
<p><strong>HINANYA HATI YANG KERAS<br>
</strong></p>
<p>Oleh<br>
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc, M.A</p>
<p><strong>أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ</strong></p>
<p><em>Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari </em><em>Rabb-</em><em>nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata</em>. [az-Zumar/39:22]</p>
<p><strong>Ringkasan Tafsir</strong><a href="#_ftn1" name="_ftnref1"><strong>[1]</strong></a><br>
<strong>“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam”</strong>, yaitu dengan dipermudah untuk mengenal-Nya, bertau<u>h</u>id kepada-Nya, taat akan perintah-Nya dan menjadi bertambah semangat untuk mengerjakan ajaran Islam. Dan ini adalah pertanda yang baik bagi seseorang.</p>
<p><strong>“Lalu ia mendapat cahaya dari <em>Rabb</em>-nya”</strong>, yaitu cahaya kebenaran yang membuat hatinya bertambah yakin.  Apakah mereka itu sama dengan orang yang hatinya keras? Tentu saja tidak sama.</p>
<p><strong>“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh”</strong>, yaitu mereka yang hatinya tidak lunak ketika diingatkan akan Allâh, tidak <em>khusyû’</em>, tidak paham, tidak sadar dan selalu membangkang.</p>
<p><strong>“Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”</strong> yang  akan mengantarkan mereka kepada kebinasaan.</p>
<p><strong>Hati Memiliki Sifat</strong><br>
Setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Sifat-sifat tersebut pun bisa berubah-ubah setiap waktu. Begitu pula hati, dia pun memiliki sifat. Hati bisa menjadi sehat dan juga bisa menjadi sakit. Allâh Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p><strong>فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا</strong></p>
<p><em>Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allâh penyakitnya ….</em> [al-Baqarah/2:10]</p>
<p>Hati juga bisa menjadi lunak dan juga bisa menjadi sekeras batu. Allâh Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p><strong>ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً</strong></p>
<p><em>Kemudian setelah itu hati</em><em> kalian</em><em> menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi</em>. [al-Baqarah/2:74]</p>
<p>Begitu pula hati bisa mengkilap, bersinar dan bisa juga menjadi hitam kelam sebagaimana diterangkan di beberapa hadits Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, sebisa mungkin seorang Muslim memperhatikan kondisi hatinya setiap saat, jangan sampai menjadi hati yang keras atau mulai mengeras sehingga nantinya akan menjadi keras dan sulit menerima kebenaran. <em>Na’ûdzu billâhi min dzâlik. </em></p>
<p><strong>Bahaya Hati yang Keras</strong><br>
Ayat di atas dengan jelas menerangkan bahwa orang yang hatinya keras sangat tercela dan dalam kesesatan yang nyata. Mâlik bin Dînâr t pernah berkata, “Seorang hamba tidaklah dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar daripada hatinya yang dijadikan keras. Tidaklah Allâh Azza wa Jalla marah terhadap suatu kaum kecuali Dia akan mencabut rasa kasih sayang-Nya dari mereka <a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p><strong>Tanda-tanda Hati yang Keras atau Mulai Mengeras</strong><br>
Hati yang keras atau mulai mengeras memiliki tanda-tanda sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.</li>
<li>Tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat al-Qur’ân yang dibacakan. Berbeda dengan kaum <em>mu’minîn</em>, hati mereka akan bergetar jika dibacakan ayat-ayat al-Qur’ân atau diingatkan akan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh  gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal</em> [al-Anfâl/8:2]</p>
<ol start="3">
<li>Tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh berfirman.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;"> <strong>اَوَلَا يَرَوْنَ اَنَّهُمْ يُفْتَنُوْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً اَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوْبُوْنَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Dan tidakkah mereka (orang-orang munâfiq) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?</em> [at-Taubah/9:126]</p>
<ol start="4">
<li>Tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allâh Azza wa Jalla</li>
<li>Bertambahnya kecintaan terhadap dunia dan mendahulukannya di atas akhirat</li>
<li>Tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah</li>
<li>Bertambahnya dan meningkatnya kemaksiatan yang dilakukannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allâh memalingkan hati mereka. Dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik</em>. [ash-Shaf/61:5]</p>
<ol start="8">
<li>Tidak mengenal atau tidak membedakan perbuatan <em>ma’ruf</em> dan <em>munkar</em>.</li>
</ol>
<p><strong>Sebab-sebab Kerasnya Hati</strong><br>
Hati menjadi keras tentu ada penyebabnya. Penyebab-penyebab kerasnya hati di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Kesyirikan, kekufuran dan kemunafikan.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Inilah sebab yang paling besar yang dapat menutupi hati seseorang dari menerima kebenaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman.</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۚ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, </em><em>karena</em><em> mereka </em><em>telah </em><em>mempersekutukan Allâh dengan sesuatu yang Allâh sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. </em><em>T</em><em>empat kembali mereka ialah neraka</em><em>.</em> <em>D</em><em>an itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang z</em><em>h</em><em>alim</em> [Ali ‘Imrân/3:151]</p>
