
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:</p>
<p>ﺍﺷﺘﻬﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻟﻘﺐ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﻤﻨﻮﺭﺓ، ﻭﻟﻜﻦ ﻫﺬﺍ ﺣﺪﺙ ﺃﺧﻴﺮﺍً، ﻓﻜﻞ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﻴﻦ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﻘﻂ، ﺃﻭ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ، ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﻤﻨﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺍﻗﻊ ﻟﻴﺲ ﺧﺎﺻﺎً ﺑﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ؛ ﻷﻥ ﻛﻞ ﻣﺪﻳﻨﺔ ﺩﺧﻠﻬﺎ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻬﻲ ﻣﻨﻮﺭﺓٌ ﺑﺎﻹﺳﻼﻡ، ﻭﺣﻴﻨﺌﺬٍ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻠﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﻣﻴﺰﺓٌ ﺇﺫﺍ ﻗﻠﻨﺎ : ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﻤﻨﻮﺭﺓ، ﻟﻜﻦ ﻣﻊ ﻫﺬﺍ ﻻ ﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻧﻪ ﺣﺮﺍﻡ، ﺑﻞ ﻧﻘﻮﻝ : ﻫﺬﺍ ﻟﻘﺐ ﺟﺮﻯ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ، ﻟﻜﻦ ﺍﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﻧﻘﻮﻝ : ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ</p>
<p>“Tersebar di hadapan publik sebutan ‘al Madinah al Munawwarah. Ini munculnya akhir-akhir ini. Buku-buku klasik menyebutkan al Madinah saja atau al Madinah an Nabawiyyah.</p>
<p>Al Madinah al Munawwarah (Kota Bercahaya/Tersinari), sejatinya tak khusus hanya disebut untuk kota Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> saja. Setiap ‘madinah’ (kota) yang dimasuki Islam pastilah ‘munawwarah’ (tersinari) dengan cahaya Islam.</p>
<p>Jika kita katakan al Madinah al Munawwarah (untuk kota Nabi) maka tak ada lagi pembeda/kekhususan (dalam hal istilah) bagi kota Nabi sendiri.</p>
<p>Namun, pada saat yang sama, kami tak ungkapkan bahwa sebutan al Madinah al Munawwarah adalah hal yang haram. Lafadz yang diungkapkan publik ini tak mengapa.</p>
<p>Namun, ungkapan lebih baik dan pas adalah al Madinah an Nabawiyyah.”</p>
<p> </p>
<p>Sumber: <em>Silsilah Al Liqa Asy Syahri</em> (rekaman nomor 66)</p>
<p> </p>
<p>Penerjemah: Fachri Abu Syazwiena</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 