
<p>Dicatat oleh Imam Ahmad dalam <i>Musnad</i>-nya (6/116-117), Al Baihaqi dalam <i>Al Ba’ts Wan Nusyur</i> (560), An Nasa-i dalam <i>Sunan Al Kubra</i> (10936)</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَبْدُ اللهِ، عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: قالَ ابنُ عبَّاسٍ أتَدري ما سَعةُ جهنَّمَ ؟ قلتُ : لا ، قالَ : أجَل واللَّهِ ما تدري أنَّ بينَ شَحمةِ أُذنِ أحدِهِم وبينَ عاتقِهِ مَسيرةَ سبعينَ خَريفًا تَجري فيها أوْديةُ القَيحِ والدَّمِ قلتُ أنهارًا قالَ لا بلْ أوْديةً ثمَّ قالَ أتدرونَ ما سَعةُ جهنَّمَ قلتُ لا قالَ أجَل واللَّهِ ما تَدري حدَّثتني عائشةُ أنَّها سألَت رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وعلَى آلِه وسلَّمَ عن قولِهِ وَالْأرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ فأينَ النَّاسُ يومئذٍ يا رسولَ اللَّهِ قالَ هم علَى جِسرِ جهنَّمَ</p>
<p>Dari jalan <span style="text-decoration: underline;">Abdullah bin Mubarak</span> dari <span style="text-decoration: underline;">‘Anbasah bin Sa’id</span>, dari <span style="text-decoration: underline;">Habib bin Abi ‘Amrah</span> dari <span style="text-decoration: underline;">Mujahid</span>, ia berkata:</p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu’anhu</em> bertanya (kepada Mujahid) : “tahukah engkau seberapa luas neraka Jahannam?”. Mujahid menjawab: “Aku tidak tahu”. Ibnu Abbas berkata: “Tentu saja, demi Allah engkau tidak akan tahu. Yang jelas, jarak antara cuping telinga ke pundak salah seorang diantara kalian sejauh perjalanan 70 musim gugur. Mengalir di dalamnya lembah yang berisi nanah dan darah”. Mujahid bertanya: “Maksud anda sungai?”. Ibnu Abbas berkata: “bukan sungai, tapi lembah”. Lalu beliau berkata: “tahukah engkau seberapa luas neraka Jahannam?”. Mujahid menjawab: “Aku tidak tahu”. Ibnu Abbas berkata: “Tentu saja, demi Allah engkau tidak akan tahu, ‘Aisyah <em>radhiallahu’anha</em> menuturkan kepadaku bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> tentang ayat (yang artinya) ‘<i>bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya</i>‘ (QS. Az Zumar: 67). ‘Aisyah bertanya: ‘wahai Rasulullah, dimanakah manusia ketika itu terjadi?’. Rasulullah menjawab: ‘<i>pada hari itu manusia berada di jisr (jembatan) neraka Jahannam</i>‘”</p>
<p>Dalam riwayat Al Baihaqi, <span style="text-decoration: underline;">‘Abdan</span> meriwayatkan dari <span style="text-decoration: underline;">‘Anbasah bin Sa’id</span> dan seterunya.</p>
<h4>Derajat Hadits</h4>
<p>Sanad hadits ini shahih, semua perawinya (termasuk ‘Abdan alias Abdullah bin Utsman Al Azdi) merupakan perawi Bukhari-Muslim, kecuali <span style="text-decoration: underline;">‘Anbasah bin Sa’id</span>, namun ia disepakati berstatus <em>tsiqah</em> (lihat <i>Silsilah Ahadits Ash Shahihah</i>, 2/102-103).</p>
<p>Adapun perkataan Ibnu Abbas mengenai ukuran penduduk neraka, ini dinilai sebagai hadits <em>marfu’</em> kepada Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>. Para ulama mengatakan, bahwa perkataan shahabat mengenai perkara gaib yang bukan ruang untuk berijtihad itu dinilai sebagai hadits <i>marfu’.</i></p>
<h4>Faidah Hadits</h4>
<ol>
<li>Betapa besarnya ukuran fisik penduduk neraka, jarak antara cuping telinga ke pundak mereka sejauh perjalanan 70 musim gugur, bagaimana keseluruhan tubuhnya? Sebagaimana hadits lain tentang ukuran fisik orang kafir di neraka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَا بَيْنَ مَنْكِبَيِ الكَافِرِ مَسِيرَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ للرَّاكِبِ المُسْرِعِ</p>
