
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/01/Buletin-Rumaysho-Al-Azhar-Wonosari-Edisi-21.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/01/Buletin-Rumaysho-Al-Azhar-Wonosari-Edisi-21.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Shafiyyah binti Huyay bin Akh-thab bin Sa’nah bin ‘Ubaid bin Ka’ad bin Khajraj bin Abu Habib bin An-Nadhir bin An-Nuhham bin Nakhum. Ia berasal dari keturunan Yahudi, dari keturunan Ya’qub, bahkan memiliki jalur keturunan hingga Harun bin ‘Imran, yang merupakan saudara Musa ‘<em>alaihis salam</em>.</p>
<p>Ayah Shafiyyah adalah tokoh di kalangan Bani Nadhir dan dibunuh bersama Bani Quraizhah.</p>
<p>Nama ibunya adalah Barrah bin Samaw-al, saudara perempuan dari Rifa’ah bin Samaw-al dari Bani Quraizhah. Dan tidak diketahui ibunya masuk Islam, bahkan nampak ia mati dalam keadaan kafir.</p>
<p>Shafiyyah menjanda dua kali. Kedua suaminya dahulu adalah tokoh besar Yahudi. Suami Shafiyyah pertama adalah Salam bin Misykam Al-Qurazhi Al-Yahudi. Salam kemudian menceraikan Shafiyyah. Lalu Shafiyyah menikah lagi dengan Kinanah bin Ar-Rabi’ bin Abul Huqaiq. Kinanah terbunuh dalam Perang Khaibar.</p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terlibat dalam Perang Khaibar (pada bulan Muharram tahun tujuh Hijriyah), Shafiyyah ketika itu jadi tawanan perang. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberikan pada Shafiyyah pilihan, masuk Islam dan menikah dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ataukah merdeka dan kembali ke kaumnya. Ketika itu Shafiyyah memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Pada tahun tujuh Hijriyah tersebut Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menikahi Shafiyyah binti Huyay. Ketika menikah dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, umur Shafiyyah sekitar 17 tahun.</p>
<p>Shafiyyah terkenal cerdas, cantik, punya kedudukan mulia. Ketika ia berpindah ke rumah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ia mendapati ada dua <em>hizb</em> (kelompok), yaitu <em>hizb</em> ‘Aisyah, Saudah dan Hafshah; lalu <em>hizb</em> Ummu Salamah dan istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lainnya.</p>
<p>Shafiyyah meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun 50 Hijriyah pada masa khilafah Mu’awiyah. Inilah pendapat jumhur ulama, sebagaimana disetujui pula oleh Ibnu Hajar dengan menukil perkataan Al-Waqidi, disebutkan dalam <em>Al-Ishabah</em> (4:348). Usianya ketika meninggal dunia adalah 60 tahun.</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa Shafiyyah binti Huyay dikuburkan di Baqi’. Ketika meninggal dunia, ia meninggalkan harta peninggalan sekitar 100.000 dirham dalam bentuk tanah dan barang-barang (sekitar 3 Milyar, pen.). Ia telah mewasiatkan sebelumnya wafatnya kepada saudara laki-lakinya yang masih beragama Yahudi, bahwa sepertiga hartanya untuknya.  Awalnya, para sahabat tidak mau menjalankan wasiat tersebut, namun akhirnya dengan saran dari ‘Aisyah wasiat tersebut tetap dijalankan.</p>
<p> </p>
<h3>Keutamaan Shafiyyah binti Huyay</h3>
<p>1- Bebasnya Shafiyyah dari tahanan adalah sebagai maharnya. Demikian disebutkan Ibnul Qayyim dalam <em>Jala’ Al-Afham</em>, hlm. 320.</p>
<p>2- Nasabnya begitu mulia.</p>
<p>Dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">بَلَغَ صَفِيَّةَ أَنَّ حَفْصَةَ قَالَتْ بِنْتُ يَهُودِىٍّ . فَبَكَتْ فَدَخَلَ عَلَيْهَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَهِىَ تَبْكِى فَقَالَ « مَا يُبْكِيكِ ». فَقَالَتْ قَالَتْ لِى حَفْصَةُ إِنِّى بِنْتُ يَهُودِىٍّ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّكِ لاَبْنَةُ نَبِىٍّ وَإِنَّ عَمَّكِ لَنَبِىٌّ وَإِنَّكِ لَتَحْتَ نَبِىٍّ فَفِيمَ تَفْخَرُ عَلَيْكِ ». ثُمَّ قَالَ « اتَّقِى اللَّهَ يَا حَفْصَةُ »</p>
<p>Telah sampai pada Shafiyyah bahwa Hafshah mengatakan padanya dengan nada sinis, “<em>Dasar</em> anak perempuan Yahudi.” Lantas Shafiyyah menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam keadaan menangis, lalu beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Shafiyyah menjawab, “Hafshah memanggilku dengan anak perempuan Yahudi.” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lantas mengatakan, “<em>Sesungguhnya engkau termasuk puteri Nabi, pamanmu seorang Nabi, dan sekarang berada dalam perlindungan seorang Nabi, bukankah itu sudah jadi suatu kebanggaan?</em>” Beliau kemudian mengatakan, “<em>Wahai Hafshah, bertakwalah kepada Allah</em>.” (HR. Tirmidzi, no. 3894. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>shahih</em>).</p>
