
<p>Dalam fikih, dibedakan antara kasus kriminal yang sudah dilaporkan kepada ululamri (pemerintah) dengan yang belum dilaporkan. Untuk kasus kriminal terdapat hukuman <em>hadd</em>-nya, apabila sudah dilaporkan kepada ululamri, maka ketika itu hukuman <em>hadd</em> wajib ditegakkan. Adapun yang belium dilaporkan kepada ululamri, maka tidak wajib ditegakkan <em>hadd</em> dan bisa dimaafkan.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kasus yang sudah dilaporkan</strong></span></h2>
<p>Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud <em>Radhiallahu’anhu</em> beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إني لَأذكرُ أولَ رجلٍ قطعه رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، أُتِيَ بسارقٍ فأمر بقطعِه ، فكأنما أسِفَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، فقالوا : يا رسولَ اللهِ كأنك كرهتَ قطعَه ؟ قال: وما يمنعُني ؟ ! لا تكونوا أعوانًا للشيطان على أخيكم إنه لا ينبغي للإمامِ إذا انتهى إليه حدٌّ إلا أن يقيمَه إنَّ اللهَ عفُوٌّ يحبُّ العفْوَ { وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ}</span></p>
<p>“Aku ingat suatu ketika ada lelaki yang dipotong tangannya oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Ketika itu dihadapkan kepada beliau seorang pencuri, lalu dipotonglah tangan pencuri tersebut.</p>
<p>Namun seolah-olah Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menyesal telah memotong tangan orang tersebut. Maka para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah Engkau tidak suka untuk memotong tangan orang tadi?’</p>
<p>Nabi bersabda, <em>‘Apa yang menghalangiku untuk tidak memotongnya? Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menggoda saudara kalian (untuk tidak menegakkan hadd, pent.). Sesungguhnya tidak boleh bagi seorang pemimpin jika kasus kriminal telah dihadapkan kepadanya, lalu ia tidak menegakkan hadd.</em></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah itu Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan. Allah berfirman (yang artinya), ‘dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’</em>” (QS. An Nur: 22)” (HR. Ahmad [6/100], di-<em>hasan</em>-kan Al-Albani dalam <em>Silsilah Ash-Shahihah</em> [4/182]).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/39596-siapakah-ulil-amri-atau-penguasa-yang-wajib-ditaati-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Siapakah Ulil Amri atau Penguasa yang Wajib Ditaati?</a></strong></p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa jika kasus kriminal yang terdapat hukuman <em>hadd</em> sudah dilaporkan kepada ululamri, maka wajib bagi ululamri untuk menegakkan <em>hadd</em> (hukuman) dan tidak ada celah untuk memaafkan walaupun sangat ingin untuk memaafkan.</p>
<p>Syekh Abdul Aziz bin Baz <em>Rahimahullah </em>mengatakan, “Rasulullah <em>Shallallahu ’alaihi wasallam</em> menjelaskan bahwa menegakkan hukuman <em>hadd</em> adalah termasuk perkara penting. Bahwasanya dalam hal ini tidak diperbolehkan <em>syafa’ah</em> setelah perkaranya sampai kepada penguasa. Bahkan hukuman <em>hadd</em> tersebut wajib dijalankan, jika memang perkaranya sampai kepada penguasa. Sehingga timbul efek jera di tengah masyarakat dari melakukan apa yang diharamkan Allah. Itu juga merupakan sebab dari istikamahnya masyarakat dalam melakukan apa yang Allah <em>Ta’ala </em>perintahkan, dan dalam rangka menegakkan hak Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>” (http://www.binbaz.org.sa/mat/11950).</p>
<p>Ibnu Daqiq Al-Ied <em>Rahimahullah </em>ketika menjelaskan hadis Bukhari-Muslim yang panjang tentang wanita Mahzumiyyah yang dipotong tangannya, beliau menjelaskan, “Hadis ini adalah dalil terlarangnya memberi syafaat untuk sebuah hukuman <em>hadd</em> setelah perkaranya sampai di tangan hakim/penguasa. Di dalam hadis ini juga terdapat penggambaran betapa fatalnya perbuatan <em>al-muhabah</em> (nepotisme) terhadap orang-orang terhormat dalam pelanggaran hak-hak Allah <em>Ta’ala</em>” (<em>Ihkamul Ahkam</em>, 2: 248).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/29260-apakah-ulil-amri-yang-wajib-ditaati-hanya-yang-berhukum-dengan-kitabullah.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Ulil Amri Yang Wajib Ditaati Hanya Yang Berhukum Dengan Kitabullah?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kasus yang belum dilaporkan</strong></span></h2>
<p>Adapun selama belum dilaporkan kepada ululamri, maka disitulah terdapat celah untuk memaafkan. Terutama bagi orang-orang baik yang tergelincir pada kesalahan. Rasulullah <em>Shallallahu ’alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ زَلَّاتِهِمْ</span></p>