<ol start="2">
<li>Mengingkari perjanjian yang dibuat kepada Allâh Azza wa Jalla</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Allâh Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka kami laknat mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu</em>. [al-Mâ-idah/5:13]</p>
<p style="padding-left: 40px;">Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh Abu Bakr Al-Jazâiri, “Melanggarnya (perjanjian) dengan (car) tidak konsisten dengan apa yang ada di dalamnya yang berupa perintah dan larangan.”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<ol start="3">
<li>Banyak tertawa</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>لاَ تُكْثِرُوا الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Janganlah kalian banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati</em> <a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<ol start="4">
<li>Banyak berbicara dan banyak makan</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Bisyr bin al-<u>H</u>ârits pernah berkata, “(Ada) dua hal yang dapat mengeraskan hati: banyak berbicara dan banyak makan.”<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<ol start="5">
<li>Banyak melakukan dosa</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ ، صُقِلَ قَلْبُهُ ، فَإِنْ زَادَ ، زَادَتْ ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ : [[ كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ]] </strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Sesungguhnya seorang Mukmin jika melakukan dosa, maka akan ada bintik hitam di hatinya. Jika dia bertaubat dan berhenti (dari dosa tersebut) serta memohon ampunan, maka hatinya akan mengkilap. Apabila dia terus melakukan dosa, maka bertambah pula noktah hitam itu. Itu adalah ar-rân (penutup) yang disebutkan oleh Allâh di kitab-Nya: ‘Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka</em>. [al-Muthaffifîn/83:14]</p>
<ol start="6">
<li>Lalai dari ketaatan</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Allâh Azza wa Jalla berfirman.</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia.</em><em> M</em><em>ereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allâh)</em><em>,</em><em> mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allâh) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allâh). </em><em>M</em><em>ereka itu </em><em>seperti </em><em>binatang</em><em>-binatang</em><em> ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.</em> [-A’râf/7:179]</p>
<ol start="7">
<li>Lagu-laguan dan alat musik</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ </strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Lagu-laguan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati </em><a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<ol start="8">
<li>Suara wanita yang menggoda</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Allâh Azza wa Jalla berfirman.</p>
<p style="padding-left: 40px;"> <strong>إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Maka janganlah kamu tunduk </em><em>(menghaluskan suara) </em><em>dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya</em> <em>dan ucapkanlah perkataan yang baik</em> (QS. al-A<u>h</u>zâb/33:32)</p>
<ol start="9">
<li>Melakukan hal-hal yang merusak hati</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Hal-hal yang merusak hati sangatlah banyak. Akan tetapi, dari semua itu ada lima hal yang menjadi faktor  perusak hati. Kelima hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Ibnul-Qayyim t : “Adapun lima hal yang merusak hati adalah banyak bergaul (berkumpul dengan manusia), (banyak) berangan-angan, tergantung kepada selain Allâh Azza wa Jalla , kekenyangan (banyak makan) dan (banyak) tidur. Inilah kelima hal utama yang dapat merusak hati ”<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p><strong>Obat Hati yang Keras</strong><br>
Hati yang keras juga memiliki obat agar dia bisa kembali melunak. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat melunakkan hati:</p>
<ol>
<li>Beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan selalu meningkatkan keimanan.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Allâh Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Barangsiapa yang beriman kepada Allâh niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya</em> [at-Taghâbun/64:11]</p>
<ol start="2">
<li>Banyak mengingat Allâh (ber-<em>dzikr</em>) dan membaca al-Qur’ân dengan men-<em>tadabburi</em>-nya (memahami dan merenungi maknanya).</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Allâh  Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram</em> [ar-Ra’d/ : 28]</p>
<ol start="3">
