
<p><strong>HARTA ANAK YATIM DAN ORANG GILA WAJIB DIZAKATI</strong></p>
<p>Oleh<br>
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta</p>
<p>Pertanyaan.<br>
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta  ditanya : Apakah harta anak yatim dan orang gila wajib dizakati?</p>
<p>Jawaban.<br>
Harta masing-masing dari keduanya wajib dizakati, jika ia merdeka, muslim dan memilikinya secara sempurna ; berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni secara marfu (tersambung) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p><strong>أَلا مَنْ وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ فِيهِ وَلا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ</strong></p>
<p>“Barangsiapa diberi mandat untuk mengurus harta anak yatim, maka hendaklah ia berdagang dengannya dan janganlah ia meninggalkannya hingga harta tersebut berkurang dimakan zakat”</p>
<p>Juga berdasarkan apa yang diriwayatkan Imam Malik dalam Al-Muwaththa dan Abdurrahman bin Al-Qasim dari ayahnya bahwa ia berkata:</p>
<p>“Aisyah menjadi waliku beserta saudaraku yang yatim dalam pemeliharannya, dan ia mengeluarkan zakat harta kami”.</p>
<p>Pendapat tentang kewajiban menzakati harta masing-masing dari keduanya adalah pendapat Ali, Ibnu Umar, Jabir, Aisyah dan Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu anhu. Pendapat dari mereka ini disebutkan oleh Ibnul Mundzir.</p>
<p>[Disalin dari Fatawa Az-Zakah Penyusun Muhammad Al-Musnid, Edisi Indonesia Fatwa Seputar Zakat Penerjemah Ahmad Syaikhu, S.Ag. Penerbit Darul Haq]</p>
 