
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Melihat wajah Allah: nikmat terbesar penduduk surga</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nikmat dan karunia terbesar bagi penduduk surga adalah ketika mereka bisa melihat wajah Allah Ta’ala. Inilah nikmat terbesar yang akan dirasakan oleh penduduk surga di akhirat kelak, melebihi nikmat surga lainnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Shuhaib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman, “Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka (penduduk surga) menjawab, “Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, “Lalu Allah membukakan hijab pembatas, lalu tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugerah (dapat) memandang Rabb mereka.” </span><b>(HR. Muslim no. 181)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57977-sikap-terhadap-pencela-allah-pencela-nabi-atau-pencela-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Sikap Terhadap Pencela Allah, Pencela Nabi Atau Pencela Islam</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Hubungan antara shalat dan melihat wajah Allah Ta’ala</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat hubungan antara shalat dan melihat wajah Allah Ta’ala. Jika selama di dunia seseorang itu memperhatikan dan menjaga shalat, maka tentu dia layak untuk melihat wajah Allah Ta’ala. Sebaliknya, jika selama di dunia dia menyia-nyiakan shalat, maka tentu dia layak untuk terhalang dari melihat wajah Allah Ta’ala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hubungan antara dua hal ini Allah Ta’ala jelaskan dalam Al-Qur’an dan juga dijelaskan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23) وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ (24) تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ (25) كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ (26) وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ (27) وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ (28) وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ (29) إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ (30) فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى (31) وَلَكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (32)</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nya mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram. Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya), “Siapakah yang dapat menyembuhkan?” Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur’an) </span><b>dan tidak mau mengerjakan shalat.</b><span style="font-weight: 400;"> Tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran).” </span><b>(QS. Al-Qiyaamah [75]: 22-32)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57637-janji-allah-akan-menolong-orang-yang-menikah-untuk-menjaga-kehormatan.html" data-darkreader-inline-color="">Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bagian pertama, Allah Ta’ala sebutkan kondisi orang-orang mukmin yang berbahagia dan berseri-seri wajahnya. Hal ini karena </span><i><span style="font-weight: 400;">“Kepada Tuhan-nya mereka melihat”,</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu melihat dengan mata kepala secara langsung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah itu Allah Ta’ala sebutkan kondisi orang-orang kafir yang berwajah muram. Kemudian Allah Ta’ala sebutkan perbuatan apa yang mereka lakukan selama di dunia. Dan salah satu sebabnya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">“tidak mau mengerjakan shalat.” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun penjelasan dari as-sunnah, dari sahabat Jarir bin ‘Abdullah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata, “Pada suatu malam, kami pernah bersama Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Beliau lalu melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. </span><b>Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan untuk melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.” </b><span style="font-weight: 400;">(Yang beliau maksud adalah shalat subuh dan shalat ashar, pent.) </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Jarir membaca ayat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya).” (QS. Qaaf: 39). </span><b>(HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits tersebut, terdapat hubungan antara shalat dan melihat wajah Allah Ta’ala. Ibnu Rajab </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dikatakan tentang kesesuaian antara perintah untuk menjaga dua shalat ini (shalat subuh dan shalat ashar) setelah menyebutkan tentang nikmat </span><i><span style="font-weight: 400;">rukyah </span></i><span style="font-weight: 400;">(melihat wajah Allah Ta’ala), bahwa sesungguhnya nikmat tertinggi di surga adalah melihat wajah Allah Ta’ala. Sedangkan amal yang paling mulia di dunia adalah dua shalat tersebut. Oleh karena itu, dengan menjaga dua shalat tersebut, seseorang diharapkan masuk surga dan kemudian melihat wajah Allah Ta’ala di dalam surga.” </span><b>(</b><b><i>Fathul Baari, </i></b><b>4: 323)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut juga terdapat pelajaran bahwa melihat wajah Allah Ta’ala itu tidaklah dicapai dengan angan-angan semata. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 123)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, pahala melihat wajah Allah itu membutuhkan kesungguhan dan usaha yang besar untuk dapat meraihnya. Oleh karena itu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kemudian memberikan petunjuk adanya sebab untuk meraihnya, yaitu dengan menjaga pelaksanaan shalat subuh dan shalat ashar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat banyak dalil yang menunjukkan keutamaan dua shalat tersebut. Namun, kedua shalat ini justru terasa berat dikerjakan oleh mayoritas manusia. Siapa saja yang mendapat taufik dan pertolongan dari Allah Ta’ala untuk menjaga dua shalat tersebut, maka akan lebih mudah baginya menjaga shalat-shalat lainnya. Dan siapa saja yang Allah Ta’ala berikan pertolongan untuk bangun shalat subuh dan menjaga pelaksanaan shalat subuh, Allah Ta’ala akan tolong dia untuk menjaga shalat-shalat setelahnya di hari itu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah hubungan antara shalat dan pahala terbesar di surga, yaitu melihat wajah Allah Ta’ala. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57399-mengenal-nama-allah-ash-shamad.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Nama Allah “Ash-Shamad”</a></span></strong></li>
<li><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57397-penjagaan-allah-kepada-hamba-nya.html" data-darkreader-inline-color="">Penjagaan Allah Kepada Hamba-Nya</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Kasongan, 2 Shafar 1442/ 19 September 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Ta’zhiim Ash-Shalaat </i></b><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 42-45, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</span></p>
<p> </p>
 