbicara sebagaimana dalam ayat ini </span><b>setelah terjadinya sesuatu yang baru, yaitu adanya gugatan.”</b> <b>(</b><b><i>Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, </i></b><b>1: 90)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil lainnya adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, </span><b>kemudian Kami katakan kepada para malaikat,</b><span style="font-weight: 400;"> “Sujudlah kamu kepada Adam”.” </span><b>(QS. Al-A’raf [7]: 11)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata “kemudian” menunjukkan adanya urutan kejadian waktu. Maka penciptaan dan pembentukan Adam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">itu terjadi terlebih dahulu, barulah Allah Ta’ala berfirman kepada malaikat (yang artinya), “Sujudlah kamu kepada Adam.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">afraadul kalaam </span></i><span style="font-weight: 400;">(yaitu firman Allah Ta’ala yang artinya, “Sujudlah kamu kepada Adam”) adalah perkara yang baru. Karena sebelum Adam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">diciptakan, Allah Ta’ala tidak memfirmankannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun dalil dari hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Zaid bin Khalid </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata, “Pada masa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shalallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> hujan turun, maka beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَلَمْ تَسْمَعُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمُ اللَّيْلَةَ؟ قَالَ: مَا أَنْعَمْتُ عَلَى عِبَادِي مِنْ نِعْمَةٍ إِلَّا أَصْبَحَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ بِهَا كَافِرِينَ، يَقُولُونَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَأَمَّا مَنْ آمَنَ بِي وَحَمِدَنِي عَلَى سُقْيَايَ فَذَاكَ الَّذِي آمَنَ بِي وَكَفَرَ بِالْكَوْكَبِ، وَمَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَاكَ الَّذِي كَفَرَ بِي وَآمَنَ بِالْكَوْكَبِ</span></p>
<p><b>“Apakah kalian tidak mendengar perkataan Rabb kalian tadi malam?</b><span style="font-weight: 400;"> Dia berfirman, “Tidaklah Aku menganugerahkan suatu nikmat kepada hamba-hamba-Ku. melainkan sebagian mereka ada yang kufur dengan nikmat tersebut. Mereka berkata, “Kami diberi hujan dengan sebab bintang ini dan itu.” Sedangkan orang yang beriman kepada-Ku, dia memuji-Ku karena air yang Aku turunkan, maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan orang yang berkata, “Kami diberi hujan dengan sebab bintang ini dan itu” adalah orang yang kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang”.” </span><b>(HR. Bukhari no. 846, Muslim no. 71, Abu Dawud no. 3906 dan An-Nasa’i no. 1525)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ceritakan firman Allah Ta’ala yang Allah Ta’ala firmankan </span><b>tadi malam. </b><span style="font-weight: 400;">Artinya, sebelumnya Allah tidak mengatakannya, demikian pula di pagi harinya Allah Ta’ala tidak mengatakannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil-dalil dalam masalah ini sebetulnya banyak sekali, namun kami cukupkan dengan menyebutkan empat ayat dan satu hadits di atas saja.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43853-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-ide-siapa-bag-4.html" data-darkreader-inline-color="">Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa?</a></strong></p>
<h2>
<span style="font-size: 21pt;"><b>Kutipan dari perkataan para ulama ahlus sunnah yang menjelaskan dua pengertian sifat kalam ini</b></span><i> </i>
</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَكَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ عِنْدَ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا وَهُوَ أَيْضًا يَتَكَلَّمُ بِمَشِيئَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عِنْدَهُمْ لَمْ يَزَلْ مُتَكَلِّمًا إذَا شَاءَ فَهُوَ قَدِيمُ النَّوْعِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalam Allah itu bukan makhluk, menurut para ulama salaf. Allah Ta’ala berbicara sesuai dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. Menurut salaf, Allah Ta’ala terus-menerus berbicara jika Allah Ta’ala kehendaki, itulah </span><i><span style="font-weight: 400;">qadiimun nau’.