
<p><em>Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>
<p>Dalam kesempatan kali ini, kami akan sedikit membahas fikih lafaz “<em>aamiin</em>” secara ringkas dalam poin-poin berikut ini.</p>
<h3><strong>Bagaimana harakatnya?</strong></h3>
<p>Harakatnya adalah <span style="font-size: 18pt;">آمِيْنَ</span></p>
<p><strong>– </strong>Huruf<span style="font-size: 18pt;"> أ </span>berharakat <em>fathah</em> dan dibaca mad badal karena aslinya adalah dua hamzah, lalu <em>hamzah</em> yang kedua diubah menjadi alif mad.</p>
<p>– Huruf <span style="font-size: 18pt;">م</span> berharakat kasrah.</p>
<p><strong>– </strong>Huruf <span style="font-size: 18pt;">ي</span> berharakat sukun.</p>
<p>– Huruf <span style="font-size: 18pt;">ن</span> berharakat <em>fathah</em> karena <span style="font-size: 18pt;">آمِيْنَ</span> adalah isim <em>mabni ‘alal fathi</em>, yaitu isim yang harakat akhirnya tetap berharakat <em>fathah</em> pada setiap kondisi.</p>
<p>Adapun jenis isimnya adalah isim fiil <em>amr, </em>yaitu sebuah isim <em>mabni </em>yang menggantikan fiil <em>‘amr </em>(kata kerja perintah) secara makna dan penggunaan sehingga ia mengandung makna fiil <em>‘amr</em> serta zamannya. Di samping itu, juga beramal seperti amalannya, namun tidak terdapat tanda-tanda fiil pada isim tersebut.</p>
<p>Isim fiil<em>, </em>baik <em>madhi, mudhari’,</em> maupun <em>‘amr</em> lebih kuat menghantarkan makna daripada fiilnya masing-masing. Beberapa contoh isim fiil<em>, </em>seperti <span style="font-size: 18pt;">هيهات</span> , <span style="font-size: 18pt;">أفّ</span> , dan <span style="font-size: 18pt;">صهٍ</span> .</p>
<h3>
<strong>Bagaimana cara bacanya?</strong> <a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a>
</h3>
<p>Pertama, memendekkan alif (<span style="font-size: 18pt;">أَمِيْنَ</span>) dengan <em>wazan</em> : <span style="font-size: 18pt;">فَعِيْلٍ</span></p>
<p>Kedua, memanjangkan huruf alif dan ya , masing-masing 2 harakat <span style="font-size: 18pt;">(آمِيْنَ)</span> dengan <em>wazan</em> <span style="font-size: 18pt;">فَاعِيْلٍ </span></p>
<p>Ketiga, memanjangkan alif dan ya, kedua huruf tersebut bisa 2/4/6 harakat.</p>
<p>-Alasan alif bisa 2/4/6 harakat karena statusnya mad badal.</p>
<p>-Alasan ya bisa 2/4/6 harakat karena statusnya mad <em>‘aridh lissukun</em>.</p>
<h3>
<strong style="font-size: 14pt;">Adakah cara membaca </strong><span style="font-size: 18pt;"><strong>آمِيْنَ</strong></span><strong style="font-size: 14pt;"> yang salah?</strong>
</h3>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang mentasydidkan huruf mim pada lafaz <em>aamiin</em> sehingga menjadi <span style="font-size: 18pt;">آمِّيْنَ.</span> Pendapat terkuat adalah ini bacaan yang salah karena bisa merubah arti. Artinya adalah orang-orang yang menuju. (seperti dalam surat Al-Maidah ayat 2). <strong><a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></strong></p>
<p>Ulama juga berselisih pendapat apakah bacaan dengan mentasydidkan huruf mim ini membatalkan salat?</p>
<p>Pendapat terkuat adalah ulama yang menyatakan bahwa bacaan tersebut membatalkan salat dan haram diucapkan. Hal ini karena maknanya berubah, sehingga hal itu termasuk kata-kata manusia di luar lafaz salat. <strong><a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57265-keutamaan-mengucapkan-aamiin-bersama-imam.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Mengucapkan “Aamiin” Bersama Imam</a></strong></p>
<h3><strong>Apakah makna <em>aamiin</em> yang benar?</strong></h3>
<p>Kata <span style="font-size: 18pt;">آمِيْنَ</span> adalah isim fiil <em>amr</em>, mengandung makna kata kerja perintah, yaitu <span style="font-size: 18pt;">استجب</span> (kabulkanlah). Perintah ini konteksnya adalah memohon alias berdoa sehingga makna lengkap <span style="font-size: 18pt;">آمِيْنَ</span> adalah <span style="font-size: 18pt;">اللهم استجب</span>  (Ya Allah, kabulkanlah doaku/doa kami).</p>
<p>Karena kandungan lafaz <em>aamiin</em> adalah doa, hendaknya pada saat mengucapkannya, seseorang menghadirkan dalam hati rasa berharap kepada Allah <em>Ta’ala </em>agar Allah <em>Ta’ala</em> memberi hidayah <em>s</em><em>hirathal mustaqim</em>, yaitu jalan lurus, jalan ilmu <em>syar’i</em>, dan amal saleh.</p>
