
<p>Kami sangat tertarik sekali dengan Fiqh Imam Besar Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani. Pernah kami bahas dalam suatu majelis tentang fiqih thoharoh dari kitab Asy Syaukani “<em>Ad Daroril Madhiyah</em>“. Sedikit faedah yang kami peroleh sengaja kami tuangkan dalam tulisan ini.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Faedah pertama:</strong></span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><span style="font-size: 14pt;">فَإِنَّ أَصْلَ عُنْصُرِ المَاءِ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ بِلاَ نِزَاعٍ</span></span></p>
<p>“Hukum asal dari air adalah suci dan mensucikan, kaedah ini tidak diperselisihkan (oleh para ulama).” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 9)</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Faedah kedua:</strong></span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><span style="font-size: 14pt;">ولا يقدح في ذلك التخفيف في تطهيرهما في بعض الأحوال</span></span></p>
<p>“Jika ada berbagai macam cara dalam menyucikan (kotoran dan kencing manusia) sampai ada cara menyucikan yang ringan, maka itu tidak mencacati bahwa kotoran dan kencing manusia itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 21). Maksudnya, adalah bagaimana pun cara pembersihan najis selama itu diperintahkan untuk dibersihkan atau dicuci dalam <em>nash </em>(dalil), maka itu <span style="text-decoration: underline;">menunjukkan najisnya</span>. Sebagaimana yang terjadi pada kencing manusia, kadang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menyuruh menyiram seperti yang terjadi pada kencing Arab Badui yang nakal kencing di masjid Nabi. Kadang pula kencing diperingan cukup diperciki sebagaimana hal ini berlaku pada kencing bayi laki-laki. Namun kedua kasus ini tetap menunjukkan najisnya kencing.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Faedah ketiga:</strong></span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><span style="font-size: 14pt;">الأصل في كل شئ أنه طاهر</span></span></p>
<p>“Asal segala sesuatu adalah suci.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23)</p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">Faedah keempat:</span></strong></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><span style="font-size: 14pt;">لأن القول بنجاسته يستلزم تعبد العباد بحكم من الأحكام والأصل عدم ذلك والبراءة قاضية بأنه لا تكليف بالمحتمل حتى يثبت ثبوتا ينقل عن ذلك</span></span></p>
<p>“Jika dikatakan bahwa sesuatu itu najis, maka ini berarti membebani hamba dengan suatu hukum. Oleh karenanya, hukum asalnya, seseorang hamba terbebas dari beban dan seorang hamba tidak dibebani kewajiban dengan sesuatu yang masih kemungkinan (<em>muhtamal</em>) najis atau tidaknya sampai ada dalil yang menyatakan dengan jelas bahwa itu najis.” (Ad Daroril Madhiyah, hal. 23)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Moga Allah mudahkan untuk menggali faedah lainnya.</em></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Ad Daroril Madhiyah, Asy Syaukani, terbitan Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H</p>
<p> </p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 17 Maret 2010</p>
<p><a href="undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
 