
<p> </p>
<h4><span style="color: red;">Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz</span></h4>
<p> </p>
<p><strong>Soal:</strong><br>
Apa hukum bagi orang yang berpuasa melakukan <em>jima’</em>(berhubungan intim) di siang hari Ramadhan? Apakah boleh bagi musafir jika berbuka (tidak puasa) melakukan <em>jima’</em> dengan istrinya (di siang hari Ramadhan)?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br>
Wajib bagi yang berpuasa jika melakukan jima’ pada siang hari Ramadhan membayar kafarah, yaitu sebagaimana kafarah <em>zhihar</em> (lihat surat Al Mujadalah 3-4). Dan wajib juga meng-qadha puasa saat itu. Dan wajib bertaubat kepada Allah <em>Subhanahu</em> atas apa yang ia lakukan.</p>
<p>Adapun jika ia adalah seorang musafir atau sedang sakit, yang sakitnya membolehkan berbuka, maka tidak ada kafarah serta tidak masalah baginya (berjima’ di siang hari Ramadhan). Dan ia wajib meng-qadha puasa pada hari itu. Karena orang yang sakit dan musafir boleh berbuka (membatalkan puasa) dengan <em>jima’</em> atau yang lain (misalnya makan-minum). Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang sakit atau sedang dalam perjalanan maka hendaknya mengganti pada hari yang lain</em>” (QS. Al Baqarah: 184).</p>
<p>Hukum wanita sebagaimana laki-laki, jika puasa tersebut wajib (puasa Ramadhan) maka wajib melakukan kafarah dan <em>qadha</em>. Jika wanita tersebut sedang safar atau sakit dengan rasa kesusahan untuk berpuasa, maka tidak ada kafarah (jima’ di siang Ramadhan).</p>
<p>(<em>Majmu’ Fatawa bin Baz</em> 15/308, bisa diakses juga di: <a href="http://www.binbaz.org.sa/mat/540">http://www.binbaz.org.sa/mat/540</a>)</p>
<p>—<br>
Penerjemah: Raehanul Bahraen<br>
Artikel Muslim.Or.Id</p>
 