
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz <em>Rahimahullahu Ta’ala</em></strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></h3>
<p>Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Jawaban:</strong></span></h3>
<p>Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah <em>Ta’ala</em> yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan <em>mashdar</em> dari <em>wahhada – yuwahhidu</em>, yang maknanya mengesakan Allah <em>Ta’ala </em>dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah <em>Ta’ala</em> semata yang berhak disembah. Allah adalah <em>Al-Khāliq</em> (Maha Pencipta), <em>Ar-Rāziq</em> (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah <em>Ta’ala </em>adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah <em>Ta’ala</em> semata adalah yang berhak diibadahi.</p>
<p>Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah <em>Ta’ala</em>. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, dan iman kepada <em>asma wa shifat-Nya</em>.</p>
<p>Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah <em>Ta’ala </em>dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah <em>Ta’ala </em>adalah <em>Al-Khāliq</em>, <em>Ar-Rāziq</em>, dan pemilik <em>al-asmaa’ al-husnaa</em> (nama-nama yang indah) dan <em>ash-shifaat al-’ulaa</em> (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah <em>Ta’ala</em>. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah <em>Ta’ala</em> berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1].</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/72264-faktor-eksternal-perusak-iman.html" data-darkreader-inline-color="">Faktor Eksternal Perusak Iman</a></strong></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syekh Utsaimin <em>Rahimahullahu Ta’ala</em></strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></h3>
<p>Apakah makna iman sama dengan tauhid?</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Jawaban:</strong></span></h3>
<p>Tauhid adalah mengesakan Allah <em>‘Azza Wa Jalla</em> dalam hal yang menjadi kekhususan Allah <em>Ta’ala</em> dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai <em>al-qabuul</em> (menerima dengan lapang dada) dan <em>al-idz’aan</em> (taat).</p>
<p>Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. <em>Wallahu a’lam</em> [2].</p>
<p>***</p>
<p><strong>Penerjemah: Muhammad Fadli</strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/72139-definisi-iman-menurut-ahlus-sunnah.html" data-darkreader-inline-color="">Definisi Iman Menurut Ahlus Sunnah</a></strong></span></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/71286-bagaimana-seharusnya-toleransi-beragama-antar-negara-islam.html"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Bagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam?</strong></span></a></li>
</ul>
</div>
<p><strong><br>
Referensi:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> <em>Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz</em> (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).</p>
<p><strong>[2]</strong> <em>Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid </em>(http://iswy.co/e3jnq).</p>
 