<p>3- Ia sangat cinta pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Shafiyyah pernah mengatakan, “Aku sampai pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> awalnya yang aku paling benci adalah beliau (karena ia telah membunuh Huyay ibnu Akhtab, ayah Shafiyyah dan Kinanah, suami kedua Shafiyyah, pen.).” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lantas mengatakan, “Sesungguhnya kaummu pernah melakukan demikian dan demikian.” Shafiyyah lantas menyatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَمَا قُمْتُ مِنْ مَقْعَدِي وَمِنَ النَّاسِ أَحَدٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ</p>
<p>“Tidaklah aku berdiri dari tempat dudukku hingga aku menyatakan bahwa saat ini yang paling aku cintai adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” (HR. Ishaq bin Rahawaih dan Abu Ya’la. Disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Mathalib Al-‘Aliyah. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid bahwa perawinya shahih).</p>
<p>Bukti cintanya lagi, ia tidak mau hari jatahnya lepas begitu saja dan tidak bertemu dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Maka pernah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beri’tikaf di masjid, lantas dikunjungi oleh Shafiyyah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Shafiyyah mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada malam hari lalu berbincang-bincang dengan beliau. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengantarkan Shafiyyah pulang ke rumah. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan kepada Shafiyyah ketika itu, “<em>Jangan engkau terburu-buru, nanti aku akan menemanimu pulang</em>.” Ketika itu rumah Shafiyyah di rumah Usamah. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun mengantarkan Shafiyyah pulang. Ketika itu mereka bertemu dengan dua orang Anshar di jalan. Mereka berdua memandang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (dengan penuh curiga), kemudian mereka melewati Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan Shafiyyah, untuk menghilangkan kecurigaan mereka, beliau pun berkata, “Sini, ini adalah istriku Shafiyyah binti Huyay.” Mereka berdua pun mengatakan, “<em>Subhanallah</em>, wahai Rasulullah.” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يُلْقِىَ فِى أَنْفُسِكُمَا شَيْئًا</p>
<p>“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia melalui pembuluh darahnya. Aku benar-benar khawatir ada sesuatu prasangka jelek yang ada dalam diri kalian berdua.” (HR. Bukhari, no. 2038 dan Muslim, no. 2175)</p>
<p>4- Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>benar-benar memuliakan Shafiyyah apalagi tahu kalau ia dijelek-jelekkan.</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata, “Aku berkata kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ‘Cukup sudah engkau berkata tentang Shafiyyah seperti ini dan itu, ia itu wanita yang pendek (sambil berisyarat dengan jari).” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ</p>
<p><em>“Sungguh engkau telah mengatakan suatu perkataan yang andai saja tercampur dengan air laut, kalimat itu akan mengotorinya.” </em>(HR. Abu Daud, no. 4875 dan Tirmidzi, no. 2502. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>shahih</em>).</p>
<p>5- Ia terkenal sangat dermawan dan gemar menjalin hubungan silaturahim dengan kerabatnya yang masih Yahudi. Di antara buktinya yang tadi diceritakan tentang wasiat untuk saudaranya yang masih beragama Yahudi diambil dari sepertiga harta peninggalannya.</p>
<p>Semoga jadi pelajaran berharga dan bisa dicontoh. <em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<ol>
<li>
<em>Jala’ Al-Afham fi Fadhl Ash-Shalah wa As-Salaam ‘ala Muhammad Khair Al-Anam</em>. Cetakan kedua, Tahun 1431 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Hlm. 297-300.</li>
<li>
<em>Ummahat Al-Mukminin. </em>Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Dr. Muhammad bin Sulaiman. Penerbit Dar Ibnu Hazm.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Disusun di <a href="http://DarushSholihin.Com" target="_blank" rel="noopener">Perpus Rumaysho</a>, 2 Jumadal Ula H, Jumat sore</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
 