<p><em>“Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang baik”</em> (HR. Ibnu Hibban no. 94).</p>
<p>Di dalam riwayat lain Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أقيلوا ذوي الهيئات عثراتهم ، إلا الحدود</span></p>
<p><em>“Maafkanlah ketergelinciran dzawil haiah (orang-orang yang baik namanya), kecuali jika terkena hadd”</em> (HR. Abu Daud no. 4375, Disahihkan Al-Albani dalam <em>Ash-Shahihah</em> no. 638).</p>
<p>Ali Al-Qari <em>Rahimahullah </em>berkata, “Para ulama telah sepakat mengenai haramnya syafaat dalam urusan <em>hadd</em> setelah perkaranya sampai di tangan imam (hakim) berdasarkan hadis ini. Hal itu dikarenakan dalam hadis ini ada larangan memberikan syafaat. Adapun sebelum perkaranya sampai di tangan imam (hakim), sebagian besar ulama membolehkannya jika orang yang melakukan maksiat tersebut bukan orang yang biasa berbuat keburukan atau orang yang suka mengganggu orang lain. Adapun maksiat yang dikenai hukuman <em>ta’zir</em> (bukan <em>hadd</em>), maka boleh ada syafaat (orang dekat bagi terpidana, pent.) dan boleh (bagi hakim, pent) untuk memberikan syafaat, baik perkaranya sampai ke imam ataukah tidak, karena ia lebih ringan (dari <em>hadd</em>). Bahkan hukumnya <em>mustahab</em> (dianjurkan), jika pelaku maksiat tersebut bukan orang yang biasa memberikan gangguan” (<em>Mirqatul Mafatih</em>, 6: 2367).</p>
<p>An-Nawawi <em>Rahimahullah </em>mengatakan, “Maksudnya adalah menutupi kesalahan orang yang memiliki nama baik dan semisal mereka yang tidak dikenal gemar melakukan gangguan dan kerusakan. Adapun orang yang gemar melakukan gangguan dan kerusakan, maka dianjurkan untuk tidak ditutup-tutupi kesalahannya. Bahkan dianjurkan untuk diajukan perkaranya kepada <em>waliyul amri</em> jika tidak dikhawatirkan terjadi <em>mafsadah</em>” (<em>Syarah Shahih Muslim</em>, 16: 135).</p>
<p>Oleh karena itu, terkadang perlu dimaafkan dan terkadang perlu dilaporkan.</p>
<p>Di antara akhlak yang mulia adalah seseorang memaafkan orang yang berbuat zalim. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ</span></p>
<p><em>“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”</em> (QS. Ali-Imran: 134).</p>
<p>Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>Rahimahullah</em> menjelaskan, “Di antara bentuk bermuamalah dengan akhlak mulia kepada orang lain adalah jika Anda dizalimi atau diperlakukan dengan buruk oleh seseorang, maka Anda memaafkannya. Karena Allah <em>Ta’ala</em> telah memuji orang-orang yang suka memaafkan orang lain” (<em>Makarimul Akhlak</em>, hal. 25).</p>
<p>Sehingga tidak ragu lagi bahwa memaafkan itu lebih utama secara umum. Namun, memaafkan itu tidak selamanya lebih baik dan utama. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ</span></p>
<p><em>“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”</em> (QS. Asy Syura: 40).</p>
<p>Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>Rahimahullah</em> menjelaskan, “Dalam ayat ini Allah menggandengkan pemaafan dengan <em>ishlah</em> (perbaikan). Maka pemaafan itu terkadang tidak memberikan perbaikan.</p>
<p>Terkadang orang yang berbuat jahat pada Anda adalah orang yang bejat, yang dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang buruk dan rusak. Jika Anda memaafkannya, maka ia akan semakin menjadi-jadi dalam melakukan keburukannya dan semakin rusak. Maka yang lebih utama dalam kondisi ini, Anda hukum orang ini atas perbuatan jahat yang ia lakukan. Karena dengan demikian akan terjadi <em>ishlah</em> (perbaikan).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الإصلاح واجب والعفو مندوب, فإذا في العفو فوات الإصلاح فمعنى ذلك أننا قدمنا مندوبا على الواجب. هذا لا تأتي به الشريعة</span></p>
<p>‘<em>Ishlah</em> (perbaikan) itu wajib, sedangkan memaafkan itu sunah. Jika dengan memaafkan malah membuat tidak terjadi perbaikan, maka ini berarti kita mendahulukan yang sunah daripada yang wajib. Hal seperti ini tidak ada dalam syariat.’</p>
<p>Sungguh benar apa yang beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) sebutkan, <em>rahimahullah</em>” (<em>Makarimul Akhlak</em>, hal. 27).</p>
<p>Maka terkadang, tidak memaafkan dan menjatuhkan hukuman itu lebih utama. Jika memang hukuman tersebut akan menjadi kebaikan bagi si pelaku, kebaikan bagi masyarakat atau kebaikan bagi agama.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/26277-wajibnya-baiat-kepada-ulil-amri.html" data-darkreader-inline-color="">Wajibnya Bai’at Kepada Ulil Amri</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/15684-pemimpin-harus-peduli-terhadap-hajat-rakyat.html" data-darkreader-inline-color="">Ulil Amri Harus Peduli Terhadap Hajat Rakyat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 