<li>Belajar ilmu <em>syar’i</em> (ilmu agama)</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Tidak diragukan lagi, bahwa ilmu <em>syar’i</em> dapat membimbing seseorang untuk menjadi hamba Allâh Azza wa Jalla yang bertakwa. Di awal surat Ali ‘Imrân, Allâh Azza wa Jalla memuji orang-orang yang memiliki ilmu yang dalam. Tahukah pembaca, doa apakah yang mereka ucapkan? Doa yang diucapkan oleh mereka adalah:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Ya </em><em>Rabb</em><em> kami, janganlah Engkau jadikan hati</em><em>-hati</em><em> kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau</em><em>, k</em><em>arena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)</em>. [Ali ‘Imrân/3:8]</p>
<p style="padding-left: 40px;">Merekalah yang lebih tahu akan Rabb-nya bila dibandingkan orang-orang awam dan mereka juga lebih tahu bahwa hati manusia bisa berubah-ubah, sehingga mereka berdoa dengan doa tersebut.</p>
<ol start="4">
<li>Berlindung kepada Allâh dari hati yang tidak <em>khusy</em><em>û</em><em>’</em> dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang berbunyi:</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Ya Allâh! Aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang bermanfaat, dari hati yang tidak khusyû’, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan </em><a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<ol start="5">
<li>Berbuat baik terhadap anak yatim dan orang miskin</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya seseorang mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hatinya yang keras. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pun bersabda:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim</em> <a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<ol start="6">
<li>Banyak mengingat kematian</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Diriwayatkan dari Shafiyah x bahwasanya seorang wanita mendatangi ‘Âisyah x dan mengadukan keadaan hatinya yang keras. Kemudian ‘Âisyah pun berkata, “Perbanyaklah mengingat kematian, engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.” Kemudian wanita itu pun mengerjakannya. Setelah itu, dia pun mendapatkan petunjuk di hatinya dan bersyukur kepada ‘Âisyah <em>radhiallâhu ‘anhâ</em>.<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a></p>
<p style="padding-left: 40px;">Sa’îd bin Jubair<a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a> dan Rabî’ bin Abi Râsyid<a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a> rahimahumallâh pernah berkata:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>لَوْ فَارَقَ ذِكْرُ الْمَوْتِ قَلْبِي سَاعَةً خَشِيت أَنْ يَفْسُدَ قَلْبِي</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Seandainya mengingat kematian terpisah dari hatiku sekejap saja, saya takut hatiku akan menjadi rusak</em></p>
<ol start="7">
<li>Banyak berziarah kubur</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Abu Thâlib, seorang murid Imam A<u>h</u>mad, pernah berkata, “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillâh (Imam Ahmad) tentang bagaimana melunakkan hatinya. Beliau pun menjawab, ‘Masuklah ke dalam pemakaman dan usaplah kepala anak yatim.’.”<a href="#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></p>
<ol start="8">
<li>Menghadiri majlis ta’lim dan majlis nasihat</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Menghadiri majlis-majlis seperti ini sangat berpengaruh terhadap hati manusia. Mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh al-‘Irbâdh bin Sâriyah Radhiyallahu anhu , “Pada suatu hari Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat, kemudian menghadap ke kami dan memberikan nasihat yang sangat menyentuh, yang membuat mata-mata menangis dan hati-hati menjadi takut.”<a href="#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a></p>
<ol start="9">
<li>Menjauhi sebab-sebab terjadinya fitnah dan dosa</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Agar hati kita tidak menjadi keras, maka kita berusaha sekuat mungkin untuk menjauhi sebab-sebab terjadinya dosa atau fitnah. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla melarang para Sahabat bertanya atau meminta sesuatu hal kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dari belakang tabir.</p>
<p style="padding-left: 40px;">Allâh Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka</em> [al-Ahzâb/33:53]</p>
<ol start="10">
<li>Makan makanan yang halal</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Imam A<u>h</u>mad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang, “Dengan apa hati bisa menjadi lunak?” Kemudian beliau pun menjawab, “Ya <em>bunayya</em> (wahai anakku)! Dengan makan makananan yang halal.”<a href="#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a></p>
<ol start="11">
<li>Shalat malam</li>
<li>Beribadah dan mendekatkan diri kepada Allâh di waktu <em>sa<u>h</u></em><em>û</em><em>r</em> (sebelum Subuh)</li>
<li>Berteman dengan orang-orang yang soleh</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Ibrâhim al-Khawwâsh rahimahullah pernah berkata:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاء : قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ, وَخَلَاءُ الْبَطْنِ, وَقِيَامُ اللَّيْلِ, وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحْرِ, وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Obat hati ada lima macam, yaitu: membaca al-Qur’ân dengan men-tadabburi-nya, mengosongkan perut, shalat malam, mendekatkan diri (kepada Allâh) di waktu sahûr dan duduk-duduk (berteman) dengan orang-orang yang soleh</em><a href="#_ftn16" name="_ftnref16">[16]</a></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ol>
