
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Berdiam di Masjid syarat sahnya I’tikaf</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Berkata </span><span style="color: #000000;"><i>Al-Allamah </i></span><span style="color: #000000;">Syaikh Syarafud Din Abun Naja Musa bin Ahmad Al-Hajjaawi </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah</i></span><span style="color: #000000;"> dalam kitabnya: </span><span style="color: #000000;"><i>Zadul Mustaqni’ fi ikhtishar Al-Muqni’ </i></span><span style="color: #000000;">mendefinisikan </span><span style="color: #000000;"><i>I’tikaf,</i></span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: right;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="ar-SA"><b>هُوَ لُزُومُ مَسْجِدٍ لِطَاعَةِ اللهِ تَعَالَى</b></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Yaitu menetap di masjid untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala.</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Penjelasan :</b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Apakah maksud </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="ar-SA"><b>مَسْجِدٍ</b></span></span><b> </b><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(masjid) di sini?</span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><b>Secara bahasa adalah :</b></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Berkata Ibnu Mandhur </span><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span><sup><span lang="en-US"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></i></span></sup><span lang="en-US">:</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">المسجَد والمسجِد <span lang="en-US">: </span>الذي يسجد فيه</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US"><i>Al-Masjad dan Al-Masjid yaitu </i></span><span lang="en-US"><i>(Tempat) yang digunakan untuk bersujud.</i></span><sup><span lang="en-US"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></span></sup></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Berkata Sibawaih </span><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span><sup><span lang="en-US"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></i></span></sup><span lang="en-US"><i>:</i></span></p>
<p dir="RTL" lang="en-US" align="JUSTIFY">أما المسجِد فإنهم جعلوه اسماً للبيت ولم يأتِ على فعل يفعُل</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US"><i>Adapun kata “Al-Masjid”, maka sesungguhnya mereka menjadikannya sebagai sebutan untuk sebuah rumah (baca: tempat), namun (kata tersebut) tidak sesuai dengan wazan (timbangan) “fa’ala-yaf’ulu </i></span><sup><span lang="en-US"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></i></span></sup><span lang="en-US"><i>”</i></span><sup><span lang="en-US"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a></i></span></sup></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US">Dari sini dapat kita simpulkan bahwa </span><span lang="en-US"><i>Al-Masjad (</i></span><span lang="en-US">dengan harakat fathah huruf </span>ج <span lang="en-US">nya)</span><i> </i><span lang="en-US"> secara bahasa Arab adalah kata keterangan tempat dari </span><span lang="en-US"><i>sajada- yasjudu</i></span><span lang="en-US">, namun karena dalam dalil disebutkan </span><span lang="en-US"><i>Masjid (</i></span><span lang="en-US">dengan harakat kasrah huruf </span>ج <span lang="en-US">nya)</span><span lang="en-US"><i>,</i></span><span lang="en-US">maka digunakanlah kata </span><span lang="en-US"><i>Al-Masjid,</i></span><i> </i><span lang="en-US">sebagaimana dalam firman</span><i> </i><span lang="en-US">Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala</i></span><span lang="en-US">:</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span lang="en-US"><b>{</b></span><b>لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ</b><span lang="en-US"><b>} </b></span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US"><i>Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersih.</i></span><span lang="en-US">(At-Taubah:108)</span><span lang="en-US"><i>.</i></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><b>Faedah Ilmiyyah:</b></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Berkata Az-Zakarsyi </span><span lang="en-US"><i>rahimahullah,</i></span></p>
