
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/06/Buletin-Rumaysho-Wonosari-Edisi-37-1.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/06/Buletin-Rumaysho-Wonosari-Edisi-37-1.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?</p>
<p> </p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengawali dakwahnya dengan rahasia (<strong><em>sirriyyah</em></strong>). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.</p>
<p> </p>
<p>Yang paling utama di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Khadijah binti Khuwailid <em>radhiyallahu ‘anha </em>Ummul Mukminin, istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berkata, “<em>Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya</em>.”</li>
</ol>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba.</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.”</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<ol start="3">
<li>Abu Bakar Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</li>
<li>Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak.</li>
<li>Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Az-Zubair bin Awwam <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ‘Abdurrahman bin ‘Auf <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Sa’ad bin Abi Waqqash <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Thalhah bin Ubaidillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga.</p>
<p>Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain.</p>
<p>Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah <em>radhiyallahu ‘anha</em>.</p>
<p>Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h3>Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?</h3>
<p> </p>
<p>Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat <em>Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah</em>. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<h3>Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?</h3>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan.</li>
<li>Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melakukannya terang-terangan.</li>
<li>Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan.</li>
<li>Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil.</li>
<li>Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah <em>sirriyyah </em>adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yaitu Khadijah <em>radhiyallahu ‘anha</em>.</li>
<li>Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.</p>
<p> </p>
<p><em>Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.</em></p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Fikih Sirah Nabawiyah</em>. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 