
<p><span style="font-weight: 400;">Makmum masbuq adalah orang yang tidak memulai shalat bersama imam. Ada beberapa pembahasannya yang terkait dengan makmum masbuq, diantaranya:</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Batasan Teranggap Mendapatkan Raka’at</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jumhur ulama mengatakan bahwa seseorang yang shalat dianggap </span><i><span style="font-weight: 400;">idrak ar rak’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (mendapatkan rakaat) dalam shalat jama’ah jika ia mendapati rukuk bersama imam. Diantara dalilnya adalah hadits Abu Bakrah Nafi’ bin Al Harits radhiallahu’anhu:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أنَّهُ انْتَهَى إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أنْ يَصِلَ إلى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذلكَ للنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقالَ: زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا ولَا تَعُدْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ia mendapati Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan rukuk, maka ia pun rukuk sebelum ia berjalan masuk ke shaf. Maka hal ini pun disampaikan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda: semoga Allah menambahkan semangat kepadamu wahai Abu Bakrah, namun shalatmu tidak perlu diulang” (HR. Bukhari no.783).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini, Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak memerintahkan Abu Bakrah untuk mengulang shalatnya, menunjukkan shalatnya Abu Bakrah sah. Dalam hal ini sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa jika seseorang mendapatkan i’tidal bersama imam maka ia mendapatkan ra’kaat. Ini pendapat yang lemah berdasarkan hadits Abu Bakrah di atas, dan juga hadits berikut ini. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَنْ أَدْرَكَ الرُّكُوعَ فَقَدْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa mendapati rukuk, maka ia mendapatkan raka’at” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil no. 496).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jelas dalam hadits ini menyebutkan rukuk bukan i’tidal. Dan rakaatnya orang yang masbuq tetap sah ketika ia mendapati rukuk, walaupun tidak membaca al Fatihah. Maka ini adalah pengecualian dari keumuman hadits:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab (surat al Fatihah)” (HR. Al Bukhari 756, Muslim 394).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun al idrak (dapat rakaat) di sini ada 3 syarat. Disebutkan oleh Ibnu Badran </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الإدراك له ثلاثة شروط: أن يكبر المأموم قائما, و أن يركع و الإمام راكع, و أن لا يشك في أن ركوعه كان في حال ركوع الإمام أو في حال رفعه من الركوع</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Al idrak (dapat rakaat) ada 3 syarat: [1] makmum bertakbir dalam keadaan berdiri (sempurna), [2] dan dia rukuk ketika imam masih rukuk, [3] dan ia tidak ragu apakah rukuknya tersebut ketika imam masih rukuk juga ataukah ketika imam sudah mulai berdiri” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Hasyiyah ‘ala Akhsharil Mukhtasharat</span></i><span style="font-weight: 400;">, 120).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika syarat nomor 1 tidak terpenuhi, shalat tidak sah. Jika syarat nomor 2 atau 3 tidak terpenuhi, maka belum dapat rakaat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53153-apabila-terlambat-datang-ke-masjid-dan-shalat-jamaah-sudah-selesai.html" data-darkreader-inline-color="">Apabila Terlambat datang ke Masjid dan Shalat Jamaah Sudah Selesai</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Batasan Teranggap Mendapat Shalat Jama’ah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika seseorang makmum masbuq masuk ke shaf dalam shalat jama’ah di rakaat terakhir, apa batasan yang digunakan untuk menentukan orang tersebut dianggap shalat berjama’ah atau tidak?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah ini ulama khilaf dalam dua pendapat:</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Pendapat pertama</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang dikatakan mendapatkan shalat jama’ah ketika mendapatkan tasyahud akhir bersama imam. Ini pendapat Syafi’iyyah dan Hanafiyah. Mereka berdalil dengan hadits dari Abu Qatadah radhiallahu’anhu:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">بيْنَما نَحْنُ نُصَلِّي مع النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ، فَلَمَّا صَلَّى قَالَ: ما شَأْنُكُمْ؟ قالوا: اسْتَعْجَلْنَا إلى الصَّلَاةِ؟ قَالَ: فلا تَفْعَلُوا إذَا أتَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَعلَيْكُم بالسَّكِينَةِ، فَما أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وما فَاتَكُمْ فأتِمُّوا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketika kami akan shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau mendengar orang-orang yang berteriak-teriak. Maka beliau bertanya: ada apa dengan kalian? Mereka menjawab: kami terburu-buru untuk mendapati shalat jama’ah. Nabi lalu bersabda: jangan lakukan demikian (terburu-buru). Jika kalian mendatangi shalat maka hendaknya bersikap tenang. Yang kalian dapati dari shalat jama’ah, maka ikutilah. Yang terlewat maka sempurnakanlah” (HR. Bukhari no.635, Muslim no.603).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat lain:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فلا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ، وأْتُوهَا تَمْشُونَ، عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَما أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وما فَاتَكُمْ فأتِمُّوا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika iqamah sudah dikumandangkan maka jangan berlarian menuju shalat. Namun berjalanlah biasa. Dan hendaknya kalian bersikap tenang. Yang kalian dapati dari shalat jama’ah, maka ikutilah. Yang terlewat maka sempurnakanlah” (HR. Bukhari no.908, Muslim no.602).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar al Asqalani mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">واستدل بهذا الحديث على حصول فضيلة الجماعة بإدراك جزء من الصلاة؛ لقوله: (فما أدركتم فصلوا) ولم يفصل بين القليل والكثير</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para ulama berdalil dengan hadits ini untuk mengatakan bahwa keutamaan shalat jama’ah didapatkan dengan didapatinya satu bagian dari shalat jama’ah. Karena Nabi bersabda: “Yang kalian dapati dari shalat jama’ah, maka ikutilah”. Beliau tidak merinci apakah yang didapatkan itu sedikit ataukah banyak” (Fathul Baari, 2/118).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50990-status-orang-yang-meninggalkan-shalat-fardhu.html" data-darkreader-inline-color="">Status Orang Yang Meninggalkan Shalat Fardhu</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Pendapat ke dua</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang dikatakan mendapatkan shalat jama’ah ketika mendapatkan satu rakaat. Ini pendapat Hanabilah dan Malikiyah. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Mereka berdalil dengan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من أدرك ركعةً منَ الصلاةِ فقد أدركَ الصلاةَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mendapat satu raka’at dari shalat jama’ah, maka ia mendapati shalat jama’ah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.580, Muslim no.607).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat kedua ini yang lebih rajih dalam masalah ini, karena dalilnya sharih (lugas). Sedangkan hadits yang digunakan para ulama yang berpegang pada pendapat pertama termasuk dalil yang </span><i><span style="font-weight: 400;">mujmal </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">muhtamal.</span></i></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun orang yang mendapati jama’ah sudah di posisi raka’at terakhir dan sudah melewati rukuk, jika ia terlambat mendapati shalat jama’ah karena suatu udzur, ia tetap mendapatkan pahala shalat jama’ah walaupun tidak mendapati satu raka’at pun dari jama’ah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لكن إذا كان له عذر بسبب ذلك فاتته الصلاة؛ فإن أجر الجماعة يحصل له، وإن لم يصل في الجماعة كالمريض الذي حبسه المرض ثم وجد نشاطًا فرجى أن يدرك الجماعة فلم يدركها، وكإنسان توجه إلى الجماعة فحدث به حادث يمنعه من ذلك كالغائط أو البول، فذهب يتوضأ أو ما أشبهه من الأعذار الشرعية فهذا يرجى له فضل الجماعة إذا لم يفرط، لكن من جاء والإمام في التشهد فإنه يدخل معه، وله الفضل في ذلك لقوله ﷺ: ما أدركتم فصلوا، وما فاتكم فأتموا، </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Namun jika seseorang memiliki udzur yang menyebabkan ia terlewat shalat jama’ah, maka pahala shalat jama’ah tetap ia dapatkan. Walaupun ia tidak mendapatkan shalat jama’ah tersebut. Seperti orang yang sakit yang membuat ia tertahan untuk berangkat (di awal waktu) lalu ternyata ia merasa baikan, kemudian berangkat dan telat, atau orang yang sudah berangkat untuk shalat jama’ah namun ia merasakan sesuatu di perutnya, lalu ia buang air besar atau buang air kecil lalu berwudhu atau kasus semisalnya yang termasuk udzur-udzur syar’i, maka semoga mereka mendapatkan pahala shalat jama’ah selama bukan karena lalai. Ketika ia mendapat shalat dan imam sudah tasyahud akhir, maka ia masuk ke shaf dan mendapatlan pahala shalat jama’ah. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: </span><i><span style="font-weight: 400;">Yang kalian dapati dari shalat jama’ah, maka ikutilah. Yang terlewat maka sempurnakanlah</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Sumber: </span><a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/18724"><span style="font-weight: 400;">https://binbaz.org.sa/fatwas/18724</span></a><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50988-hukum-fiqh-seputar-shalat-tahiyyatul-masjid-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid</strong></a></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Jika Mendapati Shalat Jama’ah Sudah Melewati Rukuk Raka’at Terakhir</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang telat datang ke masjid dan mendapati jama’ah sudah melewati rukuk, maka apa yang harus ia lakukan? Ikut masuk ke dalam jama’ah ataukah membuat jama’ah yang baru? Hal ini perlu dirinci sebagaimana penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فإذا أتى والإمام في التشهد الأخير فالأولى الدخول معه ما لم يعرف أنه يدرك جماعة أخرى، فإن عرف ذلك لم يدخل مع الإمام وصلى مع الجماعة الأخرى سواء كانت جماعة لفي مسجد آخر أو في المسجد الذي أدرك فيه إمامه في التشهد الأخير. وإذا قدر أن دخل مع الإمام في التشهد الأخير ثم حضرت جماعة فله قطع الصلاة ليدرك صلاة الجماعة من أولها في الجماعة الأخرى، وله أن يكمل صلاته وحده</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika seseorang makmum masbuq datang dan imam sudah tasyahud akhir, maka:</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Yang lebih utama baginya adalah masuk ke jama’ah selama ia tidak mengetahui akan adanya jama’ah yang lain. </span></li>
</ul>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Jika ia mengetahui akan ada jama’ah yang lain, hendaknya ia tidak masuk ke jama’ah namun ia shalat bersama jama’ah yang lain. Baik jama’ah lain tersebut di masjid lain atau di masjid yang ia dapati imamnya sudah tasyahud akhir tersebut</span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ternyata ia masuk ke jama’ah imam yang sudah tasyahud akhir, lalu ternyata setelah itu datang jama’ah lain mendirikan shalat, maka ia boleh membatalkan shalat untuk masuk ke jama’ah tersebut dari awal lagi atau boleh juga melanjutkan shalat sendirian” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, 15/90).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47715-haruskah-pindah-dari-tempat-shalat-wajib-ketika-akan-shalat-sunnah.html" data-darkreader-inline-color="">Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Apa yang Dilakukan Masbuq Ketika Masuk ke Shaf?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Landasan utama dari bahasan ini adalah hadits Abu Qatadah di atas, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَما أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وما فَاتَكُمْ فأتِمُّوا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang kalian dapati dari shalat jama’ah, maka ikutilah. Yang terlewat maka sempurnakanlah” (HR. Bukhari no.908, Muslim no.602).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika makmum masbuq masuk ke shaf shalat berjama’ah, ada beberapa kemungkinan keadaan:</span></p>
<ol>
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b> Ia masuk ketika imam berdiri sebelum rukuk</b></span></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka yang dilakukan oleh makmum masbuq adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Takbiratul ihram</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Lalu membaca al Fatihah, jika ada di dua rakaat pertama shalat sirriyyah atau di rakaat ketiga atau rakaat keempat. Adapun di dua rakaat pertama shalat jahriyyah maka tidak ada kewajiban membaca al Fatihah, karena yang wajib adalah mendengarkan bacaan imam. Silakan simak kembali pembahasan ini di bab “Membaca Al Fatihah”.