<h3>
<strong>Apakah </strong><span style="font-size: 18pt;"><strong>آمِيْنَ</strong></span><strong> adalah</strong> <strong>ayat Al-Qur’an dan bagian dari Al-Fatihah?</strong>
</h3>
<p><span style="font-size: 18pt;">آمِيْنَ</span> bukanlah ayat Al-Qur’an, dan bukan juga bagian dari Al-Fatihah, hal ini berdasarkan <em>ijma</em>’ ulama <em>rahimahumullah</em>.</p>
<h3><strong>Apakah hukum mengucapkannya?</strong></h3>
<p>Hukum mengucapkannya adalah sunah<em>, </em>baik di luar salat (seperti saat doa dalam khotbah Jumat dan membaca Al-Fatihah di luar salat), maupun di dalam salat, baik ketika salat sendirian, atau menjadi makmum, atau imam, baik dalam salat <em>fardhu</em> maupun salat sunah, baik dalam salat <em>jahriyyah</em> maupun <em>sirriyyah</em>, termasuk juga ketika qunut dalam witir atau lainnya, begitu pula saat salat <em>Istisqo</em>’.</p>
<p>Jika lafaz <em>aamiin</em> tidak dibaca atau lupa saat salat, maka tidak membatalkan salat dan tidak ada kewajiban sujud sahwi.</p>
<h3><strong>Apakah membacanya dengan mengeraskan suara?</strong></h3>
<p>Jumhur ulama menyatakan disunahkan bagi imam, makmum, dan orang yang salat sendirian untuk membacanya dengan keras pada salat <em>jahriyyah</em>, dan dipelankan pada salat <em>sirriyyah</em>.</p>
<h3><strong>Kapan makmum dan imam membacanya pada salat <em>jahriyyah</em>?</strong></h3>
<p>Berdasarkan hadis di dalam <em>Shahih Bukhari dan Shahih Muslim </em><a href="#_ftn4" name="_ftnref4"><strong>[4]</strong></a>, dapat disimpulkan waktu membaca dalam salat <em>jahriyyah</em> sebagai berikut:</p>
<p>– Apabila makmum mendengar <em>aamiin</em> imam, maka hendaknya makmum mengucapkannya bersamaan dengan imam.</p>
<p>Dan agar ucapan <em>aamiin</em> makmum dapat bertepatan dengan ucapan <em>aamiin</em> imam, maka caranya adalah dengan menunggu imam mengucapkan permulaan kata <em>aamiin </em>(huruf pertama), lalu makmum segera mengucapkannya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Al-Albani <em>rahimahullah. </em><a href="#_ftn5" name="_ftnref5"><strong>[5]</strong></a></p>
<p>– Apabila makmum tidak mendengar <em>aamiin</em> imam, maka makmum mengucapkannya langsung setelah imam selesai membaca Al-Fatihah, karena saat itu waktu imam mengucapkan <em>aamiin</em>.</p>
<p>Dan makmum mengucapkannya bersamaan dengan imam ini adalah perkara yang dikecualikan dari hukum makruhnya makmum membarengi imam saat salat karena adanya perintah khusus membarengi imam saat mengucapkan <em>aamiin</em> dalam hadis di dalam <em>Shahih Bukhari </em>tersebut. <strong><a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/30781-kapan-makmum-mengucapkan-aamiin.html" data-darkreader-inline-color="">Kapan Makmum Mengucapkan Aamiin?</a></strong></p>
<h3><strong>Apa hukum makmum mendahului imam dalam mengucapkannya?</strong></h3>
<p>Makmum yang mendahului imam dalam mengucapkan <em>aamiin</em>, maka ia tidak mendapatkan keutamaan ganjaran membersamai imam saat mengucapkan <em>aamiin</em>, berupa diampuni dosa yang telah lalu sebagaimana hal ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Shalih Al-Utsaimin <em>rahimahullah.</em></p>
<p>Dan bila makmum mengucapkan <em>aamiin</em> dengan sengaja, padahal imam belum selesai membaca Al-Fatihah, maka sebagian ulama menyatakan bahwa makmum itu berdosa sebagaimana hal ini disampaikan oleh Syekh Al-Albani dan Syekh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi <em>rahimahumallah </em>karena melanggar larangan menyelisihi imam dalam hadis yang <em>m</em><em>uttafaqun ‘alaih.</em></p>
<p>Sedangkan jika tidak dengan sengaja, maka ia mengulang mengucapkan <em>aamiin</em> bersama imam sebagaimana telah dijelaskan di atas. <a href="#_ftn7" name="_ftnref7"><strong>[7]</strong></a></p>
<p><strong style="font-size: 14pt;">Apakah keutamaan mengucapkan <em>aamiin </em>dalam salat</strong> <strong style="font-size: 14pt;">berjemaah bagi imam maupun makmum?</strong></p>
<p>Dalam salat jemaah, jika makmum mengucapkan <em>aamiin</em> bertepatan dengan imam mengucapkannya sehingga ucapan <em>aamiin</em> makmum bertepatan dengan ucapan <em>aamiin</em> malaikat, maka dosanya yang telah lalu diampuni oleh Allah, keutamaan ini untuk imam, makmum, maupun orang yang salat sendirian.</p>
