
<p>Islam telah menjadikan Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> sebagai hakim dalam setiap perkara syari’at. Oleh karena  itu, para Salafush Shalih dari kalangan Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan  generasi setelahnya sepakat tentang wajibnya berpegang teguh pada Sunnah Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> dan meninggalkan semua perkataan manusia yang  menyelisihinya, tanpa kecuali. Maka orang-orang yang sejalan dengan mereka  inilah yang disebut dengan <em>Ahlus Sunnah</em>.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendakwahkan Islam kepada para Shahabat atas dasar ilmu dan wahyu dari <em>Rabbul  ‘Alamin</em>. Oleh karena itu, Islam mendasari segala sesuatu dengan ilmu dan  keadilan.</p>
<p>Allah <em>Tabaraka wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ هَـذِهِ سَبِيْلِى أَدْعُواإِلَى اللهِۚ  عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِىۖ … ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Katakanlah  (Muhammad), ‘Inilah jalanku yang lurus, aku dan orang-orang yang mengikutiku  mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu.’”</em> (Qs. Yusuf: 108)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu  Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> menyeru manusia kepada agama Allah atas dasar ilmu (بَصِيْرَةٍ    ), keyakinan (يَقِيْن    ), dalil syar’i (بُرْهَان     شَرْعِي    ), dan dalil aqli (عَقْلِي    ). [Lihat <em>Tafsir  Ibnu Katsir</em> (IV/422)]</p>
<p>Disisi lain,  ada sekelompok manusia yang dengan kelemahan mereka terhadap syari’at telah  mengangkat para kyai, para imam, atau  tokoh-tokoh mereka menjadi hakim dalam perkara syari’at dan menempatkan mereka  dalam kedudukan yang lebih tinggi daripada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>.</p>
<p>Mereka berkata, <em>“Kami mengambil apa yang telah diputuskan Imam kami  dan kami tidak mempedulikan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,  karena Imam kami adalah orang yang kami percaya dan orang yang paling mengerti  tentang Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kami.”</em> [Lihat <em>Muqaddimah  Shifat Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (hal. 72)]</p>
<p>Itulah ciri  khas mereka yang mengakibatkan pengetahuan mereka tentang Sunnah Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> menjadi terbatas dan pemahaman mereka tentang syari’at  menjadi sempit. Mereka itulah orang-orang yang telah durhaka kepada Allah dan  Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Pada kesempatan  kali ini –dengan memohon Taufiq dari Allah, penulis akan mencoba mengetengahkan  sebuah pembahasan tentang taqlid dalam tinjauan syari’at. Semoga tulisan ini  dapat menjadi referensi tersendiri bagi para pembaca untuk memahami pentingnya  berpegang teguh kepada Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>PENGERTIAN  TAQLID</strong></p>
<p>Taqlid secara  bahasa adalah meletakkan kalung ke leher. Dan terkadang kata ini digunakan  meng-istilahkan: menyerahkan sesuatu perkara kepada seseorang, seakan-akan  perkara tersebut diletakkan di lehernya, seperti kalung. [Lihat <em>Misbahul  Munir </em>(hal. 512), <em>Lisanul ‘Arab</em> (III/367), <em>Mudzakkirah Ushul Fiqh</em> (hal. 314), <em>Syarah Ushul min ‘Ilmil Ushul </em>(hal. 593) dan <em>Mulia dengan  Manhaj Salaf </em>(hal. 296)]</p>
<p>Taqlid menurut  istilah adalah mengambil pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. [Lihat <em>Jami’  Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi</em> (II/173), <em>I’lamul Muwaqqi’in</em> (III/464), <em>Mudzakkirah  Ushul Fiqh</em> (hal. 314), <em>Majmu’ Fatawa </em>(XXXV/233), <em>Syarah Ushul min  ‘Ilmil Ushul </em>(hal. 593), dan <em>Mulia dengan Manhaj Salaf</em> (hal. 296)]</p>
<p><strong>CELAAN  TERHADAP TAQLID</strong></p>
<p>Kesesatan  merupakan buah dari taqlidnya seseorang terhadap ajaran nenek moyangnya,  keterbatasan akalnya, dan atau hawa nafsunya yang mengajaknya ke dalam  kedurhakaan kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla.</em> Inilah yang menjadi sebab suatu  kaum menolak dakwah Rasul mereka. Inilah juga yang menjadi sebab kekufuran kaum  Yahudi dan Nashara, karena telah taqlid kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib  mereka. Dan inilah juga yang menjadi sebab kesesatan para ahli bid’ah akibat  memperturutkan kemauan hawa nafsu mereka.</p>
<p>Allah <em>Jalla  wa ‘Ala</em> berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,</p>
<p class="arab">وَكَذَ لِكَ مَآ أَرْ سَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ  فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَّذِيْرٍ إِلاَّ قَالَ مُتْرَ فُوهَآ إِنَّا وَجَدْنَآ  ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ ۝ قَـلَ  أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْـدَى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ ءَابَآءَكُمْۖ  قَالُوا إِنَّا بِمَآ أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَفِرُونَ ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Dan  demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau  (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu)  selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu  (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.’ Rasul itu  berkata, ‘Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu  (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut  nenek moyangmu?’ Mereka menjawab, ‘Sungguh kami mengingkari (agama) yang kamu  diperintahkan untuk menyampaikannya.”</em> (Qs. Az-Zukhruf: 23-24)</p>