<p dir="RTL" lang="en-US" align="RIGHT">ولما كان السجود أشرف أفعال الصلاة لقرب العبد من ربه اشتق اسم المكان منه فقيل مسجد، ولم يقولوا مركع</p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID"><i>Ketika sujud merupakan gerakan shalat yang termulia, karena (pada posisi sujud) hamba dekat dengan Rabbnya, </i></span><span lang="en-US"><i>maka diambillah kata keterangan tempat darinya, maka diungkapkan dengan: “masjid” dan mereka tidak menyebut “marki’”</i></span><span lang="id-ID"><i>.</i></span><sup><span lang="id-ID"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a></i></span></sup></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><b>Secara Istilah adalah :</b></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Terdapat beberapa definis</span><span lang="en-US">i</span><span lang="id-ID"> Masjid secara istilah dari para Ulama </span><span lang="id-ID"><i>rahimahumullah, </i></span><span lang="id-ID">namun definisi yang terpilih adalah</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">المكان الموقوف لأداء صلاة الجماعة</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US"><i>Tempat yang diwakafkan untuk menunaikan shalat berjama’ah (sholat lima waktu).</i></span><sup><span lang="en-US"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote7sym" name="sdfootnote7anc"><sup>7</sup></a></i></span></sup></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">,definisi ini adalah menurut ulama Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, dan definisi ini yang terpilih karena menggabungkan dua syarat suatu tempat dikatakan sebagai masjid, </span><span lang="en-US">yaitu</span><span lang="id-ID">:</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Pertama: </span><span lang="id-ID">Tempat </span><span lang="en-US">yang</span><span lang="id-ID"> diwakafkan </span><span lang="id-ID"><i>Lillahi Ta’ala .</i></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Kedua : Tempat itu digunakan untuk menunaikan shalat berjama’ah lima waktu.</p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa:</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>1. Masjid adalah syarat syahnya I’tikaf</b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, berdasarkan dalil Alquran, As-Sunnah dan Ijma’, salahsatunya adalah firman Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">:</span></span></p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>{ </b></span><span lang="ar-SA"><b>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>}</b></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>(Tetapi) janganlah kalian campuri mereka itu, sedang kalian sedang beri’tikaf dalam masjid</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. (Al-Baqarah: 187).</span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Sisi pendalilannya:</span></p>
<ul>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Karena Allah menjadikan tempat I’tikaf adalah masjid.</span></p>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dan karena : Kalau seandainya sah I’tikaf dilakukan di selain masjid, maka tidaklah dikhususkan pengharaman bersetubuh bagi orang yang sedang I’tikaf hanya di masjid saja, namun juga dilarang di tempat lainnya.</span></p>
</li>
</ul>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"> Pengkhususan tempat disini menunjukkan pada bahwa tempat I’tikaf hanya satu, yaitu masjid.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">2. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>Tidak boleh I’tikaf di seluruh tempat yang tidak memenuhi definisi masjid</b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, seperti: kantor, kelas sekolahan, mushola (tempat sholat) kantor, mushola sekolah dan mushola pabrik. Mushola juga bukan termasuk masjid, karena:</span></span></p>
<ul>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mushola kantor bisa saja tidak digunakan sholat atau hanya untuk sholat karyawan, sedang masjid untuk sholat setiap orang yang mengunjunginya. Atau digunakan untuk shalat, namun bukan lima waktu, hanya satu atau dua waktu saja.</span></p>
</li>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mushola tidak ada imam tetap sholat lima waktunya, adapun masjid ada.</span></p>
</li>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Masjid tidak boleh dijual dan disewakan, karena telah diwakafkan, adapun mushola kantor, bisa dijual mengikuti dijualnya perusahaan oleh pemilik perusahaan.</span></p>
</li>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Tidak berlaku pada mushola hukum-hukum masjid, seperti sholat Tahiyyatul Masjid, dilarang orang yang junub dan wanita haidh berdiam disitu, dilarang berdagang di dalamnya, semua itu tidak berlaku di mushola.</span></p>
</li>
</ul>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">3. </span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><strong>Mushola (tempat sholat) untuk menunaikan sholat ‘Iid (atau yang disebut dengan lapangan sholat ‘Iid), juga bukan masjid</strong>, menurut pendapat terkuat dan ini pendapat Jumhur Ulama </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahumullah. </i></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Berkata Imam Nawawi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">dalam kitab </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Al-Majmu’,</i></span></span></p>
