
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55152-fiqih-ringkas-tentang-ucapan-jazakallahu-khairan-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Fiqih Ringkas Tentang Ucapan “Jazaakallahu Khairan” (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Kandungan makna dari beberapa dalil yang telah disebutkan di seri sebelumnya</b></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Pertama</strong>, <span style="font-weight: 400;">arti dari ucapan </span><i><span style="font-weight: 400;">“Jazaakallahu khairan”.</span></i></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Abdullah bin ‘Amr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إذا قال الرجلُ لأخيه:جزاك الله خيراً، فقد أبلغ في الثناء</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika seseorang berkata kepada saudaranya, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Jazaakallahu khairan”, </span></i><span style="font-weight: 400;">berarti ia telah sampai pada derajat memujinya (telah berterima kasih kepadanya dengan memujinya).” </span><b>(HR. Abdur Razaq dan Al-Humaidi, dinilai shahih oleh Al-Albani)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Mubarakfuri </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika menjelaskan hadits ‘Abdullah bin ‘Amr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;"> di atas beliau berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>«جزاك الله خيراً» أي خير الجزاء أو أعطاك خيراً من خيري الدنيا والآخرة.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Makna </span><i><span style="font-weight: 400;">“jazaakallahu khairan” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah “sebaik-baik balasan” atau “semoga Allah membalasmu dengan balasan kebaikan di dunia maupun di akhirat”.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>«فقد أبلغ في الثناء» أي بالغ في أداء شكره، وذلك أنه اعترف بالتقصير، وأنه ممن عجز عن جزائه وثنائه، ففوض جزاءه إلى الله ليجزيه الجزاء الأوفى</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“sedangkan makna </span><i><span style="font-weight: 400;">“berarti dia telah sampai pada derajat mensyukurinya” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah dengan ucapan tersebut, berarti dia mengakui bahwa dirinya kurang mensyukurinya dan dirinya termasuk orang yang tidak mampu membalas kebaikannya dan tidak mampu memujinya (dengan semestinya atas kebaikannya). Sehingga dia serahkan pembalasan kebaikannya kepada Allah, agar Allah membalasnya dengan balasan kebaikan yang sempurna.”</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>قال بعضهم إذا قصرت يداك بالمكافأة، فليطل لسانك بالشكر والدعاء</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sebagian ulama berkata, apabila Anda tidak mampu membalas kebaikan (orang lain), maka perbanyaklah lisanmu dengan berterima kasih dan mendoakannya.” </span><b>(</b><b><i>Tuhfatul Ahwadzi, </i></b><b>6: 156)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47511-menjaga-lisan-di-era-media-sosial.html" data-darkreader-inline-color="">Menjaga Lisan di Era Media Sosial</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><b>Kedua, </b><span style="font-weight: 400;">adab yang berkaitan dengan hati ketika mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">“jazaakallahu khairan”.</span></i></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa ketika kita mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">“jazaakallahu khairan” </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita, hendaknya kita menghayati dalam hati dan mengakui bahwa diri kita kurang bisa mensyukuri kebaikannya dan tidak mampu membalas kebaikannya dan tidak mampu memujinya dengan semestinya, serta tidak mampu memenuhi haknya sehingga kita serahkan pembalasan kebaikannya kepada Allah, agar Allah membalasnya dengan balasan kebaikan yang sempurna.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><b>Ketiga, </b><span style="font-weight: 400;">perhatian salafus shalih terhadap besarnya kebaikan pada ucapan «جزاك الله خيراً»: </span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لو يعلم أحدكم ما له في قوله لأخيه: جزاك اللهُ خيراً، لأكثرَ منها بعضُكم لبعضٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seandainya salah seorang di antara kalian mengetahui kebaikan yang didapatkan pada ucapan yang ditujukan kepada saudaranya, </span><i><span style="font-weight: 400;">“jazaakallahu khairan”, </span></i><span style="font-weight: 400;">tentulah satu sama lain akan memperbanyak ucapan tersebut di antara kalian.” </span><b>(Diriwayatkan oleh Abu Syaibah dalam </b><b><i>Al-Mushannaf)</i></b></p>
<p><b>Keempat, </b><span style="font-weight: 400;">dari hadits-hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam Islam terdapat perintah membalas kebaikan dengan kebaikan pula. Hendaklah seseorang meniatkan mengamalkan dalil-dalil tentangnya dalam membalas kebaikan orang lain dengan ikhlas karena mencari ridha Allah Ta’ala semata. Dan janganlah hal itu dilakukan sekedar karena adat kebiasaan atau rasa sungkan saja apabila tidak membalas kebaikannya.</span></p>
<p><b>Kelima, </b><span style="font-weight: 400;">membalas kebaikan itu merupakan tuntutan syar’iat baik pelaku kebaikannya adalah seorang muslim atau non muslim.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43421-hukum-membakar-yang-ada-tulisan-lafadz-allah-dan-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Membakar yang Ada Tulisan Lafadz Allah dan Al-Quran</a></strong></p>