<p>Di samping itu, makmum dan imam pun juga mendapatkan keutamaan lainnya, yaitu dikabulkan doanya.</p>
<p><strong>Dalil pertama</strong> adalah hadis dalam <em>Shahihain</em> dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إذا أمَّن الإمامُ فأمِّنوا؛ فإنَّه مَن وافَقَ تأمينُه تأمينَ الملائكةِ، غُفِرَ له ما تقدَّمَ مِن ذَنبِه</span></p>
<p><em>“Jika imam mulai mengucapkan ‘Aamiin’ ucapkanlah ‘Aamiin’! Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bertepatan dengan ucapan amin malaikat, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.”</em></p>
<p>Dan hadis riwayat Imam Al-Bukhari<em> rahimahullah, </em>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِذَا قَالَ الْإِمَامُ : ( غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ) ، فَقُولُوا : آمِينَ ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</span></p>
<p><em>“Jika imam selesai mengucapkan, ‘ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhoolliin’, maka ucapkanlah, ‘Aamiin’!</em><em> Karena barangsiapa yang ucapan aminnya bertepatan dengan ucapan amin para malaikat, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.”</em></p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam <em>Fathul Bari </em><a href="#_ftn8" name="_ftnref8"><strong>[8]</strong></a> ,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وفيه فضيلة الإمام؛ لأن تأمين الإمام يُوافِق تأمين الملائكة؛ ولهذا شُرِعت للمأموم موافقته</span></p>
<p>“<em>Dalam hadis ini terdapat keutamaan kedudukan imam karena ucapan aamiin imam bertepatan dengan ucapan aamiin para malaikat. Oleh karena itu, disyari’atkan bagi makmum agar membersamai imam dalam mengucapkannya.</em>”</p>
<p><strong>Dalil kedua </strong>adalah hadis sahih dalam <em>Shahih An-Nasa’i rahimahullah</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وإذا قَالَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقولوا آمينَ يُجِبكمُ اللَّهُ</span></p>
<p><em>“Jika imam selesai mengucapkan, ‘ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhoolliin’, maka ucapkanlah ‘Aamiin’, niscaya Allah mengabulkan doa kalian.” </em><strong><a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24257-hukum-mengucapkan-aamiin-setelah-membaca-al-fatihah-di-luar-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mengucapkan Aamiin Setelah Membaca Al Fatihah di Luar Shalat</a></strong></p>
<h3>
<strong>Bagaimana cara ucapan </strong><strong>bertepatan dengan ucapan <em>aamiin</em> malaikat?</strong>
</h3>
<p>Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini <strong><a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a>,</strong></p>
<p><strong>Pendapat pertama</strong></p>
<p>Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> saat ditanya dengan pertanyaan ini, beliau menjawab,</p>
<p>“Apabila Anda mengucapkan <em>aamiin</em> saat imam (selesai) mengatakan ‘<em>waladhdhoolliin</em>’, maka berarti Anda telah bertepatan dengan ucapan aamiin (malaikat).”</p>
<p><strong>Pendapat kedua</strong></p>
<p>Makmum baru mengucapkan <em>aamiin</em> saat imam memulai mengucapkan <em>aamiin</em> agar ucapan <em>aamiin</em> makmum bersamaan dengan ucapan <em>aamiin</em> imam, sebagaimana dijelaskan dalam jawaban pertanyaan nomor delapan. Dan inilah pendapat terkuat, <em>wallahu a’lam</em>.</p>
<h3><strong>Dosa apakah yang dilebur sebagai ganjaran <em>aamiin</em> makmum bersamaan dengan <em>aamiin</em> imam sehingga dikatakan bertepatan dengan <em>aamiin</em> malaikat?</strong></h3>
<p>Berdasarkan dari gabungan dalil-dalilnya, maka maksud dosa telah lalu yang diampuni di sini adalah (khusus) dosa kecil.</p>
<h3><strong>Apakah wanita dan orang yang salat sendirian (tidak berjemaah) yang mengucapkan <em>aamiin</em> juga mendapatkan keutamaan diampuni dosanya yang telah lalu?</strong></h3>
<p>Sebagian ulama menyatakan bahwa wanita dan orang yang salat sendirian yang mengucapkan <em>aamiin</em> juga mendapatkan keutamaan diampuni dosanya yang telah lalu asalkan sama dengan malaikat dari sisi sama-sama ada keikhlasan (memurnikan hanya untuk Allah), kekhusyukan dan tidak lalai dalam berdoa dengan doa <em>aamiin.</em></p>