<p dir="RTL" lang="id-ID" align="RIGHT"><span lang="ar-SA">المصلى المتخذ للعيد وغيره، الذي ليس بمسجد لا يحرم المكث فيه على الجنب</span></p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><span lang="ar-SA">والحائض على المذهب</span><span lang="ar-SA">. </span><span lang="ar-SA">وبه قطع الجمهور</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US"><i>Tempat sholat yang dipakai untuk shalat ‘Ied (tanah lapang) dan selainnya yang bukan termasuk masjid, tidaklah diharamkan bagi orang junub dan haidh berdiam padanya , ini menurut madzhab (Syafi’iyyah), dan dengan pendapat inilah Jumhur ulama berpendapat.</i></span><sup><span lang="en-US"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote8sym" name="sdfootnote8anc"><sup>8</sup></a></i></span></sup></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Alasan tanah lapang </span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">untuk menunaikan sholat ‘Iid </span></span><span lang="en-US">tidak termasuk masjid, diantaranya karena :</span></p>
<ul>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT">Tidak dilaksanakan sholat lima waktu di dalamnya.</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT">Tidak ada imam tetap shalat lima waktu.</p>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT">Tidak dilakukan shalat Tahiyyatul Masjid padanya.</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US" align="LEFT">Anak-anak kecil diperbolehkan bermain-main padanya, dan alasan-alasan yang lainnya.</p>
</li>
</ul>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Kesimpulan : Tanah lapang untuk shalat ‘Iid bukanlah termasuk masjid, sehingga tidak sah I’tikaf padanya, menurut pendapat yang terkuat. </span><span lang="en-US"><i>Wallahu a’lam.</i></span></p>
<h5 align="LEFT">Apakah halaman masjid termasuk masjid sehingga diperbolehkan I’tikaf padanya?</h5>
<p align="LEFT"><em><span lang="en-US">Dalam kitab </span></em><em><span lang="en-US">Fikih I’tikaf, </span></em><em><span lang="en-US">yang ditulis oleh</span></em><span lang="en-US"> Syaikh Dr. Khalid bin Ali Al- Musyaiqih </span><span lang="en-US"><i>hafizhahullah , </i></span><span lang="en-US">beliau menjelaskan perselisihan ulama dalam masalah ini, berikut intisari penjelasan beliau:</span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><b>Istilah dan Definisi</b></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Halaman masjid dalam istilah Fikih dinamakan dengan : </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Rahbatul Masjid. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Ulama </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">mendefinisikannya dengan definisi beraneka ragam.</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh Dr. Khalid bin Ali Al- Musyaiqih </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>hafizhahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">berkata,</span></span></p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><span style="color: #000000;"><span lang="ar-SA">الرحبة</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">: </span><span lang="ar-SA">بفتح الراء وسكون الحاء أو بفتحهما</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">: </span><span lang="ar-SA">الأرض الواسعة، ورحبة المكان</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">: </span><span lang="ar-SA">ساحته ومتسعه وجمعه</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">: </span><span lang="ar-SA">رحاب</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">.<br>
</span><span lang="ar-SA">ورحبة المسجد</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">: </span><span lang="ar-SA">ساحته و صحنه </span></span></p>
<p align="LEFT"><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Rahbah </span></span></em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">adalah tanah yang luas. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Ra</i></span></span><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">hbah </span></span></em><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">suatu</span></span></em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> tempat adalah halaman yang luas dari tempat tersebut.</span></span></p>
<p>Adapun <i>r</i><em>ahbah </em>masjid adalah halaman masjid.<sup><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote9sym" name="sdfootnote9anc"><sup>9</sup></a></sup></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>Tiga pendapat ulama </b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i><b>rahimahumullah</b></i></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Ulama </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahumullah</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> berselisih pendapat tentang apakah halaman masjid itu termasuk bagian dari masjid atau tidak. </span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh Dr. Khalid bin Ali Al- Musyaiqih </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>hafizhahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">menyebutkan ada tiga pendapat dalam maslah ini, berikut ringkasannya:</span></span></p>
