
<p>Islam adalah agama yang lengkap dan telah meletakkan kaidah-kaidah  dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia, secara sempurna.  Setiap orang mesti memerlukan interaksi dengan orang lain untuk saling  menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka.</p>
<p>Karena itulah, sangat perlu sekali bagi kita untuk mengetahui aturan  Islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari, di antaranya adalah  dalam interaksi sosial dengan sesama manusia, khususnya berkenaan  dengan berpindahnya harta dari satu tangan ke tangan yang lain.</p>
<p><strong>Suburnya usaha pegadaian</strong></p>
<p>Utang-piutang, terkadang, tidak dapat dihindari. Padahal, banyak  fenomena ketidakpercayaan yang bermunculan di tengah manusia, khususnya  di zaman ini. Akhirnya, orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau  barang berharga dalam meminjamkan hartanya.</p>
<p>Realita yang ada tidak dapat dipungkiri; suburnya usaha-usaha  pegadaian, baik yang dikelola oleh pemerintah atau yang dikelola oleh  pihak swasta, menjadi bukti terjadinya kegiatan gadai-menggadai ini.  Ironisnya, banyak orang muslim yang belum mengenal aturan indah dan  keadilan Islam mengenai hal ini. Padahal, perkara ini bukanlah perkara  baru dalam kehidupan mereka. Sudah sejak lama mereka mengenal jenis  transaksi seperti ini.  Sebagai akibatnya, terjadilah kezaliman dan  sikap saling memakan harta saudaranya dengan jalan yang batil.</p>
<p>Kali ini, kita angkat permasalahan gadai (<em>rahn</em>) dalam tinjauan syariat, yang meliputi beberapa sub-bab yang akan diuraikan dalam tiga seri tulisan. Selamat membaca!</p>
<p><strong>Definisi <em>ar-rahn</em></strong></p>
<p>Kata “<em>rahn</em>“, dalam bahasa Arab, memiliki pengertian ‘tetap dan kontinyu’.[1] Dikatakan “<strong>المَاءُ الرَّاهِنُ</strong>“, apabila ‘tidak mengalir’ dan kata “<strong>نِعْمَةٌ رَاهِنَةٌ</strong>” bermakna ‘nikmat yang tidak putus’. Ada yang menyatakan bahwa kata “<em>rahn</em>” bermakna ‘tertahan’, dengan dasar firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ</strong></p>
<p>“Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas apa yang telah diperbuatnya.” (Q.S. Al-Muddatstsir:38)</p>
<p>Kata “<em>rahinah</em>” bermakna ‘tertahan’. Pengertian kedua ini hampir sama dengan yang pertama karena yang tertahan itu tetap ditempatnya. [2]</p>
<p>Ibnu Faris menyatakan, “Huruf <em>ra’</em>, <em>ha’</em>, dan <em>nun</em> adalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak. Dari kata ini, terbentuklah kata ‘<em>ar-rahn</em>‘ yaitu ‘sesuatu yang digadaikan’.” [3]</p>
<p>Adapun definisi “<em>rahn</em>“, dalam istilah syariat, dijelaskan  oleh para ulama dengan ungkapan, “Menjadikan harta benda sebagai jaminan  utang, sehingga utang dilunasi dengan menggunakan jaminan tersebut,  ketika orang yang berutang tidak mampu melunasi utangnya.” [4]</p>
<p>Terdapat juga definisi lain, “Harta benda yang dijadikan jaminan  utang agar (utang tersebut) dilunasi dengan nilai barang jaminan apabila  orang yang berutang tidak mampu melunasi utangnya.” [5]</p>
<p>Ada definisi lain pula, “Memberikan harta sebagai jaminan utang agar  harta atau nilai harta itu digunakan sebagai pelunasan utang bila pihak  yang berutang tidak mampu melunasi utangnya.” [6]</p>
<p>Adapun Syekh Al-Basaam mendefinisikan “<em>ar-rahn</em>” sebagai  ‘jaminan utang dengan barang, yang memungkinkan pelunasan utang dengan  barang tersebut atau dari nilai barang tersebut, apabila orang yang  berutang tidak mampu melunasinya’. [7]</p>
<p><strong>Hukum <em>ar-rahn</em></strong></p>
<p>Sistem utang-piutang dengan gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan  dengan dasar Alquran, Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.</p>
<p>Dalil dari Alquran adalah firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ  تَجِدُواْ كَاتِباً فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم  بَعْضاً فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللّهَ  رَبَّهُ وَلاَ تَكْتُمُواْ الشَّهَادَةَ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ  قَلْبُهُ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ</strong></p>
