
<p><em>Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em></p>
<p>Saya seorang wanita umur 25 tahun. Saya merasa depresi dan merasa aneh  pada diri saya. Mungkin karena saya mempunyai kepercayaan terhadap  sesuatu yang saya sendiri tahu bahwa itu tidak baik. Hal itu berlangsung  dari sebelum ngaji. Semua itu terkait kebiasaan saya percaya pada  ramalan, baik tentang kesehatan atau hari baik dll. Saya percaya bahwa  zodiak A rocok dengan pasangan rodiak B atau C (misalnya), dan entah  kenapa hal ini semakin lama semakin terbukti kebenarannya. sehingga  akhirnya saya tersugesti. tiap pilih teman atau pasangan/jodoh saya  terfokus pada zodiaknya (jika tidak cocok zodiaknya maka akan ada  perasaan enggan &amp; tidak bersemangat dengannya). kepercayaan semacam  ini sangat menyiksa saya, terutama saat pemilihan jodoh. Setelah saya  ngaji saya sadar bahwa itu tidak baik, apalagi setelah baca buku Tauhid  yang melarang percaya pada peramal.</p>
<p>Yang ingin saya tanyakan,</p>
<ol>
<li>Apakah sugesti/kasus tersebut termasuk syirik? Apakah bisa dikatakan  bergantung pada sesuatu selain Allah?</li>
<li>Jika dalam hati dan perkataan saya sudah menyadari dan menolak hal  itu, namun dalam mengamalkannya masih terasa sulit (karena saya masih  mengingatnya dan sepertinya keyakinan itu sudah mengakar/melekat erat  pada pikiran). Bagaimana terapi mengatasi/menghilangkan sugesti tersebut  pada jiwa ini?</li>
<li>Adakah upaya syar’i, seperti doa/lainnya pada kasus ini?</li>
<li>Apa yang harus saya lakukan ketika pemilihan jodoh (agar saya tidak  menyisipkan sugesti tersebut)? Apakah saya tidak boleh mengetahui  tanggal lahirnya atau bagaimana?</li>
<li>Jika saya menikah dengan orang yang tidak cocok secara zodiak itu,  upaya apa untuk menenteramkan hati &amp; upaya apa untuk mencintainya?</li>
</ol>
<p><em>Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em></p>
<p><strong>Ana</strong></p>
<p>Surabaya</p>
<p><!--more--><strong>Ustadz Abu Umar Basyir menjawab:</strong></p>
<p><em>Wa ‘alaikumussalam </em><em>wa rahmatullahi wa barakatuh</em></p>
<p>Ukhti Ana yang saya hormati.</p>
<p>Sumber utama dari kebahagiaan manusia adalah keyakinannya pada  nilai-nilai kebenaran, serta sikap penolakannya sepenuh hati terhadap  segala yang berlawanan dengan kebenaran. Bukan kebenaran menurut  anggapan kita, tapi kebenaran sejati yang Allah ajarkan kepada para  nabi-Nya.</p>
<p><em>“Barangsiapa yang memusuhi Thagut dan beriman kepada Allah, berarti  ia telah berpegang pada tali yang kokoh.”</em> (Qs. Al-Baqarah)</p>
<p>Orang yang berkeyakinan salah, hidupnya tidak akan terarah, dan ia  otomatis akan senantiasa merasa resah, gelisah, gundah, dan nyaris tak  dapat merasakan kenikmatan hidup secara lumrah. Kenapa? Karena ia  bergantung pada tali yang rapuh, yakni keyakinan sesat tersebut. Oleh  sebab itu, Nabi 16, pernah menegaskan, <em>“Barang siapa yang memakai  kalung azimat, maka ia telah berbuat syirik</em> “Dalam riwayat lain, “<em>Maka  ia akan digantungkan pada azimat tersebut.</em>” (Riwayat Abu Dawud)</p>
<p>Orang yang mengenakan azimat, berarti telah berbuat kemusyrikan.  Karena itu, ia akan bergantung objek di mana ia mengalamatkan  kemusyrikannya itu. la akan selalu bergantung pada keampuhan jimatnya  tersebut. Bila kehilangan benda itu, atau pergi tanpa membawanya, ia  akan merasa begitu lemah dan tidak memiliki kekuatan apa-apa. Itulah  sebabnya, seorang musyrik akan senantiasa hidup dalam kegamangan. Dalam  bahasa Arab disebut taa-ih, yaitu orang yang hidup tidak menentu,  senantiasa merasa lemah, mudah putus asa dan merasa dibuntuti hal-hal  yang membuatnya selalu merasa takut. Itulah, kenapa kemusyrikan  senantiasa membuat seseorang semakin bodoh dan lemah.</p>