<p align="LEFT"><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Pendapat pertama</span></span></strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">,</span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Jika halaman masjid tersebut bersambung dengan masjid dan berada di dalam pagar masjid, maka halaman masjid tersebut termasuk masjid. </i></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Namun jika halaman tersebut tidak bersambung dengan masjid dan tidak berada di dalam pagar masjid, maka halaman tersebut bukan termasuk masjid. </i></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Inilah pendapat para ulama bermazhab Syafi’i, salah satu pendapat Imam Ahmad dan pendapat yang dipilih oleh Qadhi Abu Ya’la salah seorang ulama bermazhab Hanbali. </span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dalil pendapat ini adalah firman Allah,</span></p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>{ </b></span><span lang="ar-SA"><b>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>}</b></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>(Tetapi) janganlah kalian campuri istri-istri kalian, ketika kalian sedang beri’tikaf dalam masjid</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(QS. Al-Baqarah:187).</span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Jika halaman tersebut dikelilingi pagar masjid dan bersambung dengan bangunan masjid sehingga dikategorikan menyatu dengan masjid, maka hakekatnya halaman tersebut termasuk masjid. </span></p>
<p align="LEFT"><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Pendapat kedua</span></span></strong></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Halaman masjid itu bukan termasuk masjid, sehingga i’tikaf di halaman tersebut tidaklah sah.</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Inilah pendapat yang terkenal di antara para ulama bermazhab Maliki </span></span><sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote10sym" name="sdfootnote10anc"><sup>10</sup></a></span></span></sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Ini juga merupakan p</span></span>endapat yang paling tepat diantara para ulama bermazhab Hanbali<sup><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote11sym" name="sdfootnote11anc"><sup>11</sup></a></sup></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mereka berdalil dengan perkataan Aisyah, </span></p>
<p dir="RTL" align="RIGHT"><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">“</span><span lang="ar-SA">كنّ المعتكفات إذا حضنّ أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بإخراجهن من المسجد وأن يضربن الأخبية في رحبة المسجد حتى يطهرن</span></span></strong><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">“</span></span></strong></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>P</i></span></span><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>ara</i></span></span></em><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> wanita yang sedang beri’tikaf, jika sedang haid, diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluar dari masjid dan memasang bilik-bilik i’tikaf mereka di halaman masjid sampai mereka suci dari haid</span></span></em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">”</span></span><sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote12sym" name="sdfootnote12anc"><sup>12</sup></a></span></span></sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. </span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Bantahan: Dibawakan kepada kemungkinan bahwa halaman masjid tersebut tidak berada di dalam pagar masjid. </span></p>
<p align="LEFT"><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Pendapat ketiga</span></span></strong></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Beri’tikaf di halaman masjid itu sah jika bilik i’tikaf dipasang di halaman masjid. </i></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Inilah pendapat Imam Malik. </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Imam Malik </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">mengatakan, “</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Seorang yang sedang beri’tikaf hanya boleh menginap di dalam masjid yang dia pergunakan untuk i’tikaf saja, kecuali jika bilik i’tikafnya berada di halaman masjid </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">”</span></span><sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote13sym" name="sdfootnote13anc"><sup>13</sup></a></span></span></sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. </span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Mungkin dalil Imam Malik adalah perkataan Aisyah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anha </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">di atas. </span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Pendapat yang terkuat</b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama, berdasarkan dalil yang telah disebutkan. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>W</i></span></span><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">allahu a’lam</span></span></em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. </span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Kesimpulan</b></span></p>
