
<p>Di artikel yang lalu, telah kita bahas sekilas tentang gaya pemimpin  yang berorientasi pada hasil akhir karyawan maupun perusahaan. Artikel  kali ini akan mencoba membahas gaya kepemimpinan yang berlawanan dengan  sebelumnya, yaitu pemimpin yang lebih mementingkan hubungan dengan  bawahannya.</p>
<p>Pemimpin tipe ini, biasanya, sangat menghargai hubungan kerjanya  dengan bawahan mereka. Tipe ini akan suportif, dengan menempatkan  kesejahteraan bawahan sebagai prioritas mereka. Mereka juga terkesan  lebih terbuka, dengan memberikan kepercayaan kepada karyawannya dalam  pekerjaan.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri pemimpin yang berorientasi pada hubungan dengan karyawan:<br> a) Sangat ekspresif dan memiliki kecenderungan untuk membangun ikatan kerja yang kuat dengan karyawannya.<br> b) Memberikan perhatian khusus terhadap kesejahteraan karyawannya.<br> c) Memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada karyawannya untuk berpartisipasi pada pekerjaan.<br> d) Membuka jalur komunikasi sehingga karyawan bisa dengan bebas menyuarakan pendapat.<br> e) Suportif terhadap kemajuan dan peningkatan kualitas karyawan.</p>
<p>Setelah mengenal sedikit dari dua tipe pemimpin yang berlawanan,  mungkin akan muncul pertanyaan di benak kita, “Mana yang lebih baik?”  Agak sulit rasanya untuk menemukan gaya kepemimpinan yang lebih baik,  karena tentunya itu semua tergantung dari kondisi karyawan, perusahaan,  atau pun tipe pekerjaannya. Sebagai contoh, untuk pekerjaan yang  membutuhkan ketelitian luar biasa, seperti akuntan, mungkin tipe  pemimpin yang berorientasi pada hasil akhir lebih relevan ketimbang  pemimpin yang mengutamakan hubungan kerja dengan karyawannya.</p>
<p>Namun, akan lebih baik apabila seorang pemimpin bisa mengimbangi dua  orientasi ini. Ada kalanya, seorang pemimpin harus serius dan tegas  dalam memberikan arahan terhadap karyawannya. Begitu juga, pemimpin yang  bijaksana, harus tetap memperhatikan kesejahteraan dan memberikan  dukungan serta memotivasi karyawan agar bisa menjalankan pekerjaan  dengan maksimal.</p>
<p>Kesimpulannya, memang tidak mudah menjadi pemimpin, karena pemimpin  tidak hanya dibebani pekerjaanya sendiri, namun juga harus  bertanggungjawab untuk mengatur dan membimbing sekian banyak orang di  bawahnya.</p>
<p><strong>Referensi: </strong><br> <em>http://cpmcnet.columbia.edu/dept/pi/ppf/Bass.pdf</em></p>
<p><strong>Penulis: Intan Nur Asma Hardhani</strong></p>
<p><strong>Artikel <a>www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 