
<h4 style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em></strong></span></h4>
<p><span style="color: #ff0000;" data-mce-mark="1"><strong>Soal:</strong></span><br>
Apa hukum perkataan “<em>fulan almarhum</em>” atau “<em>taghammadahullah bi rahmatih</em> (semoga limpahan rahmat Allah tercurah padanya)”, atau perkataan “<em>intaqala ila rahmatillah</em> (telah berpulang ke rahmatullah)”?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jawab:</strong></span><br>
Untuk perkataan “<em>fulan almarhum</em>” atau ucapan “<em>taghammadahullah bi rahmatih</em>” (keduanya bermakna: semoga Allah merahmati, -pen) <span style="text-decoration: underline;">tidaklah mengapa</span>. Perkataan “<em>almarhum</em>” termasuk kalimat harapan, bukan termasuk kalimat berita (yang memastikan ia mendapatkan rahmat Allah, -pen). Sehingga jika maksudnya sebagai harapan, maka tidaklah mengapa.</p>
<p>Adapun kalimat “<em>intaqola ila rahmatillah</em> (telah berpulang ke <em>rahmatullah</em>)”, yang saya pahami adalah termasuk harapan, bukan maksud pemastian. Ini semua termasuk perkara ghaib sehingga tidak boleh memastikannya dengan kalimat tersebut. Sedangkan kalimat “<em>ia telah berpulang ke rafiqil a’la (ke surga)</em>”, jika maksud memastikan, maka tidak dibolehkan. (*)</p>
[<em>Fatawa Arkanil Islam</em>, hal. 193, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, terbitan Daruts Tsaroya, cetakan kedua, tahun 1426 H]
<p>* Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin adalah ulama dari ‘Uyainah, Qosim, Saudi Arabia. Beliau terkenal sebagai seorang fakih, ulama pakar fikih di abad ini.</p>
<p>—<br>
Riyadh-KSA, 14 Shafar 1434 H<br>
Penerjemah: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a><br>
Artikel <a href="https://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
 