<ol>
<li lang="en-US">
<span style="color: #000000;"><span lang="en-US">H</span></span>alaman masjid yang terletak di dalam pagar masjid adalah bagian dari masjid, sehingga berlaku semua hukum-hukum masjid.</li>
<li lang="en-US"><span style="color: #000000;">Konsekwensinya, halaman masjid yang terletak di dalam pagar masjid itu sah digunakan untuk tempat i’tikaf, sehingga orang yang sedang i’tikaf, jika keluar dari ruang utama masjid, kemudian berpindah ke halaman masjid yang terletak di dalam pagar masjid tersebut, maka tidak menyebabkan i’tikafnya batal.</span></li>
</ol>
<p>***</p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a> Beliau adalah Abul Fadhl Muhammad bin Mukrim bin Ali Al-Anshari Al-Ifriiqi, Imam Ahli bahasa Arab (w. 711 H), <span style="font-size: medium;"><span lang="en-US"><i>Ahkamu Rahbatil Masjid, hal. 4 (soft file word).</i></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a>. Lisanul Arab, juz 7 pada huruf سجد, <span lang="en-US">(</span>library.<span lang="en-US">I</span>slamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=3713&amp;idto=3713&amp;bk_no=122&amp;ID=3720<span lang="en-US">)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a>. ‘Amr bin Utsman Al-Haritsi, Imam Ahli Nahwu (w. 180 H), <span style="font-size: medium;"><span lang="en-US"><i>Ahkamu Rahbatil Masjid, hal. 4 (soft file word).</i></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a>. <span style="font-size: medium;">M</span><span style="font-size: medium;"><span lang="en-US">aksudnya (harakat kata tersebut) tidak sesuai dengan perubahan timbangan (wazan)nya, seharusnya “Al-Masjad” dengan harakat fathah (huruf </span></span><span style="font-size: medium;">ج</span> <span style="font-size: medium;"><span lang="en-US">nya), </span></span><span style="font-size: medium;"><span lang="en-US"><i>Ahkamu Rahbatil Masjid, hal. 4 (soft file word).</i></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a>. Lisanul Arab, juz 7 pada huruf سجد, <span lang="en-US">(</span>library.<span lang="en-US">I</span>slamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=3713&amp;idto=3713&amp;bk_no=122&amp;ID=3720<span lang="en-US">)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a>. <i>I’laamus Sajid bi Ahkaamil Masaajid, Az-Zarkasi, hal. 27, di http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=2&amp;View=Page&amp;PageNo=3&amp;PageID=11664</i></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote7anc" name="sdfootnote7sym">7</a><span lang="en-US">. Al-Bahrur Raaiq (5/268), Haasyiah Ibni Aabidin (4/356), Al-Haawi Al-Kabiir (3/485), Majmuu’ Fataawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah , dinukil dari: </span><span style="font-size: medium;"><span lang="en-US">Ahkamu Rahbatil Masjid, hal. 6 (soft file word).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote8anc" name="sdfootnote8sym">8</a>. library.<span lang="en-US">I</span>slamweb.net/newlibrary/display_book.php?ID=545&amp;start=0&amp;idfrom=871&amp;idto=871&amp;bookid=14&amp;Hashiya=64</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote9anc" name="sdfootnote9sym">9</a><span style="font-size: small;">. </span><span style="font-size: small;">Mishbahul Munir 1/222 dan Ikmal Ikmalil Mu’allim 3/288</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote10anc" name="sdfootnote10sym">10</a>. <span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US">Ikmal Ikmalil Mu’allim 3/288, Syarh Az- Zarqani 2/206, Mawahibul Jalil 2/455 dan Asy-Syarhul Kabir beserta penjelasan singkatnya 1/542.</span></span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote11anc" name="sdfootnote11sym">11</a><span style="font-size: small;">. </span><span style="font-size: small;">Al-Mughni 4/487, Al-Mubdi’ 3/68 dan Al-Inshaf 3/364.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote12anc" name="sdfootnote12sym">12</a>. Penyususun belum mendapatkan derajat Haditsnya, jika seandainya riwayat ini shahihpun, maka bisa terbantah dengan bantahan di atas. <i>Wallahu a’lam.</i></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote13anc" name="sdfootnote13sym">13</a>. <span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;"><span lang="en-US">Al Mudawwanah yang disertai al Muqaddimat 2/203, Al-Muwaththa` yang disertai Al-Muntaqa 2/79 dan Ikmal Ikmil Mu’allim 3/288</span></span></span></p>
<p class="sdfootnote">—</p>
<p class="sdfootnote">Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p class="sdfootnote">Artikel Muslim.or.id</p>
<p class="sdfootnote">[serialposts]
</p>
</div>
 