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Lalu membaca surat dari Al Qur’an, jika ada di dua rakaat pertama shalat sirriyyah. Adapun di dua rakaat pertama shalat jahriyyah maka tidak ada kewajiban membaca al Fatihah, karena yang wajib adalah mendengarkan bacaan imam. Demikian juga jika ada di rakaat ketiga atau keempat, maka cukup membaca al Fatihah dan tidak dianjurkan untuk membawa surat.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Lalu mengikuti gerakan-gerakan imam hingga imam selesai.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Jika ada rakaat yang terlewat maka ketika imam salam, ia bangkit berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang terlewat sampai selesai.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu bagaimana dengan makmum masbuq, yang mendapati imam sudah rukuk atau sudah akan rukuk? Apakah ia tetap membaca Al Fatihah? Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, “masbuq jika ia masuk ke dalam shalat ketika imam sudah rukuk, atau sebelum rukuk namun tidak memungkinkan lagi untuk membaca Al Fatihah, maka dalam keadaan ini kewajiban membaca Al Fatihah gugur darinya” (Majmu Fatawa War Rasail, 13/128).</span></p>
<ol start="2">
<li>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;"> Ia masuk ketika imam sudah rukuk atau setelahnya</span></strong></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka yang dilakukan oleh makmum masbuq adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Takbiratul ihram dalam kondisi berdiri sempurna</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Takbir intiqal, hukumnya sunnah.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Lalu mengikuti posisi imam apapun yang ia dapati. Jika imam rukuk, maka ia ikut rukuk. Jika imam duduk di antara dua sujud maka ia pun duduk di antara dua sujud, jika imam sujud maka ia pun sujud, dan seterusnya.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Lalu mengikuti gerakan-gerakan imam hingga imam selesai.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Jika ada rakaat yang terlewat maka ketika imam salam, ia bangkit berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang terlewat sampai selesai.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang makmum masbuq yang mendapati imam sudah dalam keadaan rukuk, berapa kali ia bertakbir? Beliau menjawab:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يكبر تكبيرتين: إحداهما وهو واقف وهذه هي التكبيرة الأولى وهي تكبيرة الإحرام وهي ركن لا بد منه ولا تنعقد الصلاة إلا بها، ثم ينحط مكبرًا للركوع، فإن خاف أن تفوته الركعة اكتفى بالأولى التكبيرة الأولى وكفت عن تكبيرة الركوع في أصح قولي العلماء</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ia bertakbir dua kali. Yang pertama dalam keadaan berdiri tegak, yaitu takbiratul ihram yang merupakan rukun yang harus dipenuhi dan shalat tidak sah tanpanya. Kemudian ia merunduk untuk rukuk sambil bertakbir (yaitu takbir intiqal). Jika ia khawatir tertinggal rukuk maka boleh mencukupkan diri dengan satu takbir saja yaitu yang pertama tanpa melakukan takbir untuk rukuk, menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat yang ada” (Sumber: </span><a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/12063"><span style="font-weight: 400;">https://binbaz.org.sa/fatwas/12063</span></a><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<ol start="3">
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong> Ia masuk ketika imam sudah melewati rukuk pada raka’at terakhir</strong></span></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Kasus ini sudah dibahas pada penjelasan di atas mengenai batasan teranggap mendapatkan shalat jama’ah. </span><i><span style="font-weight: 400;">Walhamdulillah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47645-beberapa-shalat-yang-dianjurkan-dikerjakan-secara-ringkas.html" data-darkreader-inline-color="">Beberapa Shalat yang Dianjurkan Dikerjakan Secara Ringkas</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46857-tidak-sah-shalat-tarawih-yang-ngebut-dan-tidak-tumaninah.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Sah Shalat Tarawih yang Ngebut dan Tidak Tuma’ninah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian semoga yang sedikit ini bermanfaat. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wabillahi at taufiq was sadaad.</span></i></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color=""> Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 