
<p>Petir atau halilintar adalah gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan biasanya disebut <strong>kilat</strong> yang beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar sering disebut <strong>guruh </strong>atau<strong> geledek</strong>. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya. Cahaya merambat lebih cepat (186.000 mil / 299.338 kilometer per detik) bila dibandingkan suara (sekitar 700 mil / 1.126 kilometer per jam, bervariasi tergantung temperatur, kelembapan dan tekanan udara). Sehingga suara gemuruh biasanya terdengar beberapa saat setelah kilatan terlihat.</p>
<p>Petir merupakan gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, di mana lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (dianggap netral). Seperti yang sudah diketahui kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energi sesaat (<em>energy storage</em>). Petir juga dapat terjadi dari awan ke awan (<em>intercloud</em>), di mana salah satu awan bermuatan negatif dan awan lainnya bermuatan positif.</p>
<p>Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi <span style="text-decoration: underline;">ledakan suara</span>. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Kilatan Petir dan Geledek dalam Kacamata Syari’at Islam</strong></span></h2>
<p>Ada tiga istilah untuk kilatan petir dan geledek yaitu <em>ar ro’du</em>, <em>ash showa’iq</em> dan <em>al barq</em>. <em>Ar </em><em>ro</em><em>’du</em> adalah istilah untuk suara petir atau geledek. Sedangkan <em>a</em><em>sh </em><em>s</em><em>howa’iq</em> dan <em>al barq </em>adalah istilah untuk kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul beberapa saat sebelum adanya suara petir.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ”Dalam hadits <em>marfu’</em> (sampai kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, pen) pada riwayat At Tirmidzi dan selainnya, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya tentang <em>ar ro’du</em>, lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مخاريق مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ</span></p>
<p>”<em>Ar ro’du adalah</em> <em>malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.</em>”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Disebutkan dalam <em>Makarimil Akhlaq</em> milik Al Khoro-ithi, ’Ali pernah ditanya mengenai <em>ar ro’du</em>. Beliau menjawab, ”<em>Ar ro’du</em> adalah malaikat. Beliau ditanya pula mengenai <em>al barq.</em> Beliau menjawab, ”<em>Al barq</em> (kilatan petir) itu adalah pengoyak di tangannya.” Dan dalam riwayat lain dari Ali juga,” <em>Al barq</em> itu adalah pengoyak dari besi di tangannya”.”</p>
<p>Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan lagi, ”<em>Ar ro’du</em> adalah <em>mashdar</em> (kata kerja yang dibendakan) berasal dari kata <em>ro’ada, yar’udu, ro’dan</em> (yang berarti gemuruh, pen). … Namanya gerakan pasti menimbulkan suara. Malaikat adalah yang menggerakkan (menggetarkan) awan, lalu memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan setiap gerakan di alam ini baik yang di atas (langit, pen) maupun di bawah (bumi, pen) adalah dari  malaikat. Suara manusia dihasilkan dari gerakan bibir, lisan, gigi, lidah, dan dan tenggorokan. Dari situ, manusia bisa bertasbih kepada Rabbnya, bisa mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu,  <em>ar ro’du</em> (suara gemuruh) adalah suara yang membentak awan. Dan <em>al barq</em> (kilatan petir) adalah kilauan air atau kilauan cahaya. … ”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 19, As Suyuthi mengatakan bahwa <em>ar ra’du</em> adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada juga yang berpendapat bahwa <em>ar ro’du</em> adalah suara malaikat. Sedangkan <em>al</em> <em>barq </em>(kilatan petir) adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat untuk menggiring mendung.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p><em>Ar ro’du</em> kadang dimaknakan dengan malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada pula yang berpendapat bahwa <em>ar ro’du </em>(geledek) adalah suara malaikat. Sedangkan <em>al barq atau ash showa’iq </em>adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat yang digunakan untuk menggiring mendung.</p>
<p>Karena apa yang diperbuat oleh malaikat ini termasuk ranah ghoib, maka kewajiban kita hanyalah mengimaninya saja, dan tidak boleh mengingkari.</p>
<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Do’a Ketika Mendengar Petir</strong></span></h2>
<p>Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ</span></p>
<p>”<em>Subhanalladzi sabbahat lahu</em>” (Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan, ”<em>Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya</em>.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Apabila ’Abdullah bin Az Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ</span></p>
<p>“<em>Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih</em>” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya). Kemudian beliau mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّ هَذَا لَوَعِيْدٌ شَدِيْدٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ</span></p>
<p>”<em>Inilah ancaman yang sangat keras untuk penduduk suatu negeri</em>”.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Jadi, do’a yang bisa dibaca ketika mendengar geledek atau suara petir adalah bacaan: “<em>Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih</em>” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).</p>
<p>Insya Allah, berikutnya kita masuk pada pembahasan beberapa keringanan yang diperoleh seorang muslim ketika hujan turun.</p>
<p>Semoga Allah mudahkan.</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel https://rumaysho.com</p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/11800-pelajaran-dari-keledai-yang-ditunggangi-nabi-dan-fenomena-kirim-al-fatihah.html"><strong>Pelajaran dari Keledai yang Ditunggangi Nabi dan Fenomena Kirim Al Fatihah</strong></a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/1152-hilal-bukan-sekedar-fenomena-di-langit.html"><strong>Hilal Bukan Sekedar Fenomena di Langit</strong></a></span></li>
</ul>
<hr>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Petir">http://id.wikipedia.org/wiki/Petir</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Guruh">http://id.wikipedia.org/wiki/Guruh</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat penjelasan para ulama selanjutnya. Mengenai makna istilah <em>ar ro’du </em>dan <em>ash showa’iq</em>, silakan lihat <em>Rosysyul Barod Syarh Al Adab Al Mufrod</em>, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, hal. 381, Dar Ad Da’i, cetakan pertama, Jumadil Ula, 1426 H.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Tirmidzi no. 3117. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>Majmu’ Al Fatawa,</em> 24/263-264.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Tafsir Al Jalalain, </em>surat Al Baqarah ayat 19, Mawqi’ At Tafasir.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat Adabul Mufrod no. 722, dihasankan oleh Syaikh Al Albani.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat Adabul Mufrod no. 723, dishohihkan oleh Syaikh Al Albani.</p>
 