<p>Imam lbnu  ‘Abdil Barr <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hal itu disebabkan taqlidnya  mereka terhadap (agama) nenek moyang mereka, sehingga mereka tidak mau  mengikuti petunjuk Rasul.”</em> [Lihat <em>Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi</em> (II/160)]</p>
<p>Allah juga  berfirman,</p>
<p class="arab">أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ  أَنَّهُمْ اَمَنُوْا بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ  يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَّتَحَا كَمُوْا إِلَى الطَّاغُوْتِ وَقَدْ أُمِرُوْا أَنْ  يَّكْـفُرُوْا بِهِۗ وَيُرِيْدُ الشَّيْطَنُ أَنْ يُّضِلَّهُمْ ضَلَـلاً بَعِيْدًا  ۝ وَإِذَ قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَآأَنْزَلَ اللهُ وَإِلَى الرَّسُوْلِ  رَأَيْتَ الْمُنَـفِقِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْكَ صُدُوْدًا ۝</p>
<p>Artinya: “<em>Apakah  kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada  apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?  Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah  mengingkari thaghut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan)  kesesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu  (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul, niscaya  kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari  (mendekati)mu.”</em> (Qs. An-Nisa: 60-61)</p>
<p>Mujahid <em>rahimahullah</em> berkata tentang pengertian <em>thaghut</em>: <em>“Thaghut adalah setan dalam  bentuk manusia, dimana banyak orang berhukum kepadanya dan dialah yang mengatur  urusan mereka.”</em> [Lihat <em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> dalam surat An-Nisa’ ayat 51]</p>
<p>Dan firman-Nya  yang lain,</p>
<p class="arab">وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلاَمُؤْمِنَةٍ  إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ  أَمْرِهِمْۗ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ ضَلَّى ضَلَلاً مُّبِيْنًا ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Dan  tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah,  apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi  mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai  Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat dalam kesesatan yang  nyata.”</em> (Qs. Al-Ahzab: 36)</p>
<p>Seorang awam  yang taqlid akan mengambil seorang alim sebagai rujukannya. Dan dia menjadikan  orang alim tersebut sebagai satu-satunya pedoman dalam menentukan hukum  syari’at, padahal orang alim yang diambilnya itu bukanlah seorang yang <em>ma’shum</em> (terpelihara dari dosa). Selain itu, para ulama yang dijadikan pedoman oleh  orang-orang yang taqlid tadi, telah berlepas diri dari sikap mereka yang <em>jumud</em> (kaku) dan <em>ta’ashshub</em> (fanatik). Sebagaimana telah disebutkan dalam  firman Allah berikut ini,</p>
<p class="arab">إِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ  الَّذِيْنَ التَّبَعُوْا وَرَاَوُاالْعَـذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ  ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Ketika  orang-orang yang diikuti (itu) berlepas diri dari orang-orang yang  mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara  mereka terputus.”</em> (Qs. Al-Baqarah: 166)</p>
<p>Imam Ibnu  ‘Abdil Barr <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Para  ulama berpendapat dengan (menggunakan) ayat ini (sebagai hujjah) untuk menyalahkan taqlid.”</em> [Lihat <em>Jami’ Bayanil  ‘Ilmi wa Fadhlihi</em> (II/160)]</p>
<p>‘Abdullah bin  Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> pernah berkata, <em>“Ketahuilah, janganlah  kalian taqlid kepada seseorang dalam agamanya. Jika orang itu beriman, maka  beriman (juga orang yang taqlid padanya). Dan jika orang itu kafir, maka kafir  (juga orang yang taqlid padanya). Karena itu, tidak ada teladan dalam hal  keburukan.”</em> [Lihat <em>Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi</em> (II/168)]</p>
<p>Itulah dampak  buruk dari sikap taqlid seorang yang awam dan senantiasa menerima segala hal  yang diberikan kepadanya tanpa dikritisi terlebih dahulu. Semakin lama dia  taqlid, semakin dia akan terbiasa untuk menerima segala sesuatunya ‘bulat-bulat’,  entah yang diterimanya itu adalah ‘madu’ ataukah ‘racun’.</p>
<p>bersambung insyaallah</p>
<p>***<br>
muslimah.or.id<br>
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad<br>
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<p>1. <em>Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam</em>, Imam Abu Muhammad ‘Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm Azh-Zhahiri, cetakan Maktabah Athif, Kairo.</p>
<p>2. <em>Al-Masa’il Jilid 3</em>, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Darus Sunnah, Jakarta.</p>
<p>3. <em>Antara Taqlid dan Ittiba’</em>, Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, dimuat dalam Majalah Al-Furqon Edisi 2 Tahun V, Gresik.</p>
<p>4. <em>I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin Jilid 3 dan 4</em>, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cetakan Daar Ibnul Jauzi, Riyadh.</p>
<p>5. <em>Jami Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi Jilid 1 dan 2</em>, Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdil Barr, cetakan Daar Ibnul Jauzi, Riyadh.</p>
<p>6. <em>Kitabul ‘Ilmi</em>, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Daar Tsuraya, Riyadh.</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 