
<p style="text-align: center;"><strong>Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Soal</strong></span><br>
Bagaimana yang dimaksud dengan <em>an nadhah</em>? Saya sudah tahu bahwa madzi itu wajib dibersihkan dengan cara <em>an nadhah</em> (dibasahi). Apakah yang dimaksud dibasahi itu dengan mengambil air di telapak tangan seperti ketika ingin berkumur (dalam wudhu) ataukah disiram atau bagaimana? <em>Jazaakumullah khayr</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن والاه, أما بعد</p>
<p><a href="https://muslim.or.id/274-mengenal-mani-wadi-dan-madzi.html" target="_blank" rel="noopener">Madzi itu najis</a>. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna <em>an nadhah</em> (dibasahi), apakah maksudnya diperciki air ataukah maksudnya dicuci karena ada riwayat lain yang memerintahkan untuk dicuci. Madzhab Hambali berpendapat yang pertama (diperciki). Berdasarkan hadits Sahl bin Hanif, ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كنت ألقى من المذي شدة, وكنت أكثر منه الاغتسال, فسألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك؟ فقال: إنما يكفيك بأن تأخذ كفًّا من ماء فتنضح بها من ثوبك حيث ترى أنه أصابه</p>
<p>“<em>Aku seringkali keluar madzi, sehingga sering sekali mandi karenanya. Lalu kuceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallaahu‘alaihi wasallam. Maka beliau berkata : “Kamu cukup mengambil air setelapak tangan, lalu kamu basahi pakaianmu yang terkena madzi itu sampai terlihat basah</em>” (HR. Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Asy Syaikh Al Albani)</p>
<p>Sedangkan jumhur fuqaha berpendapat bahwa <em>an nadhah</em> (dibasahi) maksudnya adalah dicuci. Imam An Nawawi <em>rahimahullahu ta’ala</em> berkata dalam kitab <em>Al Majmu’</em> :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أجمعت الأمة على نجاسة المذي والودي، ثم مذهبنا ومذهب الجمهور أنه يجب غسل المذي, ولا يكفي نضحه بغير غسل, وقال أحمد بن حنبل – رحمه الله -: أرجو أن يجزيه النضح، واحتج له برواية في صحيح مسلم في حديث علي: توضأ وانضح فرجك, ودليلنا رواية: اغسل, وهي أكثر, والقياس على سائر النجاسات, وأما رواية النضح: فمحمولة على الغسل. اهــ</p>
<p>“Ulama bersepakat bahwa madzi dan wadi adalah najis. Namun madzhab kami (Madzhab Syafi’i) dan madzhab jumhur berpendapat wajib mencucinya, tidak cukup diperciki saja. Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> berkata: ‘Nampaknya yang benar cukup diperciki saja’. Beliau berdalil dengan hadits riwayat Muslim dari Ali:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">توضأ وانضح فرجك</p>
<p>‘<em>Berwudhulah dan basahi (perciki) kemaluanmu</em>‘<br>
Sedangkan dalil kami adalah riwayat:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">توضأ وانضح فرجك</p>
<p>‘<em>Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu</em>‘<br>
dan riwayat inilah yang lebih banyak. Selain itu juga pendapat kami berdasarkan qiyas terhadap najis-najis yang lain. Sedangkan riwayat yang menggunakan kata <em>an nadhah</em>, itu mengandung kemungkinan makna mencuci”</p>
<p>Badrudin Al’Aini berkata dalam <em>syarah</em> Shahih Bukhari:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">النضح هو صب الماء؛ لأن العرب تسمي ذلك نضحًا, وقد يذكر ويراد به الغسل, وكذلك الرش يذكر ويراد به الغسل</p>
<p>“<em>An Nadhah</em> itu artinya memerciki air, karena orang arab menyebut perbuatan itu dengan <em>nadhah</em>. Namun terkadang an <em>nadhah</em> juga maksudnya mencuci, demikian juga <em>ar rasy</em> (memerciki) terkadang maknanya mencuci”</p>
<p>Dengan demikian, yang lebih hati-hati adalah dengan mencuci bagian pakaian yang terkena madzi. Dan lihat juga fatwa no. 50657 tentang cara mencuci madzi. <em>Wallahu Ta’ala A’lam</em>.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=195145" target="_blank" rel="noopener">Klik disini</a>.</p>
<p>—</p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama<br>
Artikel Muslim.Or.Id</p>
 