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><b>(</b><b><i>Majmu’ Fataawa, </i></b><b>12: 577)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di kesempatan yang lain, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata ketika menjelaskan aqidah berbagai kelompok dalam masalah kalam Allah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: هُوَ يَقَعُ بِمَشِيئَتِهِ وَقُدْرَتِهِ شَيْئًا فَشَيْئًا لَكِنَّهُ لَمْ يَزَلْ مُتَّصِفًا بِهِ، فَهُوَ حَادِثُ الْآحَادِ قَدِيمُ النَّوْعِ، كَمَا يَقُولُ ذَلِكَ مِنْ يَقُولُهُ مِنْ أَئِمَّةِ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di antara mereka ada yang mengatakan, kalam Allah itu terjadi karena kehendak dan kekuasaan-Nya, satu demi satu. Meskipun demikian, Allah Ta’ala terus-menerus bersifat dengan sifat kalam. Maka kalam Allah itu </span><i><span style="font-weight: 400;">haaditsul ahaad, qadiimun nau’. </span></i><span style="font-weight: 400;">Hal ini sebagaimana perkataan para ulama ahli hadits dan selain mereka dari para ulama madzhab Syafi’i dan Ahmad.”</span> <b>(</b><b><i>Majmu’ Fataawa, </i></b><b>12: 577)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وعند أهل السنة أن كلام الله قديم النوع، متجدد الآحاد، ومعنى كونه قديم النوع: أن جنسه قديم، فالله تعالى متصف في الأزل بكونه متكلما، فإن الله بجميع صفاته ليس بحادث، ولكنه لا يزال يتجدد ويحدث له كلام إذا شاء، وصفة الكلام من الصفات الفعلية الملازمة للذات متى شاء</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menurut aqidah ahlus sunnah, kalam Allah itu qadim secara jenis </span><i><span style="font-weight: 400;">(jinsul kalaam)</span></i><span style="font-weight: 400;">, adapun satuan kalam Allah itu baru. Yang dimaksud dengan qadim secara jenis adalah jenisnya itu qadim, karena Allah Ta’ala memiliki sifat Maha berbicara sejak dahulu tanpa awal. Sesungguhnya Allah Ta’ala dengan seluruh sifat-sifat-Nya bukanlah perkara yang baru. Akan tetapi, berbicaranya Allah Ta’ala itu perkara yang baru, yaitu ketika Allah Ta’ala berkehendak untuk berbicara. Sehingga sifat kalam termasuk sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">fi’liyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang berkaitan dengan Dzat-Nya kapan saja Allah Ta’ala kehendaki.” </span><b>(</b><b><i>At-Ta’liqaat ‘ala Matni Lum’atil I’tiqaad, </i></b><b>1: 89)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">juga berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كذلك نقول: الله تعالى متكلم في الأزل ويتكلم إذا شاء، ليس معناه أنه تكلم أزلاً ثم انقطع كلامه، بل كلام الله قديم النوع حادث الآحاد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Demikian pula kami katakan, Allah Ta’ala Maha berbicara sejak azali, dan Allah Ta’ala berbicara ketika Allah Ta’ala menghendakinya. Bukanlah maknanya bahwa Allah Ta’ala berbicara pada zaman azali, kemudian berhenti berbicara secara total. Akan tetapi, kalam Allah itu </span><i><span style="font-weight: 400;">qadiimun nau’ haaditsul ahaad.” </span></i><b>(</b><b><i>Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, </i></b><b>11: 19)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وكلامُه قديمُ النّوع حادثُ الآحاد، بمعنى: أنّ نوع كلامه سبحانه قديم بقدمه سبحانه، ليس له بداية كسائر أفعاله، وحادث الآحاد بمعنى: أنه يتكلّم إذا شاء سبحانه وتعالى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalam Allah itu </span><i><span style="font-weight: 400;">qadiimun nau’ </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">haaditsul ahaad. </span></i><span style="font-weight: 400;">Maksudnya, secara jenis, kalam Allah Ta’ala itu qadim sesuai dengan qadimnya Allah Ta’ala, tidak ada awal permulaannya sebagaimana seluruh perbuatan-perbuatan-Nya. Adapun yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">haadtsul ahaad </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah bahwa Allah Ta’ala itu (baru) berbicara ketika Allah Ta’ala berkehendak.” </span><b>(</b><b><i>I’aanatul Mustafiid, </i></b><b>2: 273)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43344-membela-kalimat-tauhid-dengan-mempelajari-mengamalkan-dan-mendakwahkannya.html" data-darkreader-inline-color="">Membela Kalimat Tauhid dengan Mempelajari, Mengamalkan dan Mendakwahkannya</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/37511-macam-macam-rasa-takut-dalam-pelajaran-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Macam-Macam “Rasa Takut” Dalam Pelajaran Tauhid</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogjakarta, 11 Ramadhan 1440/16 Mei 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><strong>[1]</strong> <a href="https://muslim.or.id/38717-sifat-kalam-antara-aqidah-ahlus-sunnah-jahmiyyah-dan-asyariyyah-01.html">Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 1)</a></p>
<p><strong>[2]</strong> <a href="https://muslim.or.id/38719-sifat-kalam-antara-aqidah-ahlus-sunnah-jahmiyyah-dan-asyariyyah-02.html">Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 2)</a></p>
<p><strong>[3]</strong> <a href="https://muslim.or.id/38721-sifat-kalam-antara-aqidah-ahlus-sunnah-jahmiyyah-dan-asyariyyah-03.html">Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 3)</a></p>
 