<p>Persoalannya, kemusyrikan memang didasari pada keyakinan. Maka, mari  kita cermati bersama persoalan yang sedang ukhti hadapi, berdasarkan  telaah ilmiah sederhana.</p>
<p>Saya ingin selalu menegaskan, bahwa sangatlah sederhana metoda  mengenali apakah sebuah keyakinan atau perbuatan itu dapat dikategorikan  musyrik atau bukan.</p>
<p>Menurut Syekh Muhammad Shalih Al-Utsaimin <em>rahimahullah</em>,  cukup dipertanyakan dua hal saja:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Apakah keyakinan atau perbuatan itu ada  dasarnya dari syariat atau tidak?</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Apakah  keyakinan atau perbuatan tersebut bermuatan ilmiah murni atau bukan?</p>
<p>Artinya, apabila sebuah keyakinan atau perbuatan dasarnya adalah  syariat, meski menurut akal kita tidaklah logis, harus diterima. Seperti  tata cara shalat, atau keyakinan akan datangnya Dajjal dan Imam Mahdi,  tentang Surga dan Neraka, dan seterusnya. Semua itu ada dasarnya dari  al-Quran dan hadits-hadits shahih, maka tidak perlu dipertanyakan.  Kesemuanya adalah benar dan absah adanya.</p>
<p>Kemudian, kalau sebuah perbuatan atau keyakinan tidak ada  penjelasannya dalam syariat, tapi ada alasannya secara ilmiah dan itu  terkait dengan hal keduniaan—, maka hukumnya mubah-mubah saja. Seperti  keyakinan bahwa akan turun hujan, karena cuaca mendung. Keyakinan itu  bisa saja kemudian keliru, karena prediksi ilmiah kita yang tidak tepat,  atau ada hal-hal ilmiah lain yang menghalanginya. Demikian juga bila  kita menaburi sekeliling rumah kita dengan garam, dan kita yakin secara  ilmiah bahwa binatang serangga takut menghadapi garam, maka itu pun  diperbolehkan.</p>
<p>Namun, kalau sebuah keyakinan tidak ada dasarnya dalam syariat,  kemudian secara ilmiah juga tidak bisa dibuktikan kebenarannya, maka itu  termasuk keyakinan atau perbuatan musyrik.</p>
<p><strong>Misalnya,</strong> ramalan bintang. Dasarnya dalam syariat jelas tidak ada.  Kemudian, relevansi ilmiahnya juga tidak ada. Itu murni hanya didasari  oleh keyakinan semata. Karena tidak ada kaitan antara kejadian tertentu,  terhadap nasib seseorang. Kalau bintang jatuh, atau berada di lokasi  tertentu, berarti nasib seseorang akan begini dan begitu. Seperti  ditegaskan dalam hadits Al-Bukhari, terkait dengan gerhana bulan, “<em>Janganlah  kalian menyangkutpautkan kejadian ini dengan matinya atau lahirnya  seseorang. Gerhana termasuksalah satu tanda kekuasaan Allah semata…</em>”</p>
<p>Maka, letak kemusyrikan pada ramalan bintang itu adalah pada  ramalannya, dan pada keyakinan, sugesti dan segala wujud perasaan yang  berpangkal dari ramalan tersebut.</p>
<p>Adanya sugesti itu berawal dari adanya keyakinan. Maka sugesti yang  muncul karena ramalan bintang atau Zodiak adalah perasaan yang muncul  dari keyakinan terhadapnya. Maka, itu termasuk batil, sesat, dan bagian  dari kemusyrikan itu sendiri. Dan sudah tentu, itu termasuk bergantung  pada selain Allah.</p>
<p>Lalu, bagaimana bila sebuah keyakinan sudah berakar kuat dalam hati?  Bagaimana bila keyakinan itu salah, keliru dan sesat, tapi sudah  terlanjur melekat kuat dalam hati? Bagaimana cara mengatasinya?</p>
<p>Keyakinan hanya bisa dilenyapkan dengan keyakinan. Keyakinan terhadap  ramalan bintang itu hanya dapat dilenyapkan dengan keyakinan yang lebih  besar terhadap Allah, terhadap segala kekuasaan dan kebenaran dari-Nya.  Dan keyakinan terhadap Allah hanya dapat ditumbuhkembangkan dengan dua  cara:</p>
