
<p>Apa saja syarat diterimanya ibadah?</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, sehingga Dia-lah yang patut diibadahi. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hinga akhir zaman.</em></p>
<p>Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi <span style="color: #ff00ff;"><strong>dua syarat</strong></span>, yaitu:</p>
<ol>
<li>Ikhlas karena Allah.</li>
<li>Mengikuti tuntunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>(ittiba’).</li>
</ol>
<p>Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak. Berikut kami sampaikan bukti-buktinya dari Al Qur’an, As Sunnah, dan Perkataan Sahabat.</p>

<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Dalil Al Qur’an</strong></span></h2>
<p>Dalil dari dua syarat di atas disebutkan sekaligus dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya</em>“.” (QS. Al Kahfi: 110)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “<em>Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh</em>”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, pen). Dan “<em>janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”</em>, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا</span></p>
<p>“<em>Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya</em>.” (QS. Al Mulk: 2), beliau mengatakan, “yaitu <span style="text-decoration: underline;">amalan yang paling ikhlas dan <em>showab</em></span> (mencocoki ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>).”</p>
<p>Lalu Al Fudhail berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Dalil dari Al Hadits</strong></span></h2>
<p>Dua syarat diterimanya amalan ditunjukkan dalam dua hadits. Hadits pertama dari ‘Umar bin Al Khottob, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan</em>. <em>Barangsiapa yang berhijrah karena  Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita, pen)</em>”.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Hadits kedua dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha, </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.</em>”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam riwayat Muslim disebutkan,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dalam <em>Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</em>, Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits ‘<em>innamal a’malu bin niyat</em>’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. <span style="text-decoration: underline;">Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak</span>. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Di kitab yang sama, Ibnu Rajab <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Suatu amalan tidak akan sempurna (tidak akan diterima, pen) kecuali terpenuhi dua hal:</p>
<ol>
<li>Amalan tersebut secara lahiriyah (zhohir) mencocoki ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Hal ini terdapat dalam hadits ‘Aisyah ‘<em>Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.</em>’</li>
<li>Amalan tersebut secara batininiyah diniatkan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Umar ‘<em>Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat</em>’.”<a href="#_ftn7">[7]</a>
</li>
</ol>
<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Perkataan Sahabat</strong></span></h2>
<p>Para sahabat pun memiliki pemahaman bahwa ibadah semata-mata bukan hanya dengan niat ikhlas, namun juga harus ada tuntunan dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Sebagai dalilnya, kami akan bawakan dua atsar dari sahabat.</p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Pertama</strong></span>: Perkataan ‘Abdullah bin ‘Umar.</p>
<p>Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً</span></p>
<p>“<em>Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.</em>”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Kedua</strong></span>: Kisah ‘Abdullah bin Mas’ud.</p>
<p>Terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.</span></p>
<p>“<em>Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?</em>”</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ</span></p>
<p>Mereka menjawab, ”<em>Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.</em>”</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata, “<em>Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya</em>.”<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Lihatlah kedua sahabat ini -yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud- meyakini bahwa niat baik semata-mata tidak cukup. Namun ibadah bisa diterima di sisi Allah juga harus mencocoki teladan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Dari dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa ibadah baik itu shalat, puasa, dan dzikir semuanya haruslah memenuhi dua syarat diterimanya ibadah yaitu ikhlas dan mencocoki petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em></p>
<p>Sehingga tidaklah tepat perkataan sebagian orang ketika dikritik mengenai ibadah atau amalan yang ia lakukan, lantas ia mengatakan, <em>“Menurut saya, segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing”.</em> Ingatlah, tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sehingga kaedah yang benar “<strong><em>Niat baik semata belum cukup</em></strong>.”</p>
<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Sebab-sebab Munculnya Amalan Tanpa Tuntunan</strong></span></h2>
<p>Pertama: Tidak memahami dalil dengan benar.</p>
<p>Kedua: Tidak mengetahui tujuan syari’at.</p>
<p>Ketiga: Menganggap suatu amalan baik dengan akal semata.</p>
<p>Keempat: Mengikuti hawa nafsu semata ketika beramal.</p>
<p>Kelima: Berbicara tentang agama tanpa ilmu dan dalil.</p>
<p>Keenam: Tidak mengetahui manakah hadits shahih dan dho’if (lemah), mana yang bisa diterima dan tidak.</p>
<p>Ketujuh: Mengikuti ayat-ayat dan hadits yang masih samar.</p>
<p>Kedelapan: Memutuskan hukum dari suatu amalan dengan cara yang keliru, tanpa petunjuk dari syari’at.</p>
<p>Kesembilan: Bersikap ghuluw (ekstrim) terhadap person tertentu. Jadi apapun yang dikatakan panutannya (selain Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>), ia pun ikuti walaupun itu keliru dan menyelisih dalil.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Inilah di antara sebab munculnya berbagai macam amalan tanpa tuntunan (baca: bid’ah) di sekitar kita.</p>
<p>Demikian pembahasan kami mengenai dua syarat diterimanya ibadah. Insya Allah, untuk pembahasan-pembahasan berikutnya di rubrik “Jalan Kebenaran”, kita akan memahami lebih jauh tentang bid’ah. Semoga Allah memudahkannya.</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel https://rumaysho.com</p>
<p>Diselesaikan 20 Shofar 1431 H di Panggang-Gunung Kidul.</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/12601-menundukkan-hawa-nafsu-demi-mengikuti-ajaran-nabi.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Menundukkan Hawa Nafsu Demi Mengikuti Ajaran Nabi</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/13314-kaitan-ikhlas-dan-mudah-jawab-pertanyaan-kubur.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Kaitan Ikhlas dan Mudah Jawab Pertanyaan Kubur</strong></span></a></li>
</ul>
<hr>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</em>, Ibnu Rojab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Muslim no. 1718.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Jami’ul Ulum wal Hikam</em>, hal. 77.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Jami’ul Ulum wal Hikam</em>, hal. 20.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Diriwayatkan oleh Ibnu Battoh dalam <em>Al Ibanah ‘an Ushulid Diyanah</em>, 2/212/2 dan Al Lalika’i dalam <em>As Sunnah</em> (1/21/1) secara <em>mauquf</em> (sampai pada sahabat) dengan sanad yang <strong><em>shahih</em></strong>. Lihat <em>Ahkamul Janaiz wa Bida’uha</em>, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 285, Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1412 H.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Ad Darimi no. 204 (1/79). Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini <strong><em>jayyid</em></strong>. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah (5/11) mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>shahih</em></strong><em>.</em></p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Disarikan dari <em>Al Bida’ Al Hauliyah</em>, ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz bin Ahmad At Tuwaijiri, hal. 37-68, Darul Fadhilah, cetakan pertama, 1421 H.</p>
 