<p>“<i>Antara dua ujung pundak orang kafir di neraka jaraknya sejauh perjalanan 3 hari jika ditempuh penunggang kuda yang berlari dengan cepat</i>” (HR. Bukhari 6551, Muslim 2852)</p>
</li>
<li>Jika ukuran penduduk neraka demikian besarnya, bagaimana lagi dengan ukuran nerakanya? Tentu sangat jauh lebih besar lagi.</li>
<li>Di neraka terdapat lembah yang di dalamnya mengalir nanah dan darah. Nanah dan darah inilah yang menjadi minuman penduduk neraka. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ</p>
<p>“<i>Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah</i>” (QS. Al Haqqah: 31-36).</p>
</li>
<li>Setiap Mukmin pasti akan melalui jembatan yang disebut dengan <i>al jisr </i>atau disebut juga <i>ash shirath</i> dalam riwayat At Tirmidzi:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أنها قالتْ يا رسولَ اللهِ ! { وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ}، فأين المؤمنون يومئذٍ ؟ قال : على الصراطِ يا عائشةُ</p>
<p>“’Aisyah bertanya tentang ayat (yang artinya) ‘<i>bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya</i>‘ (QS. Az Zumar: 67)’ wahai Rasulullah, dimanakah manusia ketika itu terjadi?’. Rasulullah menjawab: ‘<i>pada hari itu manusia berada di <span style="text-decoration: underline;">ash shirath</span> wahai Aisyah</i>‘” (HR. At Tirmidzi 3242, ia berkata: “hasan shahih”).</p>
</li>
<li>Ahlussunnah Wal Jama’ah mengimani adanya <i>ash shirath</i>, yaitu jembatan yang berada di atas neraka. Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam </i>bersabda:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ويضرب الصراط بين ظهري جهنم ، فأكون أنا وأمتي أول من يجيزها ، ولا يتكلم يومئذ إلا الرسل ، ودعوى الرسل يومئذ : اللهم سلم سلم وفي جهنم كلاليب مثل شوك السعدان</p>
<p>“<i>..Dan dibentangkanlah ash shirath di antara dua punggung neraka. Akulah orang yang pertama kali melewatinya. Tidak ada yang berkata-kata ketika itu kecuali para Rasul. Para Rasul pun ketika itu berdoa: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah”. Pada ash shirath terdapat kait-kait seperti duri pohon Sa’dan..</i>” (HR. Al Bukhari  7437).</p>
</li>
<li>Dalil-dalil mengenai <i>ash shirath</i> banyak sekali hingga mencapai derajat <i>mutawatir ma’nawi</i>. Sehingga tidak benar keyakinan kaum mu’tazilah yang menolak untuk mengimani adanya ash shirath dengan dalih bahwa hadits-hadits tentang <i>ash shirath</i> itu semuanya hadits ahad sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk perkara aqidah. Mereka juga berdalih bahwa <i>ash shirath</i> tidak masuk akal dan tidak disebutkan dalam Al Qur’an. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <i>rahimahullah</i> berkata:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَمَّا مَنْ أَنْكَرَ تَوَاتُرَ حَدِيثٍ وَاحِدٍ فَيُقَالُ لَهُ: التَّوَاتُرُ نَوْعَانِ: تَوَاتُرٌ عَنْ الْعَامَّةِ؛ وَتَوَاتُرٌ عَنْ الْخَاصَّةِ وَهُمْ أَهْلُ عِلْمِ الْحَدِيثِ. وَهُوَ أَيْضًا قِسْمَانِ: مَا تَوَاتَرَ لَفْظُهُ؛ وَمَا تَوَاتَرَ مَعْنَاهُ. فَأَحَادِيثُ الشَّفَاعَةِ وَالصِّرَاطِ وَالْمِيزَانِ وَالرُّؤْيَةِ وَفَضَائِلِ الصَّحَابَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مُتَوَاتِرٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهِيَ مُتَوَاتِرَةُ الْمَعْنَى وَإِنْ لَمْ يَتَوَاتَرْ لَفْظٌ بِعَيْنِهِ</p>