<p>“<em>Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara  tunai), sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah  ada barang tanggungan yang dipegang (oleh orang yang memberi piutang).  Akan tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka  hendaklah pihak yang dipercayai itu menunaikan amanahnya (utangnya), dan  hendaklah ia bertakwa kepada Allah, Rabb-nya. Dan janganlah kamu (para  saksi) menyembunyikan persaksian. Dan siapa saja yang menyembunyikannya  maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. Dan Allah Maha  Mengetahui segala perbuatan yang kamu kerjakan</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:283)</p>
<p>Ayat ini–walaupun ada pernyataan “dalam perjalanan”–namun tetap  menunjukkan keumumannya, baik dalam perjalanan atau dalam keadaan mukim,  karena kata “dalam perjalanan” pada ayat ini hanya menunjukkan keadaan  yang biasa memerlukan sistem ini. Hal ini pun dipertegas dengan amalan  Rasulullah yang melakukan pegadaian, sebagaimana dikisahkan Ummul  Mukminin, Aisyah, dalam pernyataan beliau,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ  وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membeli  bahan makanan dari seorang Yahudi dengan cara berutang, dan beliau  menggadaikan baju besi beliau.” (H.R. Al-Bukhari, no. 2513; Muslim, no.  1603)</p>
<p>Demikian juga, para ulama bersepakat menyatakan pensyariatan <em>ar-rahn</em> ini dalam keadaan safar (perjalanan), namun mereka masih berselisih  pendapat tentang kebolehannya dalam keadaan tidak safar. Imam  Al-Qurthubi menyatakan, “Tidak ada seorang pun yang melarang <em>ar-rahn</em> pada keadaan tidak safar, kecuali Mujahid, Adh-Dhahak, dan Daud (Azh-Zhahiri).” [8] Demikian juga Ibnu Hazm.</p>
<p>Ibnu Qudamah menyatakan, “Diperbolehkan untuk melakukan <em>ar-rahn</em> dalam keadaan tidak safar (menetap), sebagaimana diperbolehkannya <em>ar-rahn</em> dalam keadaan safar (bepergian). Ibnul Mundzir menyatakan, ‘Kami tidak  mengetahui seorang pun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid; ia  menyatakan, ‘Ar-rahn tidak berlaku, kecuali dalam keadaan safar, karena  Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُواْ كَاتِباً فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ </strong></p>
<p>‘<em>Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara  tunai), sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah  ada barang tanggungan yang dipegang (oleh orang yang memberikan piutang)</em>.”</p>
<p>Akan tetapi, yang benar dalam hal ini adalah pendapat mayoritas ulama, dengan adanya perbuatan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di atas, dan sabda beliau,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>الرَّهْنُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ  إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا  كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِي يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ النَّفَقَةُ</strong></p>
<p>‘<em>Ar-rahn (barang gadai) itu ditunggangi dengan sebab nafkahnya,  apabila dia digadaikan;  susu hewan yang menyusui itu diminum dengan  sebab nafkah, apabila hewan tersebut digadaikan. Nafkah itu wajib  diberikan oleh orang yang menunggangi hewan tersebut dan oleh orang yang  meminum susunya.</em>‘ (H.R. Al-Bukhari, no. 2512). <em>Wallahu a’lam</em>.” [9]</p>
<p>Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Qudamah, Al-Hafizh Ibnu Hajar, [10] dan Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi. [11]</p>
<p><strong>Apakah <em>ar-rahn</em> wajib ada dalam keadaan safar maupun mukim?</strong></p>
<p>Setelah dijelaskan bahwa pensyariatan <em>ar-rahn</em> berlaku dalam keadaan safar (perjalanan), maka tersisa pertanyaan: <em>Apakah  ar-rahn itu wajib ada pada muamalah dalam keadaan safar dan mukim,  tidak wajib pada seluruhan keadaan tersebut, atau wajib dalam keadaan  safar saja?</em></p>
<p>Para ulama berselisih dalam dua pendapat mengenai hal ini:</p>
<p><strong>1. Ar-rahn tidak wajib ada, baik pada muamalah dalam keadaan safar atau pun dalam keadaan mukim</strong>. Inilah pendapat mazhab empat imam (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah).</p>