<ol>
<li><strong>ILMU</strong></li>
<li><strong>IBADAH</strong></li>
</ol>
<p>Artinya, ukhti harus terus belajar dan belajar tentang tauhid,  tentang berbagai ilmu-ilmu keislaman, serta menerapkan-nya dalam  keseharian. Semua ilmu itu akan melahirkan keyakinan-keyakinan baru yang  akan perlahan tapi pasti melenyapkan sisa-sisa keyakinan musyrik yang  ada dalam hati.</p>
<p>Setelah itu, perbanyaklah ibadah. Karena banyaknya ibadah akan  menumbuhlestari-kan iman dalam dada, memupuknya dan menyemainya hingga  mengakar kuat dalam hati. Keyakinan yang muncul dari berbagai ilmu yang  dipelajari, akan semakin mengakar kuat dengan banyaknya ibadah. Tentu,  ibadah yang benar dan sesuai aturan syariat.</p>
<p>Selalulah berdoa agar selamat dari perbuatan musyrik, baik yang  disengaja maupun tidak disengaja. Baik yang diketahui ilmunya maupun  yang tidak diketahui ilmunya. Baik syirikashgarmaupun syirikakbar.</p>
<p>Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> sendiri kerap berdoa,</p>
<p>” <em>Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu  padahal aku mengetahui bahwa itu syirik, Dan ampunilah aku terhadap dosa  yang tidak aku ketahui</em>.” (Riwayat Ahmad)</p>
<p>Orang yang terkena panas iblis, atau panah asmara jahiliyyah, selain  diperintahkan banyak berdoa dan berdzikir, juga harus berusaha melupakan  objek asmaranya. Bila perlu, menghindarinya sebisa mungkin. Begitu pula  orang yang ingin menyelamatkan diri dari kemusyrikan, harus menghindari  berbagai hal yang bisa menumbuhkan kembali kepercayaan laknat itu.  Maka, tak perlu menanyakan secara khusus tanggal, bulan dan tahun  lahirnya, karena itu bisa menjadi sebab ukhti terjebak dalam keyakinan  yang keliru, meski pada hakikatnya ukhti menolak dan enggan  memercayainya.</p>
<p>Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahulullah</em> mengatakan  “Kemusyrikan kecil adalah sarana yang dapat menghantarkan seseorang pada  kemusyrikan besar.”</p>
<p>Bila kebiasaan menanyakan tanggal, bulan dan tahun lahir itu kerap  memunculkan keyakinan musyrik, maka perbuatan itu bisa masuk kategori  syirik ashghar atau kemusyrikan kecil bagi pelakunya.</p>
<p>Keyakinan yang salah, karena didasari kebatilan seperti ramalan  bintang itu, bisa saja menyebabkan seseorang kehilangan banyak hal yang  bermanfaat baginya. Bukan hanya kehidupan Surga yang pasti hilang  karenanya, tapi juga kepentingan-kepentingan duniawi, termasuk  kebahagiaan rumah tangga, dan termasuk di antara pilarnya, hilangnya  cinta kasih terhadap pasangan.</p>
<p>Sebelum seseorang berusaha keras untuk mengenyahkan sisa-sisa  kemusyrikan dalam dirinya, maka ia akan terus berada dalam kepenatan  hidup. la akan sulit mencintai pasangannya karena Allah, karena antara  dirinya dengan Allah, atas hijab pemisah yang amat tebal. Maka,  berupayalah belajar dan memperbanyak ibadah, serta selalu mengusir  setiap kali ada perasaan mengendap dalam hati yang membujuk ukhti untuk  kembali meyakini hal-hal yang sesat seperti itu. Dengan izin Allah,  semuanya akan sirna, dan ukhti akan memiliki keyakinan yang bersih dari  noda-noda gelap yang dapat mengotorinya.</p>
<p>Wallahul muwaffiq.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ustadz Abu Umar Basyir<br>
Artikel <a href="http://abuumar.com/ustadz-menjawab/">AbuUmar.com</a></p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="https://konsultasisyariah.com">KonsultasiSyariah.Com</a></p>
 