<li>Hati memiliki sifat-sifat yang bisa berubah-ubah.</li>
<li>Orang yang telah dibukakan hatinya untuk menerima agama Islam dan taat kepada Allâh tidak sama dengan orang yang berhati keras.</li>
<li>Orang yang berhati keras akan mendapatkan ancaman yang sangat besar</li>
<li>Orang yang berhati keras memiliki sifat-sifat tertentu seperti yang sudah dipaparkan di atas. Seyogyanya seorang Muslim selalu melakukan introspeksi diri.</li>
<li>Hati bisa menjadi keras disebabkan oleh beberapa hal. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita menjauhi sebab-sebab tersebut.</li>
<li>Hati yang keras pun dapat diobati dengan berbagai cara yang telah disebutkan.</li>
<li>Orang-orang yang telah terjerumus kepada kemaksiatan atau merasa bahwa hatinya sangat keras, maka harus segera bertaubat dan Allâh akan mengampuni orang-orang yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.</li>
</ol>
<p>Mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan Allâh selalu menjaga hati kita agar tetap lunak. Amin.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ. آمِيْن</strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ol>
<li>
<em>Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr</em>. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri.</li>
<li>
<em>At-Ta<u>h</u>rîr wa At-Tanwîr</em>. Mu<u>h</u>ammad Ath-Thâhir bin ‘Âsyûr. 1997. Tunusia: Dar Sa<u>h</u>nûn.</li>
<li>
<em>Dzammu Qaswatil-Qalb</em>. Al-Hâfizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dan <em>muqaddimah muhaqqiq</em>-nya, Abu Maryam Thâriq bin ‘Âtif <u>H</u>ijâzi. Dâr Ibni Rajab.</li>
<li>
<em>Dzammul-Hawâ</em>. ‘Abdurra<u>h</u>mân bin Abil-<u>H</u>asan al-Jauzi. <em>Tahqîq</em> : Mushthafâ ‘Abdul-Wâ<u>h</u>
</li>
<li>
<em>Jâmi’ul-Bayân fî ta’wîlil-Qur’ân</em>. Mu<u>h</u>ammad bin Jarîr ath-Thabari. Beirut: Muassasah ar-Risâlah.</li>
<li>
<em>Ma’âlimut-tanzîl</em>. Abu Mu<u>h</u>ammad al-<u>H</u>usain bin Mas’ûd al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.</li>
<li>
<em>Madârijus-Sâlikîn</em>. Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beirut: Dâru Ihyâ’ At-Turâts Al-‘Arabi.</li>
<li>
<em>Syu’abul-Îmân</em>. Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi. 2003 M/1423 H. Riyâdh: Maktabatur-Rusyd.</li>
<li>
<em>Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm</em>. Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.</li>
<li>Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di <em>footnotes</em>.</li>
</ol>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Diringkas dari <em>Tafsîr at-Thabari</em> XXI/277-278, <em>Tafsîr Ibni Katsîr</em> III/334-336 dan VII/93 dan <em>at-Ta<u>h</u>rîr wa At-Tanwîr </em>XXIV/63-64.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Ma’âlimut-Tanzîl</em> VII/115.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <em>Aisarut-Tafâsîr</em> I/338.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> HR. Ibnu Mâjah no. 4193 dan yang lainnya (Dinyatakan <em>sha<u>h</u>î<u>h</u></em> oleh Syaikh Al-Albâni di Sha<u>h</u>î<u>h</u> Ibni Mâjah).<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> <em><u>H</u></em><em>ilyatul-Auliyâ’</em> VIII/350 .<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> HR.  al-Bai<u>h</u>aqi dalam <em>Syu’abil-Îmân</em> VII/107 dan yang lainnya (<em><u>H</u>adîts mauqûf</em> ini dinyatakan <em>sha<u>h</u>î<u>h</u> isnâd</em>-nya oleh Syaikh Al-Albâni dalam <em>Silsilah Adh-Dha’îfah</em> ketika men-<em>takhrîj</em> <u>h</u>adîts no. 2430).<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> <em>Madârijus-Sâlikîn</em> I/343.<br>
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a>  HR. Muslim no. 7081 dan yang lainnya.<br>
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a>  HR. A<u>h</u>mad no. 7576 dan 9018. <u>H</u>adits ini di<u>h</u>asankan oleh Syaikh al-Albâni dalam <em>ash-Sha<u>h</u>î<u>h</u>ah</em> no. 854.<br>
<a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> HR. Ibnu Abi ad-Dunya (<em>takhrîj</em> ini dinukil dari kitab <em>Dzammu Qaswatil-qalb</em>).<br>
<a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> HR. A<u>h</u>mad dalam az-Zu<u>h</u>d no. 2006, <em><u>H</u>ilyatul-Auliya’</em> IV/276 dan yang lainnya.<br>
<a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <em>al-Mushannaf</em> XIII/562 dan yang lainnya.<br>
<a href="#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> <em>Thabaqât al-<u>H</u>anâbilah</em> I/39.<br>
<a href="#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> HR. Abu Dâwud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Mâjah no. 43 (<em><u>H</u>adîts</em> ini dinyatakan <em>sha<u>h</u>î<u>h</u></em> oleh Syaikh Al-Albâni dalam <em>Sha<u>h</u>i<u>h</u> Abi Dâwûd</em>).<br>
<a href="#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> <em><u>H</u></em><em>ilyatul-Auliyâ’</em> IX/182.<br>
<a href="#_ftnref16" name="_ftn16">[16]</a> <em>Dzammul-Hawâ</em> I/70.</p>
 