<p>Ibnu Qudamah berkata, “<em>Ar-rahn</em> itu tidak wajib ada. Kami  tidak mengetahui orang yang menyelisihinya. Ia adalah jaminan atas  utang, sehingga ia tidak wajib ada, sebagaimana tidak wajibnya <em>dhiman</em> (jaminan pertanggung-jawaban). [12]</p>
<blockquote>
<p>Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan pensyariatan <em>ar-rahn</em> dalam keadaan mukim di atas, yang tidak menunjukkan adanya perintah, sehingga menunjukkan bahwa <em>ar-rahn</em> ini tidak wajib ada.</p>
</blockquote>
<p>Demikian juga, karena <em>ar-rahn</em> adalah jaminan utang, sehingga ia tidak wajib, sebagaimana tidak wajibnya <em>adh-dhiman</em> (jaminan pertanggung-jawaban) dan <em>al-kitabah</em> (penulisan perjanjian utang). Selain itu, juga karena <em>ar-rahn</em> ini ada ketika pihak yang bermuamalah mengalami kesulitan untuk melakukan penulisan perjanjian utang. Bila<em> al-kitabah</em> tidak wajib dilakukan maka demikian juga penggantinya.</p>
<p><strong>2. <em>Ar-rahn</em> wajib ada pada muamalah yang dilakukan dalam keadaan safar</strong>. Inilah pendapat Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya.</p>
<p>Pendapat ini berdalil dengan firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُواْ كَاتِباً فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ</strong></p>
<p>“<em>Jika kamu berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara  tunai), sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah  ada barang tanggungan yang dipegang (oleh orang yang memberikan piutang)</em>.”</p>
<p>Mereka menyatakan bahawa kalimat “maka hendaklah ada barang  tanggungan yang dipegang (oleh yang memberikan piutang)” adalah berita  yang bermakna perintah.</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ</strong></p>
<p>“<em>Semua syarat yang tidak ada di Kitabullah maka ia batil, walaupun sebanyak seratus syarat</em>.” (H.R. Al-Bukhari).</p>
<p>Mereka menyatakan, “Pensyaratan <em>ar-rahn</em> dalam keadaan safar  ada dalam Alquran, dan itu diperintahkan, sehingga kita wajib  mengamalkannya, dan dia tidak disyaratkan ada (pada muamalah yang  berlangsung) dalam keadaan mukim sehingga ia tertolak (tidak diamalkan  pada keadaan mukim, <em>ed.</em>).</p>
<p><strong>Pendapat ini dapat dibantah dengan argumentasi</strong>:  bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud memberikan bimbingan, bukan  kewajiban. Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah setelahnya,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضاً فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ</strong></p>
<p>“<em>Akan tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain  maka hendaklah pihak yang dipercayai itu menunaikan amanahnya (utangnya)</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:283)</p>
<p>Demikian juga, hukum asal dalam transaksi muamalah adalah kebolehan  (mubah) yang tetap berlaku, hingga ada larangannya; dan di sini tidak  ada larangan yang berlaku. [13]</p>
<p><strong>Yang rajih adalah pendapat pertama</strong>. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><em>Bersambung, insya Allah ….</em></p>
<p>==<br> <strong>Catatan kaki:</strong><br> [1] Lihat <em>Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram</em>, 4:460.<br> [2] Lisan <em>Al-Arab</em>, kata: rahana; dinukil dari <em>Al-Fiqh Al-Muyassarah</em>, Qismul Mu’amalah, hlm. 115.<br> [3] <em>Mu’jam Maqayis Al-Lughah</em>, 2:452; dinukil dari <em>Abhats Hai’at Kibar Al-Ulama bil Mamlakah Al-Arabiyah As-Su’udiyah</em>, 6:102.<br> [4] Lihat <em>Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab</em>, 12:299–300.<br> [5] Lihat <em>Al-Mughni</em>, 6:443.<br> [6] Lihat <em>Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al-Aziz</em>.<br> [7] <em>Taudhih Al-Ahkam Syarah Bulugh Al-Maram</em>, 4:460.<br> [8] <em>Abhats Hai’at Kibar Ulama</em>, 6:107.<br> [9] Lihat <em>Al-Mughni</em>, 6:444 dan <em>Taudhih Al-Ahkam</em>, 4:460.<br> [10] <em>Fathul Bari</em>, 5:140.<br> [11] <em>Adhwa’ Al-Bayan</em>, 1:228.<br> [12] <em>Al-Mughni</em>, 6:444.<br> [13] <em>Abhats Hai’at Kibar Ulama</em>, 6:112–112.</p>
<p><strong>Artikel <a>www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 