
<p>Bagaimanakah hukum membaca bismillah sebelum makan?</p>
<p>Hadis yang menjadi landasan seputar masalah ini adalah, sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi </em><em>wasallam</em> kepada Umar bin Abu Salamah, yang kala itu beliau masih belia,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ</p>
<p>“<em>Wahai Anakku, bacalah “bismilillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu</em>. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Hukum Membaca Bismillah Sebelum Makan</span></h4>
<p>Sebagian orang berpandangan sunah. Namun lebih tepat bila kita katakan, bahwa hukum membaca bismillah sebelum makan adalah wajib.</p>
<p>Meski sejatinya ada silang pendapat di kalangan ulama mengenai masalah ini. Namun pendapat yang lebih rajih -Allahu a’lam- adalah pendapat yang menyatakan wajib. Dalilnya adalah hadis Umar bin Abi Salamah di atas. Di dalamnya terdapat indikasi kuat yang mendulung pendapat tersebut. Diantaranya adalah:</p>
<p>Perintah Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> untuk membaca bismillah sebelum makan, kepada Umar bin Abi Salamah, beliau sampaikan saat Umar bin Abi Salamah masih kecil. Bila anak kecil saja sudah diperintahkan untuk membaca bismillah sebelum makan, maka untuk orang dewasa tentu lebih ditekankan lagi.</p>
<p>Ada kaidah yang menyatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">الأصل في الأمر الوجوب</p>
<p>“<em>Pada dasarnya, perintah itu menunjukkan hukum wajib</em>.”</p>
<p>Jelas sekali dalam sabda Nabi <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> di atas terkandung perintah. Dan hukum asal perintah adalah memberi faidah kewajiban. Kecuali bila ada indikasi lain yang mengalihkan perintah tersebut dari hukum wajib kepada anjuran. Namun dalam hal ini tidak didapati indikasi yang mengalihkan perintah tersebut dari hukum wajib. Ini menunjukkan bahwa membaca bismillah sebelum makan adalah kewajiban.</p>
<p>Alasan lain yang menguatkan keterangan ini adalah, perintah untuk membaca bismillah dalam hadis di atas, satu paket dengan perintah makan menggunakan tangan kanan. Tentu tak diragukan lagi, bahwa makan dengan tangan kanan adalah sebuah kewajiban. Karena dalam hadis lain disebutkan, bahwa setan makan dengan tangan kiri.</p>
<p>Tidak mungkin satu paket perintah menghasilkan hukum yang berbeda. Yang satu wajib dan yang satu sunah. Ini dalil bahwa hukum membaca bismillah sebelum makan adalah wajib, sebagaimana wajibnya hukum makan dengan tangan kanan. (lihat: Fathul Bari 9/522)</p>
<p>Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Ibnu Muflih, Ibnu Hazm, Ibnu Abi Musa. (lihat: <em>Al-Adab Asy-Syar’iyah</em> 3/178, Al-Irsyad hal. 538, <em>Al-Muhalla</em> 7/424)</p>
<p>Ada pula hadis lain yang secara tegas menunjukkan wajibnya membaca basmalah sebelum makan. Hadis tersebut dari Ibunda Aisyah radhiyallahu’anha. Nabi <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ</p>
<p>“<em>Apabila salah seseorang dari kalian hendak makan, maka ucapkanlah bismillah. Apabila lupa maka ucapkanlah, “Bismillahi Awwalahu wa Aakhirohu” (Dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhir)</em>.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)</p>
<p>Bila hukum membaca basmalah hanya sebatas anjuran, tentu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> tidak akan memberi penekanan seperti ini. Sampai ketika seorang lupa pun, beliau tetap perintahkan untuk membaca bismillah, seperti yang tertera pada hadis di atas.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><em>Bismillah</em> atau <em>Bismillahirrahmaanirrahim</em>?</span></h4>
<p>Zahir dari hadis ‘Aisyah di atas menunjukkan, bahwa yang diperintahkan hanyalah sebatas “<em>bismillah</em>” saja, tanpa tambahan “<em>bismillahirrahmaanirrahim</em>“.</p>
<p>Ada ulama yang menjelaskan, bahwa yang lebih afdhal adalah membaca lengkap <em>bismillahirrahmaanirrahim</em>. Seperti Imam Nawawi, Ibnu Muflih dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah merahmati mereka semua-.</p>
<p>Akan tetapi pendapat mereka tersebut disanggah oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em>. Beliau menyatakan bahwa yang lebih tepat bacaan basmalah sebelum makan cukup “bismillah ” saja. Karena seperti inilah yang tertera dalam hadis. (Lihat: <em>Fathul Bari</em> 9/221, Al-Furu’ 5/300, <em>Al-Adzkar</em> hal. 208)</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Bila Makannya Bareng-Bareng atau Berjama’ah</span></h4>