<p><b>Keenam, </b><span style="font-weight: 400;">membalas kebaikan itu juga merupakan tuntutan syar’iat, baik kebaikan tersebut jenis perkara yang mustahab (sunnah) maupun perkara yang wajib. Oleh karena itu, ungkapan yang terlanjur tersebar berikut ini adalah ungkapan yang salah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>“لا شُكرَ على وَاجِب” </b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;"> “Tidak ada terima kasih atas perbuatan yang memang menjadi kewajiban untuk ditunaikan.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalimat ini menunjukkan barangsiapa yang telah melakukan kebaikan yang sifatnya merupakan tugas wajib baginya, maka dia tidak berhak mendapatkan ucapan terima kasih. Hal ini karena itu telah menjadi kewajibannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ibnu Baaz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>هــــذه الكلمة غلط! لأن الواجب يُشكر عليه، من أدى الواجب، الواجب الشرعي في حقوق الله، أو حقوق العباد، فإنه يُشكر على أدائه هذا الواجب، وكذلك المستحبات يشكرُ على أدائها</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ini adalah kalimat yang salah. Karena mensyukurinya merupakan hal yang wajib dalam syariat. Orang yang telah melakukan kewajibannya dalam syariat, baik terkait hak Allah maupun hak hamba, maka layak disyukuri atasnya. Demikian pula amalan yang sunnah, layak juga untuk disyukuri.” </span><b>(</b><b><i>Syarh Fathul Majiid)</i></b></p>
<p><b>Ketujuh, </b><span style="font-weight: 400;">menerima hadiah dan membalas dengan memberi hadiah pula adalah salah satu ajaran Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29950-kebangkrutan-besar-akibat-buruknya-lisan-di-sosial-media.html" data-darkreader-inline-color="">Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial Media</a></strong></p>
<p><b>Kedelapan, </b><span style="font-weight: 400;">bentuk balasan kebaikan terhadap orang yang melakukan kebaikan kepada kita itu bermacam-macam. Bisa berupa ucapan maupun perbuatan, misalnya: </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Memberi harta sebagai hadiah yang sepadan harganya atau lebih mahal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Ucapan </span><i><span style="font-weight: 400;">“Jazaakallahu khairan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk pria satu orang (tunggal) atau </span><i><span style="font-weight: 400;">“Jazaakumullahu khairan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk pria banyak orang (jamak).</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jazaakillaahu khairan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk wanita satu orang (tunggal), atau </span><i><span style="font-weight: 400;">“Jazaakunnallahu khairan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk wanita banyak orang (jamak).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Dengan memuji orang yang melakukan kebaikan kepada kita atas kebaikannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Jika kebaikan yang kita dapatkan banyak, maka  kita disyari’atkan membalasnya dengan mendoakannya berulangkali sampai kita menduga kuat telah “melunasi” hutang kita atas jasanya yang banyak kepada kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Dengan menyebut-nyebut kebaikannya dan jasanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Dengan mengucapkan, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Terimakasih”</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">“Syukron” </span></i><span style="font-weight: 400;">atau ucapan baik lainnya yang menunjukkan bahwa kita telah menyebut kebaikannya dan telah memujinya, serta berbuat baik kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Sebaik-baik balasan kebaikan adalah menggabungkan antara balasan berupa ucapan dan perbuatan, yaitu membalas dengan memberi harta, mengucapkan “Jazakallahu khairan”, mendoakan, menyebut kebaikannya, serta memujinya dan berbuat baik kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Jika orang yang melakukan kebaikan kepada kita itu seorang non muslim, maka ucapkanlah ucapan yang sesuai dengan keadaannya, misalnya “Terimakasih” atau semisalnya atau balaslah dengan harta, disertai niat mendakwahinya agar ia cinta ajaran Islam dan mencintai kaum muslimin sehingga diharapkan ia tertarik masuk ke dalam agama Islam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang berkata kepada Sa’id bin Jubair </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>المجوسي يوليني خيراً فأشكره، قال:نعم.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seorang yang beragama Majusi berbuat baik kepadaku, lalu aku pun berterima kasih kepadanya, (bagaimanakah menurutmu?)” Beliau pun menjawab, “Ya, (itu perbuatan yang baik).” </span><b>(</b><b><i>Al-Adaab Asy-Syar’iyyah, </i></b><b>1: 316)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ibnu ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إذا أحسن إليك أحدٌ من غير المسلمين، فكافئه، فإن هذا من خلق الإسلام، وربما يكون في ذلك تأليفٌ لقلبه فيحب المسلمين فيسلم</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang non-muslin berbuat baik kepada kalian, maka balaslah (kebaikannya), karena sikap ini merupakan akhlak Islam. Barangkali dengan sikap tersebut hatinya bisa lunak sehingga mencintai kaum muslimin lalu masuk Islam.”</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam bish shawab.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25321-sejarah-penulisan-hadits-1.html" data-darkreader-inline-color="">Sejarah Penulisan Hadits</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/11298-tidak-menunaikan-amanat-ilmiah-dalam-tulisan.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Menunaikan Amanat Ilmiah dalam Tulisan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><b>(Selesai)</b></span></p>
<p><b>***</b></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color=""> Sa’id Abu ‘Ukkasyah</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diolah dari:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">http://iswy.co/e1059d</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">https://Islamqa.info/ar/answers/34640/لا-باس-بقبول-الهدية-ويكافا-المهدي-عليها</span> <span style="font-weight: 400;">dan referensi lainnya</span></p>
<p> </p>
<p> </p>
 