<p>“Adapun orang yang mengingkari mutawatir-nya hadits ahad, katakan padanya bahwa mutawatir itu ada 2: <i>mutawatir ‘am</i> (yaitu bagi kalangan orang umum) dan <i>mutawatir khas</i> (bagi kalangan ulama hadits). Juga dibagi menjadi 2: <i>mutawatir lafzhi</i> dan <i>mutawatir ma’na</i>. Adapun hadits-hadits tentang syafa’at, <em>ash shirath</em>, <em>al mizan</em>, <em>ar ru’yah</em>, dan tentang keutamaan para sahabat semuanya mencapai derajat mutawatir, yaitu <em>mutawatir ma’na</em>, walaupun bukan <em>mutawatir lafzhi</em> pada setiap haditsnya” (<i>Majmu’ Fatawa,</i> 18/69).</p>
</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan para sahabat meriwayatkan hadits dari sahabat yang lain.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Aisyah <i>radhiallahu’anha</i> dalam hal keilmuan.</li>
<li>Keutamaan Ibnu Abbas <i>radhiallahu’anhu</i>, beliau faqih dan pakar dalam masalah tafsir Al Qur’an. Sebab demikianlah doa Nabi terhadap beliau:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ وضعَ يدَهُ في كتِفِهِ أو على منكبِهِ ثمَّ قالَ اللَّهمَّ فقِّههُ في الدِّينِ وعلِّمهُ التَّأويلَ</p>
<p>“<i>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah menaruh tangannya di bahuku (atau di pundakku) lalu beliau bersabda: Ya Allah berilah ia kepahaman dalam masalah agama dan jadikanlah ia berilmu dalam masalah ta’wil (tafsir Al Qur’an)</i>” (HR. Ahmad  4/127, dinilai shahih oleh Ahmad Syakir dalam <i>takhrij</i>-nya untuk Musnad Ahmad, <i>ashl </i>hadits ini juga terdapat dalam <i>Shahihain</i>)</p>
</li>
<li>Para sahabat menafsirkan Al Qur’an dengan As Sunnah, yaitu hadits Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>.</li>
<li>Para sahabat beriman kepada hal gaib sesuai apa yang datang dari  Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam hal ini Ibnu ‘Abbas menceritakan gambaran penduduk neraka, sesuai apa yang beliau dapatkan dari Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>, adapun ketika membahas masalah luasnya neraka beliau menyatakan:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أجَل واللَّهِ ما تدري</p>
<p>“<i>Tentu saja, demi Allah kau tidak akan tahu</i>”<br>
karena tidak ada informasi dari Al Qur’an ataupun dari Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>.</p>
</li>
<li>Para sahabat mengimani hal gaib apa adanya tanpa menambah-nambah atau mengurangi. Dalam hal ini ketika Mujahid mendengar kata-kata:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">تَجري فيها أوْديةُ القَيحِ والدَّمِ</p>
<p>“<em>mengalir di dalamnya lembah yang berisi nanah dan darah</em>”<br>
beliau merasa janggal karena biasanya yang jadi tempat mengalirnya sesuatu adalah sungai. Namun ketika ia mengkonfirmasi kejanggalan tersebut, Ibnu Abbas menegaskan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا بلْ أوْديةً</p>
<p>“<em>Bukan sungai, tapi lembah</em>”<br>
seolah Ibnu Abbas mengatakan: ‘demikianlah yang saya dengan dari Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>‘.</p>
</li>
<li>Mujahid bin Jabr Al Makki Al Aswad adalah murid Ibnu Abbas <i>radhiallahu’anhu</i>. Beliau dikenal sebagai <i>imamul mufassirin</i> (pemimpinnya para ahli tafsir) karena kedalaman ilmu dalam tafsir Al Qur’an, dan beliau banyak mengambil ilmu tafsir dari Ibnu Abbas <i>radhiallahu’anhu.</i>
</li>
</ol>
<p><em>Wallahu’alam</em></p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br>
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar, S.s., M.Pi.<br>
Artikel Muslim.Or.Id</p>
 