<p>Masalah selanjutnya adalah, bila makannya berjamaah, apakah diwajibkan atas setiap orang yang ada dalam kumpulan tersebut untuk membaca basmalah, atau cukup terwakilkan dengan satu orang saja?</p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa bacaan salah seorang dari perkumpulan tersebut sudah cukup mewakili yang lain. Sebagian fuqoha’ menyamakan masalah ini dengan masalah menjawab salam dalam satu rombongan dan men-tasymith orang yang bersin. Yang mana dalam dua kasus tersebut cukup terwakilkan oleh satu orang. (Lihat: Al-Adzkar hal. 374)</p>
<p>Mereka juga beralasan: terdapat keterangan dari Nabi <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>; bahwa bila seorang tidak membaca basmalah sebelum makan, setan akan ikut campur dalam menyantap makanannya. Tujuan ini telah tercapai dengan bacaan salah seorang dalam majlis tersebut. Sehingga bacaan salah seorang dari mereka sudah mencukupi.</p>
<p>Namun Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berpendapat lain. Beliau berpandangan bahwa bacaan basmalah tidak cukup terwakilkan oleh satu orang. Akan tetapi wajib atas setiap orang yang ada dalam majlis tersebut, untuk membaca <em>bismillah</em>.</p>
<p>Alasannya adalah hadis Aisyah radhiyallahu’anha. Disebutkan dalam hadis tersebut, bahwa Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> makan bersama 6 orang sahabat beliau. Kemudian datang seorang Arab baduwi untuk menyertai mereka. Ia pun makan dua suapan dari hidangan tersebut, tanpa membaca bismillah terlebih dahulu. Melihat keadaan demikian, Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> bersabda;</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَمَا إنَّهُ لَوْ سَمَّى لَكَفَاكُمْ</p>
<p>“<em>Jika saja dia makan dengan (menyebut) nama Allah, niscaya makanan ini akan mencukupi kalian semua</em> .” (HR. Tarmizi. Beliau menilai hadis ini hasan sahih)</p>
<p>Sudah barang tentu, Rasulullah dan para sahabatnya telah membaca bismillah sebelum mereka makan. Kalau saja bacaan bismillah satu orang sudah cukup mewakili bacaan orang-orang yang hadir dalam majlis tersebut. Tentu Nabi tidak akan bersabda demikian. Karena bacaan basmalah Nabi dan para sahabatnya, sudah mencukupi untuk seorang Arab Baduwi tersebut.</p>
<p>Alasan lain yang menguatkan pendapat ini adalah, hadis Umar bin Abi Salamah di atas. Yang mana saat itu beliau makan bersama Nabi <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>. Karena tidak membaca basmalah, lalu Nabi pun mengingatkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يَا غُلاَمُ سَمِّ الله</p>
<p>“<em>Wahai Anakku.. bacalah “bismillah</em>”</p>
<p>Bila bacaan basmalah sudah tercukupkan dengan bacaan satu orang, tentu Nabi <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> tidak akan mengingatkan Umar bin Abi Salamah <em>radhiyallahu’anhu</em> untuk membaca basmalah. Karena sudah tercukupkan bacaan basmalah Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Meskipun ada ulama yang berpandangan lain. Kata mereka sabda Nabi <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> tersebut dalam rangka pengajaran. Akan tetapi zahir hadis menguatkan keterangan ini.</p>
<p>Dari pemaparan argument masing-masing pendapat di atas, kita dapat mengetahui bahwa pendapat yang lebih rajih -insyaAllah- , adalah pendapat kedua. Yaitu pendapat yang menyatakan wajib atas setiap orang dalam majlis makan, untuk membaca basmalah.</p>
<p><em>Wallahu a’lam bis showab</em></p>
<p>Demikian yang bisa penulis sampaikan. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua, untuk istiqomah di atas keridoanNya.</p>
<p>—</p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah fi Syarhi Fushulil Adab wa Makaarimil Akhlaq Al-Masyruu’ah</em>. Karya: Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan -hafidzohullah-. Terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama,  th 1434 H</p>
<p>Madinah An-Nabawiyyah,<br>
2 Shofar 1436</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ahmad Anshori</p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id" target="_blank" rel="noopener">Muslim.Or.Id</a></p>
 