
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin</strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertanyaan</strong></span></h3>
<p>Apakah hukum iktikaf? Apakah diperbolehkan bagi <em>mu’takif </em>(orang yang melaksanakan iktikaf) untuk buang air, makan, dan sejenisnya, atau keluar untuk berobat? Dan apa sunah-sunah iktikaf? Bagaimana tata cara iktikaf dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam?</em></p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Jawaban</strong></span></h3>
<p>Iktikaf adalah menetap di masjid untuk menyendiri mendirikan ibadah (ketaatan) kepada Allah <em>Ta’ala. </em>Iktikaf disunahkan dalam rangka mencari Lailatulqadar<em>. </em>Allah <em>Ta’ala </em>mengisyaratkan hal itu dalam Al-Qur’an di dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</span></p>
<p>“<em>(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf di dalam masjid</em>” (QS. Al-Baqarah: 187).</p>
<p>Terdapat dalil sahih di <em>Ash-Shahihain </em>dan selain kedua kitab hadis tersebut bahwa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>beriktikaf dan para sahabat beliau <em>Radhiyallahu ‘anhum </em>beriktikaf bersama beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>(HR. Bukhari no. 2036)<em>. </em>Sehingga iktikaf tetap disyariatkan (sepeninggal beliau), dan tidak dihapus hukumnya (tidak di-<em>naskh, </em>pent.).</p>
<p>Dalam <em>Ash-Shahihain, </em>dari ibunda ‘Aisyah <em>Radhiyallahu ‘anha, </em>beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</span></p>
<p>“<em>Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau beriktikaf setelah kepergian beliau</em>” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).</p>
<p>Dalam <em>Shahih Muslim</em>, diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau mengatakan bahwa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>iktikaf di sepuluh malam pertama bulan Ramadan, kemudian iktikaf di sepuluh malam pertengahan Ramadan. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ، أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ، ثُمَّ أُتِيتُ، فَقِيلَ لِي: إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ</span></p>
<p>“<em>Aku telah iktikaf sejak sepuluh awal bulan untuk mendapatkan Lailatulqadar, kemudian sepuluh yang pertengahan. Kemudian dikatakan kepadaku bahwa Lailatulqadar itu terdapat pada sepuluh akhir Ramadan. Karena itu, siapa yang ingin iktikaf, iktikaflah.’</em></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/40366-itikaf-walau-hanya-sesaat.html">I’tikaf Walau Hanya Sesaat</a></strong></p>
<p>Maka para sahabat pun ikut iktikaf bersama-sama dengan beliau” (HR. Muslim no. 1167).</p>
<p>Sehingga para sahabat pun iktikaf bersama beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam. </em>Imam Ahmad <em>Rahimahullah </em>berkata, “Aku tidak mengetahui satu pun dari para ulama yang berbeda pendapat bahwa hukum iktikaf adalah sunah.”</p>
<p>Berdasarkan perkataan beliau <em>Rahimahullah </em>ini, maka hukum iktikaf adalah sunah, dan ini berdasarkan dalil <em>nash </em>(Al-Qur’an dan As-Sunah) dan ijmak.</p>
<p>Adapun tempat iktikaf adalah di masjid, yaitu yang di dalamnya didirikan salat berjemaah di negeri mana pun. Hal ini berdasarkan cakupan makna umum dari firman Allah <em>Ta’ala, </em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</span></p>
<p>“ … <em>sedang kamu beriktikaf di dalam masjid.</em>”</p>
<p>Yang lebih utama adalah di masjid yang di dalamnya didirikan salat Jumat, supaya tidak perlu keluar masjid ketika waktu salat Jumat tiba. Akan tetapi, jika iktikaf di masjid yang tidak didirikan salat Jumat, tidak mengapa datang lebih awal untuk salat Jumat (di masjid lain, pent.).</p>
<p>Hendaknya seorang <em>mu’takif </em>menyibukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah <em>Ta’ala, </em>berupa salat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir kepada Allah <em>Ta’ala</em> karena inilah yang menjadi tujuan dari iktikaf. Diperbolehkan untuk sesekali bercakap-cakap dengan temannya yang lain, terlebih lagi jika ada faedah di dalamnya. Diharamkan bagi <em>mu’takif </em>untuk jimak (berhubungan badan, pent.) dan awalan dari jimak.</p>
<p>Adapun keluar dari masjid, maka para ulama fikih membagi dalam tiga jenis:</p>
<p><strong><em>Pertama,</em></strong> diperbolehkan keluar karena perkara-perkara yang harus dikerjakan, baik secara <em>syar’i</em> maupun tabiat (sebagai manusia). Misalnya, keluar menuju salat Jumat (jika dia iktikaf di masjid yang tidak didirikan salat Jumat, pent.), makan, minum (jika tidak ada yang membawakan makan minum untuknya), keluar masjid untuk berwudu, mandi wajib, atau buang hajat, baik buang air kecil atau buang air besar.</p>
<p><em><strong>Kedua,</strong></em> keluar masjid untuk melakukan ketaatan yang tidak wajib baginya. Misalnya, menjenguk orang sakit atau menyaksikan pemakaman jenazah. Jika dia mensyaratkan hal itu ketika memulai iktikaf, maka diperbolehkan. Jika tidak, maka tidak boleh.</p>
<p><em><strong>Ketiga,</strong></em> keluar untuk perkara yang bertentangan dengan tujuan iktikaf. Misalnya, pulang ke rumah, jual beli, jimak dengan istri, dan semacamnya. Hal itu tidak diperbolehkan, baik dengan syarat atau tanpa syarat.</p>
<p><em>Wallahul muwaffiq.</em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/25973-fatwa-ulama-bolehkah-melakukan-itikaf-hanya-malam-hari-saja.html">Fatwa Ulama: Bolehkah Melakukan I’tikaf Hanya Malam Hari Saja?</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/6745-fiqih-ringkas-itikaf-1.html">Fiqih Ringkas I’tikaf </a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p>@Rumah Kasongan, 21 Ramadan 1443/ 23 April 2022</p>
<p><strong>Penerjemah: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Diterjemahkan dari kitab <em>Fataawa Arkaanil Islaam, </em>hal. 594-596, pertanyaan no. 448.</p>
 