<p>Karena maksud dari “bertepatan dengan ucapan <em>aamiin</em> malaikat” adalah bertepatan dengan mereka dalam hal keikhlasan, kekhusyukan, dan tidak lalai dalam berdoa dengan doa <em>aamiin, </em>menurut sebagian ulama.</p>
<p>Alasan lainnya, menurut sebagian ulama adalah karena dalam hadis tidaklah disebutkan barangsiapa yang ucapan <em>aamiin</em>nya bertepatan dengan ucapan <em>aamiin</em> imam, namun yang disebutkan dalam hadis adalah bertepatan dengan ucapan <em>aamiin</em> malaikat. Sehingga keutamaan amalan ini tidak khusus untuk makmum, tetapi juga untuk orang yang salat sendirian, termasuk wanita yang salat di rumah.</p>
<p>Hal ini diperkuat oleh hadis riwayat Imam Muslim <em>rahimahullah,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إذا قال أحدكم في الصلاة آمين والملائكة في السماء آمين فوافق إحداهما الأخرى غفر له ما تقدم من ذنبه</span></p>
<p><em>“Jika salah seorang di antara kalian mengucapkan dalam salatnya “Aamiin” dan malaikat di langit mengucapkan “Aamiin” (pula), lalu satu dengan lainnya saling bertepatan, maka diampuni dosanya yang telah lalu.”</em></p>
<p>Dari hadis inilah Badruddin Al-’Aini <em>rahimahullah</em> menyimpulkan bahwa keutamaan amalan tersebut juga untuk orang yang salat sendirian. <strong><a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a></strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/68744-sunnah-menghadapkan-wajah-ke-arah-khatib-shalat-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Sunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat Jumat</a></strong></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/68236-pernahkah-kita-mendoakan-kebaikan-untuk-indonesia.html" data-darkreader-inline-color="">Pernahkah Kita Mendoakan Kebaikan untuk Indonesia?</a></strong></span></li>
</ul>
</div>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ</span></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu ‘Ukasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> . <em>Al-Madkhal li ‘Ilmi Tafsir Kitabillah, Al-Istidzkar, Ma’alamut Tanzil, Mirqotul Msfstih, </em>dan<em> Mathalib Ulin Nuha</em></p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/146026/#_ftn9">https://www.alukah.net/sharia/0/146026/#_ftn9</a> , <a href="https://www.m-a-arabia.com/vb/showthread.php?t=13452">https://www.m-a-arabia.com/vb/showthread.php?t=13452</a> , https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/69609 dan https://Islamqa.info/ar/answers/216571</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> . https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/69609</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> . <em>Adzakiirah Al-Burhaniyyah</em>, hal 601 dan <em>Syarhul Mumti</em>’ jilid 3 hal 51</p>
<p><a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> . Hadis disebutkan di pertanyaan no. 10</p>
<p><a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> . <a href="https://www.al-albany.com/audios/content/5908/">https://www.al-albany.com/audios/content/5908/</a></p>
<p><a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> . https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/59725</p>
<p><a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> . <a href="https://www.al-albany.com/audios/content/5908/">https://www.al-albany.com/audios/content/5908/</a> &amp; https://ar.Islamway.net/fatwa/4037/</p>
<p><a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> . https://www.alukah.net/sharia/0/129406/</p>
<p><a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> . https://www.dorar.net/hadith/sharh/33153</p>
<p><a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a>. <a href="http://Islamport.com/w/ftw/Web/2447/4451.htm">http://Islamport.com/w/ftw/Web/2447/4451.htm</a> , <a href="https://www.alukah.net/sharia/0/129406/">https://www.alukah.net/sharia/0/129406/</a>, &amp; <a href="https://www.al-albany.com/audios/content/5908/">https://www.al-albany.com/audios/content/5908/</a></p>
<p><a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> . https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/107015/</p>
 